
Kaos yang di pakai Galih kinih bersimbah darah, tubuh Puspita dari ujung kepala hingga kaki penuh darah.
Di dalam ambulance yang membawa Puspita, Galih terus memegang tangan Puspita, alat bantu pernapasan pun terpasang.
" Kamu harus kuat. " Ucap Galih pelan.
Mobile ambulance pun telah sampai di rumah sakit, perawat pun dengan segera membawa Puspita ke IGD. Dokter dan Para perawat pun membantu menangani Puspita yang tak sadarkan diri.
" Tulang bagian belakang patah, sekujur tubuh luka parah.Kita harus segera melakukan operasi. Dan butuh beberapa kantung darah, karena korban telah kehabisan banyak darah." Ucap Dokter pada beberapa perawat yang membantu nya.
" Bagaimana? " Tanya Galih.
" Pak pasien akan di operasi, kami meminta ijin untuk meminta tanda tangan dari keluarga korban. " Jawab salah satu perawat .
" Dia disini tinggal sendiri, biar saya yang tanda tangan karena saya teman nya."
" Baik Pak, silahkan ke bagian administrasi."
****
Galih duduk di depan ruang kamar operasi begitu pun dengan Pak Willy yang di kabari oleh Galih. Kemal dan Dito pun berada di rumah sakit, saat mengetahui kabar bahwa Puspita kecelakaan.
" Sopir truk itu bagaimana? " Tanya Galih.
" Meninggal dunia, dan sudah di bawa sama pihak keluarga. Tapi.. " Jawab Pak Willy yang terhenti membuat Galih menatap ke arah Pak Willy.
" Polisi merasakan janggal pada kecelakaan ini, adalah unsur yang kesengajaan. Di lihat dari mobil tak ada bukti truk itu rusak, dan menurut saksi truk yang tiba - tiba bergerak kencang."
" Truk itu bergerak dari arah belakang Puspita, saya tahu saat itu ada disana memang truk dari arah berlawanan dengan saya pelan saat dekat tiba - tiba bergerak kencang."
" Jangan - jangan ini sesuatu yang di rencanakan, sebelum nya istri Abang juga ada yang ingin mencoba mengakhiri hidup nya." Ucap Dito.
" Lantas siapa yang sedang menjadi incaran orang itu? " Ucap Galih.
*****
Galuh berlari di lorong rumah sakit saat mengetahui tentang Puspita kecelakaan, namun langkahnya terhenti di jarak 3 meter saat melihat Galih berada disana.
" Ini pasti ulah Rena, kamu harus tanggung jawab Rena."
Beberapa Dokter dan perawat berlari ke arah ruang operasi, terlihat wajah panik Galih dari jauh.
" Sus, kondisi pasien yang berada di ruang operasi bagaimana? "
" Anda siapa? "
" Saya teman nya baru datang."
" Kondisi pasien lemah, banyak mengeluarkan darah, dan harapan nya tipis untuk selamat."
" Apakah darah yang di butuh kan masih banyak? "
__ADS_1
" Iya, karena pasien terus mengeluarkan darah."
" Darah dia apa? "
" Golongan darah A."
" Ambil darah saya yang banyak, bila perlu salah satu organ tubuh saya juga nggak apa bila di butuhkan."
" Baik Pak, ikut saya untuk di cek dulu."
Galih terduduk lemas saat tahu Puspita kondisi nya menutup, karena darah yang tak bisa di hentikan. Apalagi bagian kepala yang terhantam sangat keras begitu pun punggung yang patah akibat sedikit terjepit ban truk.
" Tolong masih kurang beberapa labu." Teriak Perawat berlari ke luar.
Lalu terlihat perawat membawa kantung darah memasuki kembali ke ruang operasi.
" Ya Allah selamatkan Puspita." Ucap Galih.
" Pak Galih apakah sudah menghubungi keluarga nya? "
" Saya bingung akan kasih kabar bagaimana."
" Mereka harus tahu, walau pasti akan kaget." Ucap Pak Willy.
" Tolong Pak hubungi nomer ini, minta kirim nomer Tante nya, Saya nggak kuat bicara Pak." Ucap Galih sambil menyerahkan ponsel nya pada Pak Willy."
******
" Papah....!!! " Teriak histeris Tante Tini saat menerima kabar tentang Puspita.
" Puspita kecelakaan, sekarang masih di ruang operasi." Jawab Tante Tini.
" Inalillahi, sudah kasih tahu Mas Anto?"
" Belum pah, malah nggak kuat."
" Tante om..!!! " Heru masuk begitu saja kedalam rumah Tante Tini.
" Heru hiks... hiks... "
" Kamu sudah tahu kabar? " Tanya Om Waluyo.
" Fatimah menelepon saya." Jawab Heru.
" Puspita kecelakaan."
" Saya akan berangkat kesana sekarang."
" Tante ikut."
" Kita berangkat sama - sama, ajak Papahnya."
__ADS_1
" Kamu sudah kasih kabar Lia? " Tanya Tante Tini.
" Mamah Lia sudah di kasih tahu, dia akan berangkat bersama suami nya."
******
Operasi yang hampir 4 jam belum juga selesai, hingga membuat yang menunggu di luar sangat khawatir.
" Galih, kamu pulang lihat lah pakaian kamu penuh darah."
" Saya nggak mau pergi meninggal kan dia yang sekarang sedang berjuang."
" Lihat ponsel kamu, Rena menelepon kamu."
Galih hampir lupa, dia telah mengabaikan Rena dan tidak memberi tahu nya.
" Halo." Galih mengangkat ponsel nya.
" Kemana saja Mas, Saya coba hubungi kamu tapi nggak ada respon." Ucap Rena dari seberang.
" Maaf, ada sesuatu hal nanti Mas bicara di rumah. Saat ini jangan telepon Mas dulu, maaf Rena."
" Baiklah, mas harus cerita nanti saat sampai di rumah."
Galih pun mematikan ponselnya, dan memejamkan mata nya sambil kepalanya bersandar di tembok.
" Puspita kamu harus kuat, sakit hati ini saat tahu kamu di dalam sana sedang berjuang."
****
Pendarahan berhasil di atasi, beberapa Dokter yang menangani tubuh Puspita dengan kasus yang berbeda, Dokter bedah saraf, ortopedi, dan Dokter bedah Umum.
" Tulang panggul remuk." Ucap Dokter Ortopedi.
" Kondisi pasien tidak memungkin kan, melihat keadaan nya seperti ini kita tidak bisa melaksanakan operasi bersamaan." Ucap Dokter bedah Umum.
" Kondisi semakin menurun, walau pendarahan sudah bisa di atasi."
" Dokter detak jantung melemah." Ucap salah satu suster.
" Hanya keajaiban."
" Dokter semakin melemah."
Di layar EKG terlihat jelas, jantung Puspita semakin melemah , Dokter pun terus berusaha untuk mengatasinya.
Tiiiiiitttt
Layar EKG menunjukkan tanda lurus, para Dokter pun menundukkan kepala dan telah mengeluarkan waktu kematian.
" Pukul 15.00 pasien meninggal dunia."
__ADS_1
Alat pun telah langsung di lepas, tubuh yang tampak pucat pun kini telah tertutup Kain putih.
Pintu kamar operasi pun terbuka, Galih, Pak Willy, Dito dan kemal menatap tak percaya sebuah blankar keluar dari ruang operasi dengan terbaring tubuh yang tertutup rapat oleh selimut putih.