
Galih berjalan ke arah Puspita yang tengah bersandar di kepala ranjang, wajah bahagia nampak di wajah Galih.
Galih menarik tengkuk leher Puspita, dan mencium bibir yang selama ini dirinya rindukan. Puspita terkejut akan apa yang di lakukan Galih, dengan berusaha melepaskan ciuman suami nya.
Galih ******* bibir Puspita, dan menggigit bibir bawah nya sehingga membuat mulut Puspita membuka dan memainkan lidahnya.
Puspita pun mendorong tubuh Galih, namun Galih tetap memeluk tubuh istri nya.
" Sayang, kita ini memang di takdir kan untuk bersatu. Dan kamu tahu kita telah melewati banyak ujian, kita ini Sekarang menikmati nya setelah sekian panjang ujian untuk kita." Ucap Galih.
Puspita mencoba melepaskan dekapan Galih, dan suami nya itu melonggarkan pelukan nya.
" Sayang, ternyata Berlin bukan anak Mas, Berlin anaknya Leon. "
" Maksud nya? "
" Mamah, bilang kalau Mamah Amel juga terlihat untuk masalah ini, dan tadi Mamah juga bilang Leon menghubungi Galuh kalau Berlin memang seratus persen anak Leon, yang kemarin tes DNA itu hasil rekayasa Gladis."
" Nggak mungkin, mereka bilang kan Berlin anak Mas."
" Mereka memanipulasi data, jadi sekarang kamu maafkan Mas kan? "
Puspita menjauhi tubuh Galih, dan Galih menatap heran ke arah Puspita.
" Tapi kenapa masa lalu Mas tidak pernah cerita."
" Masa lalu yang mana? "
" Semuanya, Mas kenapa nggak bilang."
" Sssst... jangan pernah tanya lagi tentang masa lalu, karena itu sangat sakit sekali. Sekarang kita mulai dari awal lagi." Galih membelai pipi Puspita.
" Maaf kan saya Mas, kalau selama ini meragukan Mas. Dan kita mulai dari awal lagi." Ucap Puspita.
******
" Alhamdulilah, ya Allah akhir nya kalian baikan lagi." Ucap Tante Tini
" Lihat Mas, dia itu pria terbaik, tanggung jawab tidak yang seperti apa yang mas kita. Jadi bagaimana Mas, apa masih tetap ingin menceraikan Puspita Sama Galih? " Ucap kembali Tante Tini.
" Saya mengaku disini saya juga Salah, saya sadari begini juga untuk dia yang terbaik dan calon cucu saya." Ucap Pak Anto.
*******
Di dalam kamar setelah sehari pulang dari rumah sakit, Puspita dan Galih lebih banyak menikmati waktu bersama berdua saling melepas rindu.
" Mas kapan kembali kesana? " Tanya Puspita sambil membelai rambut cepak Galih, yang sedang tiduran sambil wajah nya menghadap ke perut istri nya.
" Dua hari lagi Mas kembali." Jawab Galih .
" Apa tidak ada niat untuk pindah ke sini?"
__ADS_1
" Ada sayang, mana ada sih yang nggak ingin dekat Sama keluarga."
" Seringlah pulang."
Galih lalu menatap wajah istri nya yang sedang menundukkan kelapanya hingga lebih dekat menatap ke arah wajah suami nya.
" Mau nya begitu sayang, tapi nggak mungkin juga kan Mas pulang setiap weekend."
" Saya kesepian."
" Oh iya, kalau yang kemarin itu bagaimana kesepian tidak? "
" Itu kan beda."
" Beda dimana nya hem...!! "Ucap Galih menggoda Puspita.
" Ya kan beda, kemarin sedang marahan jadi bawa nya kesal terus. "
Galih pun menatap gemas istri nya, lalu beranjak duduk dan memeluk Puspita hingga membenamkan wajah nya ke dada bidang milik dirinya.
******
" Papah jadi sudah menceraikan Mamah Amel?" Tanya Galuh saat Pak Rudi berkunjung ke rumah Galuh.
" Papah lakukan ini apa yang telah dia lakukan pada keluarga kita, ini balasan hukuman untuk dia." Jawab Pak Rudi.
" Sekarang Mamah Amel kemana Pah? "
*******
" Mamah..!! " Ucap Galih saat melihat Ibu Amel datang jauh - jauh ke tempat Puspita.
" Nak, maaf kan Mamah. " Ucap Ibu Amel.
"Galih sudah memaafkan Mamah."
" Tapi tidak dengan Papah kamu, Papah kamu menceraikan Mamah. "
Puspita memeluk lengan suami nya yang tengah duduk di sofa sambil menatap Ibu Amel yang tampak berkaca - kaca.
" Kalau masalah itu Galih tidak bisa bantu Mamah, karena itu urusan nya Sama Papah."
" Yah Mamah mengerti, dan Papah mu memang sudah benar - benar kecewa dengan apa yang Mamah lakukan terhadap keluarga kalian. Disini Mamah memang Salah."
*******
" Jadi Papah ceraikan Mamah Amel, karena masalah kita juga berhubungan dengan kisah Papah Sama Mamah Amel sehingga mereka cerai Sama Mamah Eva." Ucap Puspita.
" Iya itu alasannya kenapa Papah menceraikan Mamah Amel."
" Terus Mas tahu nggak Mamah Eva bagaimana?"
__ADS_1
" Seperti nya Mamah nggak akan mau rujuk Sama Papah, mengingat bagaimana perasaan Mamah dari dulu hingga sekarang."
" Mas, maaf kan Saya kemarin selalu minta cerai Sama Mas, seandainya kata cerai itu terucap dan kita mengetahui nya terlambat mungkin kita akan menyesal."
" Sudah jangan membayangkan yang tidak enak, kita tatap ke depan, kita fokus ke keluarga kecil kita." Ucap Galih mencium kening Puspita.
******
" Maaf kan Papah."
" Galih sudah maafkan Papah sebelum Papah minta maaf. Galih mengerti bagaimana perasaan Papah saat itu, mana ada orang tua yang tega melihat anak nya menderita, mungkin Sama dengan Saya nanti Pah bila memiliki anak perempuan pasti akan Sama hal nya seperti apa yang Papah lakukan."
" Terima kasih Galih, kamu memang pilihan yang tepat, Puspita tidak Salah memilih kamu."
*******
Hiks... hiks... hiks...
" Sudah dong Yank jangan nangis terus." Ucap Galih saat dirinya akan kembali berangkat bertugas Puspita memeluk erat tubuh suami nya.
" Sehari lagi jangan dulu kembali."
" Nggak bisa sayang, Mas ada tugas yang harus di emban masa Mas perpanjang cuti lagi."
Puspita melepaskan pelukan nya, lalu menarik tengkuk leher Galih dan mencium bibir suami nya, saat itu Galih pun kaget apa yang di lakukan Puspita lalu Galih membalas ciuman istri nya saling ******* dan bertukar saliva.
" Jangan membuat suami kamu akan bertindak lebih dari ini, karena kelakuan kamu saat ini sangat membuat Mas gemas." Ucap Galih sambil menempelkan kening nya di kening Puspita.
" Jaga hati di Sana, ingat itu mas."
" Iya sayang, mas janji punya istri seperti kamu itu langka tidak ada pabriknya. " Ucap Galih sambil terkekeh.
Aaaawww
" Sakit Yank." Ucap Galih saat Puspita mencubit pinggang suami nya sangat keras.
******
" Alhamdulilah rupanya masalah itu telah selesai." Ucap Ikbal tersenyum saat mendengar cerita dari Tante Tini.
" Sekarang tinggal kamu, apa belum punya target siapa yang akan jadi pendamping hidup kamu? "
" Masih jauh Tante, Saya belum menemukan pengganti Puspita dan Sintia." Ucap Ikbal.
" Kamu harus bisa lepaskan bayangan Sintia dan Puspita, hati kamu harus bisa membuka untuk yang lain."
" Saya akan coba Tante, kadang hati dan mulut selalu berbeda."
" Benar, tapi kita harus bisa ambil hikmah nya dari permasalahan yang kemarin kita hadapi."
" Cinta Sejati, Sejati nya tak akan pernah pudar atau pergi jauh. Walau beribu rintangan akan kembali juga untuk bersatu." Ucap Ikbal.
__ADS_1