
Setelah satu bulan menunggu, Akhir nya pengumuman pun keluar, dan Puspita bersama Heru membuka pesan masuk yang secara online.
" Sudah siap? "
" Saya deg - deg an Kak."
" Apapun itu hasil nya, kamu siap kan? "
" Iya kak, Saya siap. Kalau tahun sekarang bukan rezeki Saya, insya Allah tahun depan semoga itu rezeki saya."
" Kita klik ya kotak masuk nya."
" Jangan kak." Puspita memegang punggung tangan Heru.
" Kenapa? "
" Deg - deg an."
" Apapun hasil nya, kamu sudah berusaha."
Puspita memejamkan mata nya, dan Heru membimbing tangan Puspita untuk meng klik pesan masuk. Tangan Puspita dan Heru pun meng klik kotak masuk tersebut, dan Heru menatap ke arah Puspita.
" Nggak lolos ya kak? " Tanya Puspita sambil sedikit membuka mata nya.
" Nggak tahu, kakak juga nggak berani lihat." Jawab Heru.
Puspita pun terasa sedikit lemas, perlahan melirik ke layar Laptop nya dan terlihat sebuah tulisan yang membuat mata Puspita terbelak sempurna.
" Kak..!!! "
Heru melirik ke arah layar monitor, dan terlihat tulisan yang membuat mata mereka membulat sempurna.
" Alhamdulilah... kakak....!!! " Puspita langsung memeluk tubuh Heru, dan membuat Heru sangat terkejut.
" akh.. maaf kak, maaf terlalu bahagia."
" Selamat ya, akhirnya jadi Abdi Negara juga."
" Terima kasih Kak, rasa nya nggak bisa di ungkapkan dengan kata - Kata kak."
Heru diam dan menatap ke arah Puspita, yang masih menatap ke layar monitor.
" Apa setelah kamu disana nanti, kita masih bisa seperti ini."
" Jelas, kenapa? " ucap Puspita.
" Sebelum berangkat, kakak ungkapkan hati ini yang sekian kalinya. Mau kah hubungan kita lebih dari sekedar teman."
Puspita diam, dan menatap lekat kedua mata Heru, begitu juga Heru menatap kedua mata Puspita.
" Kak."
" Kakak mohon, jangan kamu anggap semua pria itu sama. Kakak serius sama kamu, kalau kamu siap sebelum kamu berangkat mau kan kita tunangan dulu."
" Saya takut kak."
Heru menggenggam kedua tangan Puspita, dengan terus memandang wajah nya.
" Kakak mencintai kamu, dari dulu kakak sangat mencintai kamu. Mungkin cara Kakak mencintai kamu sangat berbeda, tapi inilah pria yang di depan kamu, yang hanya seperti memberikan sebuah harapan, tapi dari Sisi lain hati ini sangat serius untuk menjalankan hubungan yang serius."
" Kakak mau menunggu beberapa waktu dulu."
__ADS_1
" Kakak, mau bila perlu kakak akan mengurus ikut kamu Mutasi kesana."
" Kapan Kakak akan melamar saya? "
" Kamu yakin, menerima Kakak? " Tanya Heru dengan raut wajah bahagia.
" Puspita menerima cinta Kak Heru." Jawab Puspita.
" Sebelum berangkat Kakak akan melamar kamu. "
******
Acara lamaran pun di adakan sederhana hanya keluarga Puspita dan keluarga Heru, cincin pun di sematkan di jari manis Puspita, senyum mengembang antara Heru dan Puspita terpancar.
" Alhamdulilah, akhir nya kalian sudah terlihat, Ayah sama Ibu ingin segera kalian menikah." Ucap Pak Rudi.
" Saya juga sebagai Papah nya Puspita, sangat berterima kasih, ada yang ingin serius sama anak saya. Dan semoga ini yang terakhir, dan lancar." Ucap Pak Anton.
" Amin...!!! " Jawab semua orang yang hadir menyaksikan acara lamaran Puspita dan Heru.
*****
" Kamu yakin nggak mau di antar? " Tanya Heru.
" Nggak usah kak, Puspita sudah tahu dan masih ingat jalan nya kok." Jawab Puspita.
" Besok jam berapa pesawatnya? "
" Jam 8 pagi."
" Kakak antar sampai bandara, kalau kamu nggak ingin di antar sampai sana."
" Iya sayang."
" Sayang."
" Sekali lagi."
" Sayang....!!! "
" Makasih cinta." Ucap Heru sambil mengusap kepala Puspita.
******
Heru pun mengantar Puspita sampai Bandara, rasa tak rela melepaskan Puspita pun sangat berat, begitu pun juga Puspita yang harus berpisah dengan Heru.
" Jangan lupa kasih kabar, nanti kalau kakak ada waktu akan kesana."
" Kakak juga jangan lupa kasih Kabar, kalau saya nggak kasih kabar. Awas kalau selingkuh."
" Hahahaha... lucu kamu, kakak nggak akan selingkuh."
Suara panggilan untuk pesawat yang akan Puspita naiki telah siap, Puspita pun dengan segera menarik kopernya.
" Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai."
Puspita melambaikan tangan nya, dan Heru pun melambaikan tangan nya.
Buuggh..
Heru terdorong kesamping saat seorang pria dengan hoddie hitam, masker dan kacamata serta topi yang di kenakan nya.
__ADS_1
" Maaf...!!! " Ucap nya dengan menarik kopernya, berlalu begitu saja.
Heru hanya memandang kesal pria yang menabraknya, tanpa menoleh dan hanya kata maaf.
****
Puspita pun telah duduk di dalam pesawat, lalu duduk lah seorang pria, dan kacamata hitam, masker, dengan menggunakan hoddie hitam.
Puspita pun tampak biasa saja, namun sangat pria di balik kacamata hitam nya terus memandangi Puspita.
" Kamu hati - hati disana, seseorang tahu siapa kamu, Jaga diri kamu, dan rebut kembali apa yang harus kamu miliki karena semuanya belum terlambat."
Puspita menoleh ke arah pria yang duduk di samping nya, dan dengan meneliti seksama siapa yang duduk di samping nya.
" Kamu siapa? "
" Tak perlu tahu siapa saya, yang jelas saya tahu siapa kamu." Pria tersebut lalu berdiri dari tempat duduk yang berada di samping Puspita, dan berganti dengan orang lain.
" Apa sih maksudnya." Ucap Puspita pelan.
*******
Hujan pun mengguyur desa terpencil dimana Puspita tugas, dirinya telah sampai di rumah dimana pertama kali singgah. Namun saat tiba lampu telah padam, dan tak ada penerangan.
Jeeedddeeerr...
Aaarrghhhh
Puspita memegang kedua telinganya saat terdengar suara petir, seketika tubuh Puspita gemetar dan merasakan sesak hingga nafas telah berhenti di tenggorokan.
" To- tolong." Tubuh Puspita meringkuk di sudut ruangan, dengan tubuh yang sudah basah karena keringat.
Bayangan masa kecil, saat melihat kedua orang tua nya bertengkar saat hujan mengguyur dan lampu padam, Puspita menutup telinganya mengingat pertengkaran hebat kedua orang tua nya sehingga menimbulkan trauma buatnya.
Hiks.. hiks... hiks...
" To - tolong keluarkan saya dari situasi gelap ini, tolong...saya takut...saya takut..hiks..hiks..!!! "
Bruuugghhh...
Braaakkk...
Pintu pun terbuka, seorang pria pun masuk ke rumah Puspita dan mengangkat tubuh Puspita ke atas tempat tidur.
" Saya nggak menyangka kamu memiliki trauma healing, begitu banyak beban kamu, begitu banyak rasa trauma di tubuh kamu. "
*****
Puspita terbangun saat sadar dirinya sudah berada di atas tempat tidur, dan terlihat sebuah lilin yang masih menyala di atas nakas.
" Siapa yang menolong saya, siapa yang menyalakan lilin." Puspita pun lalu turun, dan berjalan keluar dari kamarnya dan terlihat pintu pun tertutup.
" Siapa yang masuk ke rumah saya."
Tok... tok.. tok...
Puspita pun membuka pintu nya dan ternyata Pak Willy yang sudah rapih mengenakan seragam Dinasnya sebagai kepala Desa.
" Bapak." Sapa Puspita.
" Maaf Bu Puspita, tadi Bapak kedatangan seorang pria, nggak tahu siapa karena mengenakan masker, dia hanya memberikan obat ini untuk Bu Puspita."
__ADS_1
Puspita menerima obat yang berada dalam botol, dan Puspita terkejut saat tahu obat untuk apa.
" Siapa yang tahu saya memiliki Trauma Healing? "