
" Mamah....!!!! "
" Sayang....!!! '
Ibu dan anak pun saling berpelukan , rasa rindu yang sangat mendalam di rasakan oleh kedua nya.
" Maaf Mamah sayang, maaf kan mamah."
" Berlin kangen sama Mamah."
" Sama sayang Mamah juga kangen sama Berlin, maaf kan Mamah selama ini Mamah selalu tidak pernah menampakkan di depan kamu hanya lewat ponsel saja."
" Papah mana Mah? "
" Ada sayang, kamu nanti akan bertemu sama papah kamu."
Seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping nya, terlihat sangat terharu melihat pertemuan antara ibu dan anak.
" Tante. " Gladis memeluk Ibu Amel, Mamah sambung Galih dan Galuh. Gladis adalah keponakan Ibu Amel anak tiri dari Almarhum Kakak nya, sedangkan Ibu kandung Gladis pun meninggal dunia setahun setelah suami nya meninggal dunia.
" Apakah kamu yakin? " Tanya Ibu Amel.
" Maaf kan Saya Tante, menyuruh Tante kemari membawa Berlin agar Galih percaya kalau dia darah dagingnya."
" Bagaimana nanti dengan Puspita, Tante sudah membayangkan nya. "
" Saya harus melakukan ini, karena Saya sudah capek mengalah, Berlin juga butuh sosok ayah Tante."
******
" Untungnya menantu Papah tepat waktu sudah menjemput Papah di Bandara. " Ucap Pak Anto saat sampai di tempat tinggal Galih dan Puspita.
" Mas Galih pagi - pagi sekali Pah dari sini, biar Papah tiba langsung kesini dan istirahat. Pasti capek perjalanan nya. " Ucap Puspita sambil menaruh teh manis hangat di meja.
" Rumah nya enak ya, Papah juga senang tinggal disini. "
" Benar Pah rumah nya nyaman, Puspita nggak salah pilih pertama kali kemari. "
" Itu juga berkat kamu juga Mas waktu Saya dan Kak Heru kemari."
" Oh iya, Mas sampai lupa."
" Pah makan dulu yuk, atau langsung istirahat?" Tanya Puspita.
" Makan saja dulu, Papah lapar. " Jawab Pak Anto.
*****
Anak dan menantu serta Pak Anto saling bercerita di ruang tamu, dimana tawa renyah terlihat dari ketiganya.
" Papah...!!! "
__ADS_1
Seorang anak kecil tiba - tiba masuk memeluk tubuh Galih yang tengah duduk bersama Puspita yang membuat sontak kaget ketiganya.
" Berlin kangen Papah. " Ucap Anak kecil tersebut yang sudah memeluk tubuh Galih.
Galih melepaskan pelukan anak kecil tersebut, sang anak kecil itu tersenyum dengan mata yang berbinar dan tampak wajah bahagia nya.
" Kamu siapa? " Tanya Galih bingung.
" Berlin anak kita. " Jawab Gladis yang sudah berdiri di depan pintu.
Galih menatap ke arah Gladis begitu pun juga Puspita dan Pak Anto yang memandang ke arah wanita yang berdiri di depan pintu.
" Benar Galih itu anak kamu. "
" Mamah...!! " Ucap Galih berdiri dari duduk nya.
Puspita menatap tajam ke arah Galih, dan beralih ke arah gadis kecil tersebut yang tampak mirip dengan Galih.
" Maksud nya apa ya? " Tanya Puspita .
" Cerita Saya yang kemarin adalah cerita masa lalu Saya dengan suami kamu, dan kamu harus tahu Saya bisa bertugas disini karena Saya sengaja untuk mendekati Papah dari Berlin. Puspita suami kamu itu memiliki anak dari wanita masa lalu nya Saya ingin mengambil dia dari kamu, karena Saya sudah lelah mengalah dan menyerah kan apa yang menjadi milik Saya."
" Mamah selama ini pasti tahu kan? " Tanya Galih.
" Maaf kan Mamah. " Jawab Ibu Amel.
" Jadi benar Mas, apa yang di katakan nya? " Tanya Puspita.
" Mas bisa jelaskan Yank. "
" Kita tes DNA siapa tahu mereka bohong."
" Galih, Gladis tidak bohong. Kamu bisa melakukan tes DNA kalau Mau. " Ucap Ibu Amel.
" Baik kita lakukan tes DNA. " Ucap Galih.
" Kalau benar ternyata terbukti dia anak kamu, Saya sebagai Papah nya tidak sudi kamu jadi suami nya. " Ucap Pak Anto.
******
" Hasil nya menunggu ya Pak Bu 2 sampai 4 minggu baru keluar. " Ucap Seorang perawat menyerahkan surat keterangan Tes DNA.
" Terima kasih suster." Ucap Galih.
" Mamah, kenapa Berlin melakukan tes DNA, bukan nya yang Berlin tahu tes ini untuk menantu kan bahwa seseorang memiliki hubungan darah atau tidak."
" Papah hanya ingin mengetes saja, Papah tahu Berlin anak nya Papah. Hanya saja Papah kaget karena baru melihat Berlin yang sudah besar."
" Papah, kangen nggak sama Berlin? " Tanya gadis kecil tersebut dengan polos nya.
Hati Puspita bagai tersayat pisau, yang tiba - tiba perutnya merasakan kram hingga memegang erat tangan Papah nya.
__ADS_1
" Kamu kenapa sayang? " Tanya Pak Anto.
" Kita pulang Pah. " Jawab Puspita.
" Kita pulang sama - sama. " Ucap Galih.
" Kamu urus masalah kamu saja. " Ucap Pak Anto marah pada Galih.
*******
Gadis kecil itu bergelayut manja di lengan Galih, tampak rasa bahagia di wajah nya.
" Berlin senang sekali ini yang pertama kalinya bisa berkumpul sama Mamah Papah. Semoga selama nya kita seperti ini."
" Amin... sayang." Ucap Gladis membelai rambut panjang Berlin.
" Berlin ikut sama Oma dulu yuk. " Ajak Ibu Amel yang mengerti kepada dua orang dewasa tersebut.
Berlin pun menurut dan menurut akan ajakan Oma nya.
" Berlin asli darah daging kamu, tes DNA itu pasti positif."
" Kenapa kamu hadir kan dia sekarang, kenapa tidak dari dulu. Kalau dari dulu tahu kamu hamil anak Saya, sebagai seorang pria yang bertanggung jawab Saya akan akui Berlin anak saya."
" Saya sudah jelaskan, bagaimana Rena semasa hidup nya, dia mengancam kelahiran Berlin, dan menyuruh Saya menggugurkan nya dan menjauh dari kamu. Apalagi saat tahu Galuh meninggal karena kecelakaan Saya sudah menebak itu ulah dari Rena, karena Galuh menyukai Rena, tapi Rena tidak karena salah sasaran. Kalian kembar Galuh sering bergaya seperti kamu, karana kamu banyak yang menyukai hingga Rena bisa di bohongi."
" Saya akan bertanggung jawab kalau memang Berlin anak Saya."
******
Hiks... hiks... hiks...
" Papah, Puspita nggak Mau Pah anak ini seperti apa yang Mamah nya alami, Puspita nggak Mau Pah sejak kecil harus kurang kasih sayang hiks... hiks.... "
" Nak, kamu harus kuat untuk ke depan nya. Apapun yang terjadi nanti anak kamu, akan mendapatkan kasih sayang lebih dari Papah, mamah, Tante Tini bahkan Om Waluyo."
Hiks... hiks... hiks...
" Begini sekali Pah Kisah percintaan Puspita, apakah Puspita tidak di ijinkan Bahagia."
Pak Anton memeluk tubuh Puspita, hati nya sangat sakit melihat anak semata wayangnya harus merasakan pahit dalam biduk rumah tangga seperti apa yang di alami nya dulu.
*******
" Yank, maaf kan Mas. "
" Sakit hati Saya mas, ternyata masa lalu kamu membawa seorang anak bahkan semua keluarga tidak mengetahui nya. Saya akan maafkan kamu tentang hubungan kamu dengan Gladis mau hubungan intim atau apa karena aib itu tak harus untuk di ungkit kembali. Tapi ini mas, anak yang sudah besar yang membutuhkan kasih sayang dan kejelasan. Saya tidak bisa menerima nya, Saya hanya menerima Panji. "
" Maaf kan Mas, jujur Mas tidak tahu Gladis hamil, seandainya tahu Mas juga sudah bertanggung jawab. "
" Kalau terbukti Berlin anak Mas dengan Gladis, Saya tidak akan pernah Mau menerima Berlin di tengah - tengah kita. Anak yang di kandung Saya ini juga butuh sosok seorang Ayah, tidak hanya Berlin. "
__ADS_1
" Yank, Mas mohon kalau memang Berlin darah daging Mas, sebagai ayah nya Mas bertanggung jawab. Dia anak mas, dan dia juga butuh kasih sayang mas. "
" Mas tahu, Gladis akan merebut mas dari Saya, disini sudah jelas Saya harus berbagi, tidak akan Saya berbagi suami. Kamu pilih Tinggalin Saya atau hidup bersama Saya tapi Berlin tidak harus ada di tengah - tengah kita."