Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Kejutan Yang Tak Di Harapkan


__ADS_3

1 Bulan kemudian...


" Puspita kamu semuanya sudah masuk? " Tanya Tante Tini saat sudah berada di Bandara mengantar Puspita.


" Sudah Tante, om mana? " Tanya Puspita.


" Om disini." Jawab Om Waluyo yang datang dari arah belakang.


" Habis dari mana Pah? " Tanya Tante Tini.


" Toilet. " Jawab Om Waluyo.


Terdengar panggilan untuk para penumpang pesawat yang akan menuju ke kota dimana Puspita akan kunjungi.


" Om Tante, Puspita berangkat dulu ya." Ucap Puspita sambil berpamitan mencium punggung kedua tangan Tante dan Om nya.


" Hati - hati. " Ucap Om Waluyo.


******


Aaaaarrrrrgggghhh..


Tolong.....


Tolong.....


Semua warga berhamburan saat kedatangan kelompok dengan menembakkan senjata nya ke udara.


Hari minggu cerah berubah menjadi mencengkam, dimana tiba - tiba penyerangan pun terjadi.


Galih yang tengah libur Dinas tersontak kaget setelah melihat melalui jendela kamarnya Pak Willy yang tengah di todong senjata, begitu pun dengan Gladis yang berada di samping Pak Willy.


*I**nfo Penting*...


Telah terjadi penyerangan di kampung Y, di duga terjadi sekelompok dari Sayap Merah kembali menyerang atas masalah yang belum terselesaikan.


Saat ini di informasikan 2 sarana hancur, Balai Desa dan Kantor Camat. Saat ini di info kan belum ada korban luka, hanya beberapa warga sipil yang di sandera.


Galih pun membaca pesan dari group, dan dengan segera Galih mengambil senjata nya, perlahan pintu rumah nya di kunci, dan mengintip dari balik Gorden.


" Mau apa lagi kamu datang kemari? " Tanya Pak Willy.


" Masalah kita belum usai, atas apa yang kamu laporkan bersama Camat. "


" Kamu seharusnya sadar, Ayah kamu itu melakukan kesalahan atas tuduhan penyalahgunaan dana Anggaran yang di alokasikan untuk kampung ini."


" Cuih.. dengan cara itu kamu memfitnah nya, agar dia lengser dan kamu penggantinya. Seharusnya kamu sadar, kamu dan Camat itu makan uang Anggaran itu."


" Kamu salah uang yang di kasih kami tak kami makan sepeser pun, bukan berarti pengkhianatan ternyata di balik semua ini kalian untuk danai kelompok Sayap Merah, dimana selalu menjadi bumerang bagi kami. Dan cara kepemimpinan kalian yang tidak manusiawi, merampas hasil warga dengan alasan pajak. "


" Kami disini ingin keadilan dimana Ayah Saya dulu adalah tokoh masyarakat dan pemimpin wilayah ini, membantu warga nya, agar sejahtera tapi apa Ayah Saya di jebak, di khianati hingga dia tutup usia di dalam balik jeruji. "

__ADS_1


" Kamu salah menilai, Ayah kamu memang korupsi dan bekerja sama dengan beberapa pejabat. "


" Ini politik, masalah ini lebih kejam, kamu tahu saat ke pemimpinan Ayah Saya, warga sejahtera semua bantuan sama rata."


" Dari hasil rampasan hasil bumi dimana itu hak warga, agar mereka diam kalian memutar otak dengan bantuan supaya tutup mulut, dengan membodohi warga yang awam akan keadilan, dan sekali berontak kalian habisi. Kami tahu saat itu satu persatu warga hilang, dan keesokan hari nya berubah menjadi mayat salah satu nya istri saya yang kalian bunuh secara sengaja saat penyerangan begitu pun dengan beberapa pemimpin yang tahu kalian ancam. Tidak dengan Saya dan Pak Camat, karena tindakan kalian harus segera musnahkan sejak dulu hanya membuat kerusuhan."


" Kamu tahu Willy, bagaimana kelompok Sayap Merah itu, keluarga kami di bawah ancaman sehingga kami tak bisa berbuat apa - apa. "


" Cuih, Sayap Merah telah memberikan kamu kesejahteraan dengan syarat apapun di kendalikan oleh mereka, hingga Ayah kamu menjadi seorang pemimpin, dan bekerja sama dengan Para Pejabat lain nya menikmati semua nya, dengan kelicikan kalian hingga hukum selalu lolos, saat mengetahui dimana kalian berada. "


Terlihat Gladis yang semakin terisak hingga membuat kemarahan anak dari Kepala Desa yang terdahulu.


Buughh


Aaawww


Senjata di pukul kan ke arah perut Gladis, hingga tersungkur.


" Saya benci wanita cengeng....!!! "


Sebuah teriakan yang keluar dari mulut Robby yang telah memukul Gladis, Galih yang melihat nya merasakan sangat marah, hingga saat melihat yang di duga pemimpin kelompok tersebut memukul Pak Willy dan menyeret Gladis Galih mengarahkan tembak kan nya.


Door...


Door...


******


" Jadi nggak bisa ya pak? "


" Maaf ya mba. "


" Kalau sampai berbatasan saja bagaimana? "


" Maaf semua kendaraan tidak di perbolehkan untuk kesana." Ucap Sopir taksi tersebut.


Puspita pun kembali turun dari Taksi tersebut, dan duduk menuju ke arah kursi yang berada di dekat pintu keluar.


" Bagaimana ini, sengaja mau bikin kejutan, malah sampai sini di kasih kejutan kayak gini." Ucap pelan Puspita.


Lalu Puspita pun membuka ponselnya, dan mencari beberapa berita terbaru hari ini. Puspita membelakkan mata nya saat apa yang di beritan di internet.


" Ini kan Pak Willy, jadi Mas Galih dalam bahaya disana. "


Puspita pun lalu segera menarik koper nya, mencari kendaraan yang mau membawanya ke tempat tujuan tersebut.


*****


Buughh..


Buughh...

__ADS_1


" Kamu mau mencoba jadi Pahlawan hah... "


Buughh..


Aaarrrgghhh...


Galih tersungkur di lantai dengan luka pukul di wajah dan di perut hingga darah mewarnai tubunya.


Dirinya di ketahui saat menembak mati beberapa anak buah Sayap Merah, berhasil kalah dari arah pintu belakang yang tak terkunci membuat Galih tertangkap.


Semua pasukan pun di kerahkan, sniper pun berada di titik masing - masing tempat menunggu perintah.


Ancaman pun keluar dari pemimpin Sayap Merah, senjata yang siap di tembak kan di ketiga tubuh tersebut yang kini babak belur.


******


" Mba Saya tidak bisa sampai kesana, Saya akan turun kan di jembatan itu karena di Sana penjagaan sangat ketat sekali." Tunjuk supir Taksi yang mau mengantarkan Puspita dengan syarat imbalan yang besar.


" Terima kasih Pak, biar Saya kesana sendiri."


Puspita pun lalu turun, terlihat Para Tentara yang tengah berjaga sebuah palang pun terlihat menutup jalan.


" Bagaimana ini, suami Saya ada disana pasti."


Puspita berjalan mendekati penjagaan yang ketat, terlihat salah satu Tentara menatap Puspita berjalan sambil menarik koper nya.


" Ibu Puspita. " Sapa Aril saat mendekati nya.


" Apakah tidak bisa masuk kesana? " Tanya Puspita.


" Bahaya Bu. " Jawab Aril.


" Mana Mas Galih? "


" Mas Galih menjadi salah satu sandera, karena saat itu berada di rumah. "


Puspita bagai tersambar petir saat mendengar suami nya menjadi salah satu korban tersebut.


" Lalu keadaannya bagaimana? "


" Bang Galih masih hidup, hanya mereka menyandera nya saja. "


Puspita menjatuhkan tubuh nya hingga bersimpuh ke tanah, mata nya sudah nampak berkaca - kaca.


" Apa kalian diam saja, suami Saya di dalam Sana? "


" Suami??? "


" Dia suami Saya, suami yang sedang di sandera itu suami Saya. " Ucap Puspita.


" Apa kalian diam saja, saat suami Saya dalam bahaya. " Ucap Kembali Puspita.

__ADS_1


__ADS_2