Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Cinta Yang Terhalang


__ADS_3

Galih keluar dari rumah Pak Anto, dirinya datang jauh - jauh hanya ingin meminta restu. Dengan gontai Galih memasuki mobil nya.


"Besok saya harus sudah kembali, apakah kita masih bisa bersama? " Ucap lirih Galih.


****


Puspita. menatap pria yang ada di depan nya, pria tersebut terus menatap nya. Ikbal, dirinya memberanikan diri mengunjungi Puspita.


" Mau apa A kesini? "


" Apa Aa nggak boleh kemari? "


" Sintia pasti akan marah,kalau tahu Aa kemari."


" Dia nggak akan pernah marah, dia mungkin malah senang."


Puspita mengerutkan dahinya dengan menatap lekat kedua mata Ikbal.


" Sintia meninggal dunia saat melahirkan, bahkan putri kami pun pergi untuk selamanya."


" Inallilahi wainalillahi rojiun."


" Apa kabar nya kamu sekarang? "


" Kabar saya Alhamdulilah sehat, Aa lihat sendiri kondisi saya."


" Bolehkah Aa dekat sama kamu kembali? "


" Saya sudah melupakan masalah itu, dan mencoba untuk ikhlas. Kedekatan kita dalam arti apa, kalau untuk kita saling mencintai lagi seperti nya tidak mungkin, lebih baik kita berteman biasa saja, hanya sekedar say hallo."


" Saya paham, pasti sakit, semua nya itu adalah salah saya. "


" A mungkin kita memang nggak bisa bersatu, tapi Allah menghendaki kita menjadi hubungan yang biasa saja. Rasa kecewa, malu saat itu pasti ada."


******


" Pah, Heru mohon restui mereka."


" Kamu bilang restui mereka, kamu tahu Heru papah lebih setuju kamu menikah dengan Puspita, bukan dengan Galih. Papah heran sama kamu, malah kamu yang mundur."Ucap Pak Anto di ruang kerjanya.


" Pah, apa Papah tidak lihat sendiri kalau Puspita tidak mau berpisah dengan Galih. Papah lihat kan saat dia menggenggam tangan Galih hingga berjam - jam, apa Papah tidak lihat sendiri bagaimana bisa lepas hanya karena bisikan Galih, bahkan saat Galih mengatakan untuk pergi, di saat koma Puspita terus meneteskan air matanya."


Pak Anto hanya diam, dan kembali duduk di kursi empuknya.


" Papah takut, jujur papah takut hati Puspita di sakiti lagi."


" Pah, saya yakin Galih nggak akan menyakiti Puspita."


******


Ikbal berdiri di depan teras rumah Puspita, masih saling menatap dan Puspita yang tak kuat untuk berdiri memilih untuk duduk di kursi depan teras rumah nya.


" Terima kasih, sudah mau menerima saya menjadi teman. Terima kasih sudah memaafkan saya."

__ADS_1


" Sama A, saya harap Aa ke depan nya jangan pernah sakiti hati wanita lagi, cukup saya saja, dan Sintia. Cinta sejati Aa adalah Sintia, dia adalah ibu dari anak Aa, kedua bidadari surga Aa sudah bahagia disana, jangan membuat mereka sedih melihat Aa seperti dulu lagi."


" Itulah yang Aa suka sama kamu, tidak ada wanita yang berusaha tegar di mata orang lain, walau hati nya rapuh. Dari kerapuhan itu, kamu berusaha untuk tetap bisa berdiri menghadapi semua nya. "


Puspita melirik ke sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah nya, Ikbal pun sama menoleh ke arah mobil tersebut.


Galih pun turun dari mobil nya, Galih terus menatap ke arah Ikbal dengan tatapan tidak suka, begitu pun dengan Galih.


Galih lalu teralih pandangannya melihat Puspita yang kini sudah berdiri tegak dengan satu tongkat.


" Sayang, kamu sudah bisa berdiri? " Tanya Galih dengan menekan kata Sayang.


" Iya Mas, kemarin saya belajar untuk berdiri." Jawab Puspita.


" Nggak sakit? " Tanya Galih kembali sambil mengusap pinggang Puspita, dan Ikbal pun menatap adegan tersebut lantas membuang muka nya.


" A, kita gabung lagi? " Ajak Puspita.


" Maaf saya harus pulang." Ucap Ikbal lalu berpamitan dengan Galih dan Puspita."


Setelah Ikbal pergi, Galih memapah Puspita masuk kedalam rumah dan menuju ke ruang tamu.


" Mas nggak bilang mau kesini? " Tanya Puspita.


" Mas sengaja nggak bilang, dan nggak di rencanain." Jawab Galih.


" Yank, besok Mas kembali ke tempat Dinas nya Mas. Nggak apa - apa kan? " Ucap Galih kembali.


" Nggak apa - apalah Mas, dari dulu juga sudah biasa kita LDR an."


" Yank, seandainya kita memang nggak berjodoh bagaimana? "


Puspita diam dan menatap kedua mata Galih, dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


" Mas akan pergi lagi meninggalkan saya? "


" Hubungan kita tak mendapatkan restu, sedangkan Mas ingin hubungan yang di restui oleh kedua orang tua kita."


" Saya mohon Mas, jangan menyerah."


" Papah sudah sangat membenci Mas, dan Mas nggak bisa mengalahkan ego Papah."


" Apa Mas ingin kita berpisah? "


" Mas sudah berusaha, tapi Papah tetap kokoh pada pendirian nya."


" Mas, apa Mas akan menyerah begitu saja? "


" Mas nggak ingin kita berjalan tanpa restu."


" Semua merestui kita Mas, hanya papah saja."


" Kalau kita memang berjodoh pasti kita akan bersatu, dan Mas akan menikahi kamu bila restu dari Papah sudah ada. Dan sekali lagi maaf, mas akan tetap mencintai kamu, dan Mas akan terus berusaha. "

__ADS_1


" Saya besok ikut kembali kesana, Saya mau mulai Dinas kembali."


" Tapi kan, cuti kamu masih belum berakhir, dan pencabutan pen nya juga belum."


" Saya bosan disini, lebih baik kembali saja kesana, kembali Dinas."


" Jadi? "


" Ya besok kita kembali sama - sama kesana."


Braaaakkkk


" Papah...!!! " Ucap Puspita kaget saat Pak Anto membanting berkas di atas meja.


" Papah sudah meminta untuk mutasi kamu dengan alasan kamu sakit. "


" Maksud nya Papah apa? "


" Sudah Papah urus berkas - berkas nya, kamu sudah tak Dinas disana lagi, kamu sudah pindah disini."


" Papah kok nggak bilang? "


" Kamu juga sebenarnya sudah menyiapkan kan untuk mutasi Sebelum kecelakaan, mencoba pindah , Papah menemukan ini semua dan Papah proses pengajuan kamu."


" SK sudah keluar, kamu ingin disini kan? "


" Iya Pah itu berkas untuk pengajuan Mutasi, tapi nanti niat Puspita memberikan nya, tapi Papah sudah mengusahakan nya. Dan proses cepat, SK pun sudah turun."


" Papah nggak mau, anak perempuan Papah kenapa - napa, dengan berbagai bukti, dan melihat kondisi kamu, Mutasi kamu di percepat." Ucap Pak Anto.


" Dan kamu, sebaiknya tinggalin putri Saya, bagaimana pun Saya tidak ingin anak Saya bersanding dengan kamu."


" Pah, Saya mencintai Mas Galih."


" Kamu menurut kata Papah atau pergi bersama dia dan lupakan Papah? "


" Puspita mohon Pah."


" Baik om, kalau om yang inginkan Saya akan pergi. "


" Mas...!!! "


" Mas akan selalu mencintai kamu, Mas akan kembali bila Papah sudah memberikan restu pada kita."


" Papah jahat, Papah nggak mementingkan kebahagiaan Puspita." Ucap Puspita yang sudah berlinang air mata.


" Papah juga ini demi kamu Puspita, dan Papah nggak mau kamu kembali dengan pria yang pernah menyakiti kamu."


" Tapi Papah kan sudah tahu, sebab dan akibatnya."


" Kalau orang cinta, dia akan menolak."


" Tapi bukan seperti itu pah kenyataanya."

__ADS_1


"Kalau cinta segala rintangan akan di lalui, bukti nya sekarang dia memilih mundur." Ucap Pak Anto


" Saya bukan maksud mundur, Saya hanya ingin menunggu waktu sampai Om merestui hubungan kami." Ucap Galih


__ADS_2