
" Awas....!!! "
Door..
Door..
4 kali selang beberapa menit, 4 nyawa sekaligus puspita tembak, tubuh nya kembali gemetar, saat dari arah belakang musuh datang.
Galih memejamkan mata nya, jantungnya terasa ingin copot. Puspita pun lalu, kembali menuju ke arah Galih, Pak Willy dan Gladis.
Tali pun satu persatu di lepas oleh Puspita, dengan tangan yang gemetar. Galih yang melihat saat melepaskan tali, terlihat Puspita sangat shock.
Galih langsung memeluk tubuh istrinya yang gemetar, Di cium lama pucuk kepala nya, hingga membuat Gladis menatap heran.
" Bodoh, kenapa hal berbahaya Ini kamu lakukan."
Namun saat sedang berpelukan, Galih melihat ujung senapan yang mengarah pada punggung Puspita.
" Awas.....!!!
Door..
Aaarrgghhh
Door..
Door.
Buuuggh..
Tubuh Robby pun tumbang, saat akan mencoba menembakkan. Puspita melihat musuh tumbang di belakang, terlihat Para Tentara membantu menolong Pria dan wanita di samping nya, dan beberapa Tentara lain nya membereskan musuh yang sudah menjadi mayat.
Cengkraman jemari yang kuat membuat Puspita beralih pada Galih, keringat besar dan kecil pun keluar semua.
" Istri siapa sih yang berani seperti ini? " Tanya Galih dengan suara pelan.
" Istri Letda Galih Heksa. " Jawab Puspita.
Galih tersenyum ke arah Puspita, dan mengeratkan peluk kan nya.
Uhuk.. uhuk...
" Jangan lagi - lagi kamu pegang senjata itu, jangan lagi - lagi kamu kotori tangan kamu." Ucap Galih dengan suara yang melemah.
Uhuk.... uhuk...
Puspita melihat tangan nya penuh darah, dan melepaskan peluk kan nya, terlihat Galih yang sudah memucat yang masih tersenyum ke arah nya.
" Mas..!! "
Galih tersenyum ke arah Puspita, lalu tubuh Galih pun ambruk tepat di tubuh Puspita.
" Bantuan medis, terjadi luka tembak pada korban."
Puspita pun menangis saat melihat tubuh Galih tak berdaya, dia melihat tubuh suami nya di angkat di atas blankar dengan luka tembak di punggung nya.
******
__ADS_1
Puspita duduk di samping tempat tidur Galih, dimana setelah operasi langsung di bawa ke kamar rawat.
Galih yang masih memejamkan mata nya, terlihat Puspita menangis. Dan di ruangan tersebut sudah ada Kemal, Dito, Aril dan Saeful.
" Sudah mba jangan menangis terus, Bang Galih baik - baik saja, dia itu kuat sering terkena tembakkan. Lihat saja tubuh nya yang penuh luka sayatan. " Ucap Saeful.
Hiks... hiks.... hiks...
" Suami saya baik - baik saja kan, hiks... hiks... "
" Bang Galih kuat, luka tembak tidak seberapa sakit nya di banding sakit menyimpan rasa pada wanita yang sekarang ada di samping nya." Ucap Dito.
Seketika tangis Puspita terhenti, dan dengan segera menghapus air mata nya.
" Benarkah sesakit itukah?"
Galih membuka mata nya terlihat beberapa teman - teman nya berada di kamar rawat nya, dan terlihat istrinya pun duduk di samping tempat tidur nya.
Galih menatap teman - teman nya seakan memberikan kode, lalu teman - teman nya pun meninggalkan mereka berdua.
" Jangan lupa kasih penjelasan buat wanita yang di depan kamu tiba - tiba menjadi Tom Ryder. " Ucap Kemal lalu menutup pintu.
" Yank, kok nggak bilang mau kesini? " Tanya Galih.
" Kan kejutan, eh sampai sini di kasih kejutan kayak gini." Jawab Puspita.
" Kenapa berani masuk sarang macan?"
" Aslinya nggak boleh masuk, saat itu di tahan di perbatasan masuk kampung ini, tapi lihat video yang terekam drone Mas seperti itu, lalu ada senjata di samping saya langsung saya ambil untuk menolong Mas."
" Tembakkan nya hebat, langsung di berondong habis. "
" Lagi - lagi jangan di ulangi, jangan lakukan itu sangat berbahaya, kalau kamu tertembak bagaimana? "
" Maaf, habis nya saat itu marah sama mereka. Masa istri diam saja melihat suami nya di aniaya. "
" Iya tapi ini kan, yang di hadapi bukan pertengkaran atau perkelahian Ibu - ibu yang sedang panasan."
******
" Perbannya sudah di ganti ya Pak, jangan lupa obatnya di minum. " Ucap Perawat setelah selesai mengganti perban yang menutupi luka tembak.
" Terima kasih. " Ucap Galih.
" Makan dulu ya nanti minum obat." Ucap Puspita sambil mengambil piring yang berisi nasi dan lauk.
" Suapin ya. " Ucap Galih sambil menaik turun kan alisnya.
" Iya. " Ucap Singkat Puspita.
Puspita pun menyuapi Galih, saat sedang di suapi Galih terus menatap wajah Puspita hingga si pemilik Wajah memerah seketika.
" Kenapa sih? "
" Makin hari makin cantik, dan itu makin padat saja." Ucap Galih sambil mata nya tertuju tepat di dada Puspita.
" Ish.. mesum."
__ADS_1
Hahahahaha....
" Sama istri lah, suami nggak di isi daya hampir sebulan lebih."
" Disini sampai kapan?"
" Sampai urusan kita disini selesai, 3 bulan lagi ajaran baru, mungkin sampai ajaran baru masuk seminggu lagi pulang."
" Ok lah, yang penting beberapa bulan ke depan ada yang ngurusin."
" Jadi yang baik - baik ya sama istri, kalau nggak baik nanti istrinya cepat pulang ke tempat asal."
" Jangan dong."
******
Setelah satu minggu di rawat, Galih pun pulang bersama Puspita. Dan terlihat rumah Pak Willy sudah tampak rapi dan seperti saat sebelum terjadi kerusuhan. Begitu pun dengan suasananya seperti tak terjadi apa - apa.
" Kenapa berhenti? " Tanya Galih saat Puspita menghentikan langkahnya.
Puspita menatap ke arah rumah Pak Willy dimana dia teringat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
" Sudah jangan di ingat, lama - lama trauma kamu akan hilang, seperti trauma takut gelap nya kamu dulu bisa di atasi."
" Membayangkan suami Saya di saat medan perang, dengan luka yang terlihat di tubuh pasti terasa berat menahan sakit nya. "
" Sakit ini tak ada banding nya, bila harus kehilangan orang yang di sayangi."
******
" Yank, ini yang mau di paketin ke jawa? "
" Iya, itu yang buat di paketin ke Jawa."
" Papah sudah kasih kabar lagi belum? "
" Kemarin saja, kita selesai kan urusan pernikahan kita, sebelum kamu kembali pulang." Ucap Galih sambil memeluk tubuh Puspita dari belakang.
" Mas, wanita yang di samping itu siapa, yang berlindung di belakang Mas saat penjahat mengarahkan senjata nya? "
" Oh.. itu Gladis, bidan desa sini. Dia tinggal disini juga."
" Oh.. soalnya terlihat akrab sama Mas, disaat genting juga berlindung nya ke Mas Galih."
Tok... Tok... tok...
" Mas ada tamu."
" Mas buka dulu, barangkali teman - teman katanya mereka mau kesini. "
Galih pun berjalan ke arah pintu dan membuka nya, tampak senyuman seorang wanita membawa sebuah buah dan bucket bunga.
" Gladis..!!! "
" Hi.. bagaimana keadaan kamu? "
" Siapa Mas yang datang. " Puspita menghampiri Galih yang berdiri di depan pintu dan terlihat seorang wanita berdiri di depan pintu sambil membawa keranjang berisi buah dan bucket bunga.
__ADS_1
" Ini kan yang tadi di ceritakan sama Mas."
" Kenalkan Saya Gladis, Saya adalah man.. "