
" Apa - apa an kamu hah...!!! " Heru menarik krah seragam Galih saat mendengar apa yang di ucapkan Galih.
" Kamu pikir, ini sebuah hubungan permainan apa." Bentak Heru.
" Kami masih saling mencintai, dan kami mengakuinya."
" Kami akan segera menikah, apakah itu yang dinamakan masih mencintai." Ucap Heru.
" Kamu mungkin sedang di permainkan." Ucap Galih.
" Pede sekali kamu, seharusnya kamu berfikir , kamu memiliki seorang anak, bagaimana bila suatu saat nanti di khianati oleh pasang an nya, dan kamu nggak menghargai hati istri kamu."
" Saya menginginkan itu karena kondisi Puspita yang seperti ini, dan saat jantung itu berhenti saya mengucapkan untuk menjalani kesempatan kedua itu, Puspita kembali berdetak jantung nya. "
" Saya nggak percaya, dan ini bukan ide orang waras." Ucap Heru melepaskan krah nya.
Dari jauh Galuh menatap Galih, dirinya lalu memutar tubuh nya untuk kembali ke persembunyiannya.
" Kenapa jadi seperti ini." Ucap Galih sambil melangkahkan kakinya.
*******
3 hari sudah Puspita belum sadarkan diri, kini Puspita telah di pindah ke kamar Rawat, dimana keluarga bergantian berjaga.
Heru menatap wajah kekasihnya yang kini masih setia terpejam.
" Sayang bangun, kamu dengar kakak kan." Ucap Heru sambil mengecup kening Puspita sangat lama.
Heru menggenggam tangan Puspita, hingga Heru pun duduk di kursi samping ranjang Puspita dengan menggenggam sangat erat.
Sedangkan di balik pintu, Galih mengintip apa yang ada di dalam. Hati nya merasa nelangsa antara sedih dan rasa tak rela.
" Kenapa Saya harus merasakan sesuatu disaat seperti ini, ini sebuah kesalahan besar."
*******
Galih mencari pakaian yang akan di pakai nya, pakaian favorite nya bila saat libur Dinas. Saat memilih pakaian yang tertumpuk rapih di sebuah lemari, Galih menemukan sesuatu sebuah pisau lipat.
" Rena kenapa menyimpan pisau seperti ini di lemari?" Galih mengambil pisau tersebut dan membawa nya ke luar kamarnya.
" Yank, ini punya kamu? "
Rena yang sedang duduk bersama Bagas dan Panji menatap ke arah pisau lipat yang di pegang nya.
" Iya, itu mau di buang tadi nya, sudah nggak ke pakai."
__ADS_1
" Yaudah Mas buang."
" Biar Rena yang buang Mas."
" Mas saja, nanti kamu lupa lagi."
" Nggak mas, biar Rena yang buang ya." Ucap Rena sambil membuka telapak tangan nya.
Galih pun lalu memberikan pisau lipat pada Rena yang dia temukan di dalam lemari.
Dengan senyum kecut dan tatapan tajam ke arah Galih yang sudah berjalan memunggunginya.
*******
" Bagaimana keadaan Puspita? " Tanya Kemal saat berada di ruangan Galih.
" Belum sadar juga." Jawab Galih.
" Sudah hampir seminggu."
" Padahal dia sudah melewati masa kritisnya."
" Kamu selalu kesana, katanya kemarin Papah nya memukul kamu? "
" Orang tua mana yang nggak kecewa dan sakit hati, memang semua itu salah saya."
" Kata maaf yang Saya ucapkan, dan meminta ijin untuk di berikan kesempatan kita menjalin hubungan kembali sebelum kita memang benar sama - sama berpisah untuk selama nya."
" Hah... ide apa itu, gila bilang seperti itu. Mana ada orang yang mau, mendengarkan omongan seperti itu. Otak kamu sudah konslet."
" Tapi ini fakta, saat jantung Puspita berhenti berdetak saat Saya bilang akan menjalani kesempatan kedua itu, jantung nya kembali berdetak, itu bahasa tubuh nya juga merespon."
" Kamu nggak mikir perasaan Rena, kamu benar - benar akan menjadi pria brengsek."
" Inilah perasaan Saya saat ini, mulut memang bilang untuk melupakan tapi saat sebuah ujian datang Saya nggak bisa."
******
Langkah mengendap saat ruangan kamar Puspita tak ada yang menjaga, seseorang dengan pakaian serba hitam mendekati ke arah ranjang yang dimana Puspita terbaring dengan berbagai alat yang di pasang nya.
" Kamu masih selamat, Saya kira kamu langsung berakhir di tempat. Sungguh mukjizat kamu masih bisa selamat dari sebuah kecelakaan maut itu."
Senyum seringai keluar dari balik masker nya, yang menutupi sebagian wajahnya. Tangan itu memegang selang oksigen dan berbagai alat yang ada di tubuh Puspita.
" Kamu harus berakhir sekarang, lebih baik berakhir seperti ini nggak sakit, dari para nanti kamu harus berakhir dengan bermandi kan darah itu sangat sakit. "
__ADS_1
Satu persatu alat yang ada di tubuh Puspita pun telah di cabut, dan terakhir mencabut selang oksigen yang terpasang.
Tiiit... tiiit.... tiiit...
Tubuh Puspita mengejang, mata nya terbuka terlihat putih kedua bola mata Puspita. Di balik masker tersebut, ada sebuah senyuman kemenangan.
Kreeek..
Sebuah pintu terbuka, tatapan mata pun saling pandang terlihat Heru menatap kaget saat orang asing berada di kamar rawat Puspita.
" Siapa kamu." Bentak Heru.
Dengan sigap, untuk menghindar tubuh Heru dia dorong hingga terjatuh di sofa.
" Hey kamu...!!! " Heru ingin mengejar namun melihat kondisi Puspita yang semakin menurun, dan saat bersamaan pria mengenakan Hoodie hitam melirik sekilas kedalam kamar lalu berlari mengejar nya.
Heru dengan panik langsung memanggil Dokter dan perawat.
Aksi kejar - kejaran terjadi, dimana sosok serba hitam saling mengejar.
" Berhenti kamu, atau Saya tembak kamu."
Sosok yang di kejar pun berhenti tepat di tempat yang sepi, dan berbalik ke arah sosok yang telah mengancamnya.
Masker yang dia kejar pun di bukanya, dan menampilkan senyum kecut dan wajah yang penuh amarah.
" Apa kabar Mas? " Sapa Rena saat mengetahui dari suaranya adalah Galuh yang mengejarnya.
" Sungguh nggak manusiawi kamu, menyerah lah dan mengaku kalau kamu penjahat yang selama ini bersembunyi di bawah selimut suami kamu. "
" Hahahahaha... sampai sekarang dia belum tahu, sebelum dia tahu Saya akan habisi kamu dan perempuan itu."
" Saya berharap Galih akan cepat tahu."
Galuh berjalan mendekati Rena, dengan pistol yang siap dia tembakkan di tubuh Rena.
" Kamu tahu rasanya mati dengan di paksa, sakit sekali rasanya. Kamu tahu, luka yang kamu gores di mulut aku, sakit rasanya. Wajah tampan Saya sudah tak terlihat kembali. Dan kamu meracuni Saya dengan gas beracun, dan akan bakar Saya hidup - hidup, sayang kedua orang yang kamu ingin habisi masih di berikan kesempatan hidup."
Rena menodongkan pisau nya ke arah Galuh, begitu pun juga Galuh menodongkan senjatanya ke arah Rena tepat di dadanya.
" Kamu tahu, Saya menyesal tidur dengan kamu hingga Saya hamil, kamu tahu dari dulu Saya menginginkan saudara kembar kamu, tapi nyatanya yang masuk perangkap itu kamu, dan kamu harus tahu Saya tidak rela Galih bersama Puspita karena Galih hanya milik Saya. Dan kamu harus tahu juga, apa pun yang Saya ingin kan, harus bisa Saya miliki walau dengan menghabisi nyawa seseorang."
" Sungguh kamu bukan manusia tapi kamu berhati iblis."
Jleb
__ADS_1
Door..