Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Aku Tak Akan Melepaskan Mu


__ADS_3

Saat hendak memasuki mobil, Galih pun bersama Nugi turun dari mobil nya. Galih segera berlari ke arah Puspita dan menghalangi Puspita untuk hendak masuk ke dalam mobil.


" Yank. "


" Mau apa kamu? " Bentak Heru.


" Saya akan bawa Puspita pulang, karena ini istri saya."


" Saya akan bawa dia pulang." Ucap Heru.


" Disini Saya yang berhak. "


" Cukup kamu Galih, apa kamu tidak cukup menyakiti hati anak Saya." Ucap Pak Anto.


" Pah, ijin kan Saya yang bawa Puspita. Waktu Saya nggak banyak disini, Saya ingin banyak meluangkan waktu bersama dengan dia."


" Saya tidak ijin kan.' Ucap Pak Anto.


" Tolong Pah, Saya mohon."


" Heru cepat suruh Puspita masuk."


" Maaf om, tolong beri kesempatan untuk mereka bicara."


" Hak kamu apa mengatur Saya, hak Saya menolak dia. "


" Mas, apa salah nya sih kamu ini." Ucap Tante Tini.


" Saya ingin membantu mereka cepat urus perceraian."


Puspita melihat wajah suami nya yang tampak kusut, dengan mata yang sedikit sayu. Nampak wajah yang sangat dia rindukan itu penuh dengan beban, setumpuk masalah.


" Mas, bawa Saya. " Ucap Puspita tiba - tiba berjalan mendekati Galih, lantas senyum mengembang pun nampak di wajah Galih.


" Bawa Saya yang kamu Mau, hanya untuk hari ini." Ucap Puspita kembali.


" Puspita, kamu baru sembuh kalau kamu kenapa - napa lagi bagaimana? " Ucap Heru.


" Kak, Saya sudah dewasa bisa jaga diri jadi tolong semua nya jangan halangi saya."


Pak Anto sudah mengepalkan tangan, namun Tante Tini selalu menenangkan emosi kakak nya itu.


Galih pun membawa Puspita memasuki mobil milik Nugi, sedang kan Nugi pulang bersama Ikbal dengan berboncengan motor.


****


" Sekarang mas mau bicara apa, sehari ini Saya akan dengarkan semuanya."


Mobil yang di kemudikan Galih berhenti di tepi jalan, tepat mobil berhenti tepat di depan pesawahan.


" Mas ingin rumah tangga kita baik kembali."


" Saya nggak mau, karena anak saja sudah nggak ada. Saya nggak sanggup untuk melanjutkan, kemarin sempat ingin bertahan karena ada anak, sekarang saya nggak mau egois, ada seorang anak yang lebih membutuhkan kasih sayang orang tua lengkap. Mas tahu bagaimana rasa nya, saat tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua, karena Saya adalah anak broken home. Rasa nya sakit, melihat Mamah, Papah bahagia bersama keluarga baru nya, sedangkan Saya hanya merasakan rasa sakit dan iri. Berlin seperti Saya, hati ini tak ingin Berlin merasakan apa yang seperti Saya alami, disini Saya mundur, Saya nggak akan menghalangi kamu mas, kemarin Saya menolak Berlin karena anak kita juga butuh kasih sayang tapi sekarang sudah nggak ada, mungkin ini hukuman bagi Saya seorang ibu yang sangat egois."


" Mas nggak akan melepaskan kamu, apapun itu yang terjadi. "

__ADS_1


" Tolong Mas, demi Berlin jangan dia seperti Saya alami."


" Sekali mas bilang nggak ya nggak. "


" Baik, Saya akan gugat cerai kamu Mas, apapun itu caranya. "


" Terserah, Saya nggak akan mau menandatangi surat cerai itu, dan Saya nggak akan mengucapkan kata itu sampai Saya menutup mata. "


Puspita berkaca - kaca, sambil mengusap pelan perutnya yang tiba - tiba mengencang, tangisnya dia tahan dengan sesak yang di rasakan.


Mobil pun kembali berjalan, Galih dan Puspita hanya diam saat Mobil sudah mulai melaju kembali.


******


" Kamu punya nyali juga kesana? " Tanya Nugi.


" Saya hanya ingin lihat keadaan Puspita." Jawab Ikbal.


" Kamu masih berharap mendapatkan dia bukan, bersaing dengan Heru. "


" Terlalu jujur kalau berharap mereka bercerai."


" Misal terjadi, sepertinya kamu tidak akan bisa mendapatkan dia, kamu tahu Heru adalah pilihan Papah nya. "


" Apakah saya bukan orang terbaik, hanya karena satu kesalahan, dan mereka setelah apa yang di lihat pada Galih. Saya bukan Galih, Saya memang brengsek tapi Saya bukan Ikbal yang dulu."


" Saya sarankan jangan berusaha merebut istri orang, saat ini mereka sedang tidak baik, mungkin besok mereka akan bersatu. Jangan membuat hati kamu sakit, singkirkan Puspita biar dia sendiri yang menjawab nya keputusan apa yang akan di ambil."Ucap Nugi.


******


Heru kembali duduk, dan Pak Anto pun sama agar untuk tenang saat ini. Karena tahu kondisi putrinya saat ini dan tidak ingin terjadi apa - apa lagi pada nya.


Puspita langsung merebahkan tubuh nya yang sangat lelah, dan sesekali mengusap perutnya yang semakin kencang.


" Apa mau sesuatu? "Tanya Galih.


" Saya hanya ingin Mas keluar dari kamar Saya." Jawab Puspita.


" Mas nggak akan keluar, besok pagi Mas akan pulang, kita masih memiliki 10 jam lagi."


Puspita lalu memunggungi Galih sambil memeluk guling nya, Galih pun duduk disisi tempat tidur lalu mengusap perut Puspita.


" Semoga akan cepat hadir kembali di dalam perut mamah."


Puspita memejamkan mata nya, terasa nyaman saat Galih mengusap perutnya, tak terasa bulir air mata keluar dari kedua sudut kelopak mata nya.


" Tidur lah, Mas akan disini. Kalau kamu saat bangun nanti Mas sudah nggak ada, berarti Mas sudah pulang. "


Dengan menahan agar tidak menangis kencang, Puspita membenamkan wajah nya di bantal. Galih masih terus mengusap perut dan kadang beralih di punggung.


****


Suara adzan shubuh berkumandang Puspita membuka mata nya, dirinya tertidur sangat lama, karena efek obat yang harus membuat dirinya tenang dan istirahat.


Mata nya menyisir seisi kamar, saat melihat sosok yang berada di samping nya beberapa jam lalu kini sudah tak ada.

__ADS_1


Hiks.. hiks.. hiks..


Puspita tiba - tiba menangis, dengan kembali memeluk guling di samping nya.


Hiks... hiks... hiks..


" Kamu benar - benar pergi Mas.. hiks... hiks... hiks.. "


******


" Kamu sudah minum obatnya? " Tanya Heru.


" Puas kamu Kak, kakak pasti senang kan." Ucap Puspita dengan nada keras.


" Sekarang Saya hancur, kakak sama Papah sama saja. " Ucap Puspita kembali.


" Kami melakukan nya, karena kami semua nggak ingin kamu terluka dan hanya tangis yang kamu rasakan. Apa kamu ingin menderita seperti kamu sejak kecil melihat kedua orang tua kamu, kamu mau menangis walau kamu bahagia. Orang tua mana yang ingin anak nya tak bahagia, hanya ini jalan satu - satu nya, perpisahan, kamu sekarang paham kan kenapa kedua orang tua kamu berpisah, dan mereka itu hanya ingin yang terbaik."


" Tapi akan ada yang di Korban kan."


" Ini tidak akan pernah terjadi seperti kamu rasakan, cukup Puspita kecil tidak untuk Puspita yang sekarang. "


" Saya takut kak, Saya takut akan mengalami nya, saya takut."


" Percaya sama Kakak, janji kakak akan menjaga kamu, tangan kakak sekarang kembali kakak genggam."


******


Galih berjalan dengan gontai menuju rumah nya, terlihat gadis kecil tersenyum ke arah nya. Senyuman polos nya seketika membuat hati Galih berdesir, dan berjalan dengan membalas senyuman pada nya.


" Papah capek ya? " Tanya Berlin saat Galih berjongkok sembari merapikan rambut Berlin.


" Mamah belum pulang Dinas? "


" Mamah masih di Puskesmas."


" Sudah makan? "


" Mamah hanya kasih uang jalan, Berlin hanya menunggu penjual makanan keliling saja."


" Apa setiap hari kamu seperti ini? "


" Iya, hanya pagi mamah kasih sarapan roti, dan saat mamah pulang bawa nasi kotak."


" Di rumah Papah banyak makanan, papah titip kan kunci sama Pak Willy kenapa kamu nggak masuk? "


" Pak Willy menawari, Berlin nggak mau masuk takut Mamah datang nanti di tuduh mencuri."


" Mamah Gladis? "


" Bukan, mamah yang pergi kemarin. Berlin takut Mamah marah, Berlin tahu Mamah sangat nggak suka sama Berlin."


" Maaf ya..!! "


" Berlin nggak marah kok Pah, Berlin yakin Mamah baik orangnya. "

__ADS_1


__ADS_2