
" Kak saya nangis ya." Ucap Puspita sambil mengusap kedua mata nya karena basah air Mata.
" Kamu mimpi buruk? " Tanya Heru.
" Nggak tahu mimpi apa, rasa nya dada ini masih sesak, dan seperti ada rasa yang hilang entah apa itu." Jawab Puspita.
" Kalau kondisi kamu sudah pulih kita Pulang ke Jawa, Kakak akan usahakan kepulangan kamu dengan kondisi seperti ini, dan Kakak akan urus berkas cuti kamu, sekalian tanya tentang proses mutasi sudah bisa atau belum dengan melihat kondisi seperti ini."
" Untuk Mutasi seperti nya belum bisa, untuk cuti bisa tapi kondisi saya seperti ini kak, apakah bisa melakukan perjalanan Jauh. "
" Kamu hampir kehilangan nyawa 2 kali, dan apa kamu mau menatap disini?" Ucap Heru.
" Kalau mau, kita nikah sekarang, kakak akan urus mutasi kemari." Ucap Heru kembali.
" Kak, untuk menikah sekarang apa kakak mau punya istri tak bisa mengurus suami, apa kakak mau kebutuhan lahir batin kakak tak terpenuhi?"
" Kakak nggak ingin, orang yang Kakak cintai dan sudah kakak dapatkan pergi lagi."
Puspita meraih tangan Heru, lalu mencium punggung tangan nya.
" Tunggu saya sembuh kak, saya nggak mau terbaring seperti ini saat status sudah menjadi istri Kakak."
" Kenapa? "
"Itu alasannya."
" Berkas pernikahan kita sedang di urus, kamu ingin menundanya? "
" Tolonglah Kak, saya nggak mau jadi istri yang tak berdaya dan terbaring lemah seperti ini."
Heru menarik nafasnya, dan mengepalkan salah satu tangan nya yang tak terlihat oleh Puspita.
" Baik, Kakak akan menunggu kamu untuk sembuh dulu."
******
" Galuh... " Ucap Ibu Eva
" Mamah... "
Galuh memeluk tubuh Mamah nya, saat mengetahui kabar dari Alexa bahwa Galuh masih hidup, dan semua nya karena Rena.
" Hiks.. hiks... sayang, Mamah nggak menyangka Rena di balik ini semua nya."
" Galuh kembali Mah, Galuh sekarang berada di tengah - tengah kalian kembali."
Pak Anwar pun mendekati Galuh, lalu memeluk putra nya yang hampir 5 tahun tak bertemu dan di nyatakan meninggal dunia.
" Papah Kangen kamu nak." Ucap Pak Anwar memeluk tubuh Galuh.
Ibu Amel pun memeluk tubuh Galuh, ibu tiri yang sudah di anggap sebagai anak kandungnya sendiri, sejak kecil saat pertama kali bertemu Galuh, Ibu Amel sudah sangat menyayanginya.
" Mamah..!! "
" Sayang, Alhamdulillah kamu selamat sayang."
" Kalau nggak ada Alexa, nyawa Galuh sudah tidak tertolong. "
Kedua orang tua dan Ibu sambungnya Galuh langsung terbang ke wilayah Timur saat mendapatkan kabar tentang tertembaknya Galih dan Galuh masih hidup.
****
" Jadi Puspita meminta menunda pernikahan? " Tanya Tante Tini.
" Iya Tante karena kondisi nya." Jawab Heru.
" Ya sudah, Tante juga ada nggak setujunya kalau kalian tetap melangsungkan pernikahan, soalnya baru saja kena musibah."
" Tante sebenarnya saya takut."
" Takut kenapa?"
" Saat Puspita tidur, dia mengigau memanggil nama Galih, dia masih mencintai Galih. Saya takut Tante, takut kehilangan dia. Mereka masih saling mencintai."
" Kenapa takut, semua nya nggak mungkin terjadi, dia masih memiliki seorang istri."
" Bisa saja Tante, kalau sudah saling cinta."
******
__ADS_1
" 1,2,3," Ucap Dokter yang menangani Galih dengan menempelkan alat pacu jantung.
" 1,2,3"
Dokter terus melakukan tindakan dengan terus menempelkan alat pacu Jantung, berkali - kali.
" Dokter, pasien sudah tak bisa di selamatkan." Ucap Dokter.
" Waktu meninggal menunjuk kan pukul 22.00." Ucap Dokter kembali.
" Mas... ayo kejar...!!!
" Ayo mas... sini..!! "
" Jangan lari yank, mas nggak bisa kejar kamu."
" Ayo mas... sini... "
Uhuk... uhuk.. uhuk
Mata yang terpejam kembali membuka mata nya, semua terkejut saat Galih tiba - tiba sadar kembali.
Dokter pun lalu memeriksa kondisi tubuh Galih, denyut nadinya kembali normal.
******
Galih Pun telah di pindahkan di kamar rawat inap, setelah pasca operasi tubuh nya masih sedikit lemah dan sempat kembali koma beberapa hari.
" Jenazah Rena sudah di kebumikan di jawa, Panji dan Bagas ada sama Papah dan Mamah Amel" Ucap Galuh.
" Kapan kamu bertemu mereka?
" Mereka ada disini."
" Mamah sudah tahu? "
" Mamah kita sudah tahu, mamah nggak bisa lama - lama, karena Mamah merasa selalu tidak nyaman dengan Mamah Amel.
" Kita satu rumah sakit dengan Puspita? "
" Iya, kemarin Saya lihat dia sudah siuman."
" Belum, karena mengurus Jenazah Rena dan memberikan keterangan mengenai pembunuhan pembantu kamu. Semua sudah di atasi, mengenai keluarga Bi Ratih."
" Hidup kita hancur hanya karena satu wanita, dan kita memiliki anak dari wanita yang sama."
*******
" Mas Galuh." Sapa Puspita.
" Bagaimana kabarnya?"
" Kondisi Saya seperti ini Mas, sudah nggak bisa apa - apa, dan kalau kondisi Saya bisa di bawa Pulang ke jawa, Saya akan Pulang kesana."
" Puspita, Rena meninggal dunia."
" Apa Mas? "
" Rena meninggal dunia, dia menembakkan dirinya di depan kamu berdua."
" Bagaimana ceritanya? "
" Saat kamu koma, Rena mencoba menghabisi kamu, dan kamu tahu di balik kecelakaan kamu adalah dia. Dan saat itu aksi dia di ketahui oleh Heru, lalu kami melakukan kejar - kejaran, saat itu Rena menusuk Saya, dan Saya menembak dia. Singkat cerita dia menembak pengasuh nya, lalu dia membawa kedua anak nya, memancing kami berdua datang. Saat itu Rena menembak Galih, dan saat itu pula Rena menembakkan kepalanya."
Puspita terdiam, dan memejamkan mata nya dengan meremas selimutnya.
" Kamu tahu, Galih sudah tahu semua nya."
" Kondisi Mas Galih bagaimana sekarang? "
" Dia masih lemah."
" Saya ingin melihat nya."
" Galih tidak mau bertemu sama kamu, dan dia titip pesan lupakan dia, anggap Galih tak pernah hadir di kehidupan kamu."
" Kenapa Mas Galih tidak mau bertemu sama Saya? "
" Dia tahu kamu pura - pura dekat dengan nya, Saya ceritakan kamu dekat hanya untuk membantu dia lepas dari Rena.Dan kamu tahu, Galih sangat terpukul saat kamu koma, bahkan saat kamu masih di ruang operasi dia rela tak Pulang, bahkan kaosnya bersimbah darah kamu, dia malah sampai memohon ijin sama Papah kamu dengan berlutut di hadapan Papah kamu, untuk mengabulkan permintaan menjalin hubungan seperti dulu lagi. Kamu harus tahu, Galih mencintai kamu rasa itu muncul saat kalian bertemu lagi."
__ADS_1
*******
Galuh mendorong blankar Puspita menuju ke kamar Galih, saat itu kedua orang tua Galih dan Galuh berada di dalam kamar bersama dengan kedua cucu mereka.
Galih menatap tubuh yang terbaring sedang menatap nya, namun Galih membuang muka nya.
" Saya kan bilang, tidak mau lagi melihatnya. Bila Saya melihatnya, rasa itu tak bisa Saya tahan lagi."
Galuh memberikan kode pada kedua orang tua nya untuk meninggalkan Galih bersama dengan Puspita.
" Bagas sama Ayah, cari es krim? "
" Ayo.."
Bagas pun sudah mulai terbiasa memanggil Galuh dengan sebutan Ayah, walau awal - awal tak mau.
" Mas."
" Kenapa kamu kemari, kamu kan sedang sakit."
" Maaf kan Saya, kalau ke pura - pura an Saya waktu itu, ternyata Mas membalasnya, dengan rasa yang dulu kembali."
" Lupakan Saya, bahagia lah kamu bersama dengan Heru, dia sangat mencintai kamu. Saya tahu kamu pun masih memiliki rasa yang sama, saat koma kamu terus memegang tangan Saya tak ingin lepas, saat Saya ingin berpamitan sama kamu untuk tak pernah lagi bertemu. Benar kan kamu juga masih mencintai Saya? "
" Salah, Saya tidak memiliki rasa itu."
" Bahasa tubuh kamu tidak bisa di bohongi, mulut bisa berbohong tapi tubuh kamu tidak."
" Saya akan Pulang ke jawa, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Saya doa kan semoga Mas bahagia selalu."
" Heru sangat mencintai kamu, jangan sakiti dia, kamu pantas menjadi istrinya. Semoga kamu bahagia bersama nya hingga kakek nenek. Cukup pertemuan ini yang terakhir, ini adalah pertemuan yang salah, kita tidak seharusnya bertemu dengan status yang seperti ini, kamu tunangan Heru, Saya suami orang bahkan kini berstatus duda, Saya tidak mau jadi orang ketiga."
Puspita menangis, berkali - kali mengusap air mata nya, isak tangis akhirnya pecah.
Hiks... hiks.. hiks..
" Kenapa kita di pertemukan lagi saat seperti ini, kenapa setiap bertemu sama Mas selalu perpisahan yang sakit. "
" Kamu jujur sama Mas, kamu juga masih mencintai Mas kan? "
Puspita terdiam, dan memalingkan wajah nya.
" Katakan jujur, bila kamu diam berarti kamu memang masih memiliki rasa." Ucap Galih kembali.
" Mas juga sama kan, Mas bilang belajar melupakan Saya , namun saat kita bertemu bahasa tubuh Mas tidak bisa di bohongi."
Galih memejamkan mata nya, sambil memegang perut yang masih terasa sakit.
" Saya masih memiliki rasa Cinta, kamu puas kan itu jawabannya."
" Kamu katakan bahwa kamu juga sama."
" Iya Saya masih mencintai Mas, tapi maaf ada hati yang tulus mencintai Saya. "
" Saya harap perpisahan ini untuk selama nya, Saya ingin kita tak lagi saling bertemu, dan jangan sampai ada yang tersakiti karena kita bersama lagi. Semoga kamu bahagia, pergilah."
" Galuh...!!! "
Galuh pun datang, dan melihat Puspita dengan Mata yang sembab, dan Galih memalingkan wajah nya.
" Bawa dia kembali ke kamar nya. " Ucap Galih.
Galuh pun lalu mendorong blankar milik Puspita untuk kembali ke kamar inap nya.
" Maaf kan Saya, dengan cara ini Mas lakukan, agar Mas tidak jadi orang ketiga, apalagi kamu pun masih memiliki rasa, Mas nggak ingin hubungan kalian berdua hancur." Ucap Galih dalam hati saat sambil memandang Galuh yang mendorong blankar yang di tiduri Puspita.
******
" Urus kepulangan Saya ke Jawa, Saya ingin di rawat di Sana saja, Pah Saya minta tolong Saya mau di obati di Sana saja. "
" Kamu yakin mau Pulang? "
" Iya, Saya yakin ingin Pulang dan cepat sembuh, bisa Dinas lagi dan urus Mutasi ke jawa."
" Papah sama Heru akan mencoba bantu saat mengurus ijin cuti kamu."
" Kak, setelah kita sampai di jawa, kita langsung menikah."
Heru dan Pak Anto saling menatap, saat mendengar keputusan Puspita.
__ADS_1