Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Menyembunyikan


__ADS_3

" Papah ini enak banget." Ucap Berlin makan dengan lahapnya.


" Pelan - pelan nak. " Ucap Galih saat melihat gaya makan Berlin seperti baru melihat makanan.


" Berlin disana tinggal sama siapa? "


" Sama Bi Narti, sekarang kangen masakan Bi Narti, disini mamah nggak pernah masak, hanya bisa marah dan marah."


" Marah?? "


" Mamah selalu marahin Berlin sejak disini, Mamah pura - pura baik di depan Papah."


Galih menatap ke arah Berlin dengan heran, dengan apa yang di katakan oleh Berlin.


" Mamah bilang apa saja sama kamu? "


" Berlin hanya ingin Papah sama Mamah bersatu itu saja, mungkin mamah marah karena benci sama Papah. "


******


Berlin tidur terlelap di kamar Galih, bocah kecil berusia 8 tahun ini sangat terlihat kelelahan saat setelah bermain dengan dirinya.


Terdengar suara motor Gladis telah pulang, terlihat dia membonceng Bu Husna yang biasa membantu Gladis melakukan proses persalinan.


" Berlin ada sama saya."


" Makasih sudah menjaga dia."


" Saya dua kali mendapati Berlin duduk di depan pintu rumah Saya, dan terlihat sangat kelaparan. Kamu tahu, kalau Saya nggak pulang cepat, dan kamu selalu pulang malam bagaimana dia, kamu selalu meninggalkan nya di luar."


" Dia sudah biasa hidup dengan keras nya udara dingin tanpa pelukan hangat."


" Kamu perlakukan Berlin seperti apa? "


" Kalau kamu nggak ingin mengurus nya biar Saya Papah nya yang mengurusnya."


" Kita menikah."


" Nggak..!! "


" Kalau kamu nggak mau menikahi Saya, akan Saya kasari dia terus."


" Kamu ancam Saya!!! "


" Kalau kamu mau melihat Berlin tersiksa."


" Saya akan bawa Berlin jauh dari kamu."


" Saya akan ikuti."


*******


" Minggu depan sudah mulai sekolah, seragam kamu apakah muat." Tanya Tante Tini.

__ADS_1


" Masih muat, dengan hijab besar." Jawab Puspita.


" Kamu menuruti ide gila Papah mu, kamu nggak kasihan sama calon anak kamu? "


" Saya hanya ingin yang terbaik."


" Jangan kamu ulang kisah kamu dulu pada anak kamu."


" Saya tidak mau menangis di belakang anak Saya nanti, Saya akan kenalkan dia nanti Ayah nya gugur di medan perang."


" Astaghfirullah Puspita kamu sadar, dengan mengikuti ide Papah kamu untuk bisa lepas dari Galih dengan berpura - pura keguguran."


" Tante, Saya capek selalu di sakiti hati pria. Saya memikirkan lagi mungkin benar kata Papah Saya harus cerai, karena dua kali Saya di sakiti Mas Galih, Saya maaf kan yang dulu karena kejahatan Rena. Tapi ini masalah anak Tante, anak yang sudah besar, dia butuh sosok ayah, dan ibu nya juga membutuhkan mas Galih. Apa Tante mau melihat ponakan Tante selalu bahagia walau hati nya menangis untuk berbagi suami. Nggak mungkin mas Galih nggak mau menikahi Gladis, pasti dia akan lakukan karena Mas Galih orang yang bertanggung jawab."


" Anak kamu akan tidak merasakan kasih sayang Papah nya. "


" Saya tidak merasakan kasih sayang mamah Papah, Saya malah di titip kan sama Tante, ini calon anak Saya nggak akan pernah merasakan kasih sayang lebih dari orang lain. Karena dia akan mendapatkan kasih sayang dari saya."


" Dia akan rindu kasih sayang Papah nya. "


" Papah nya sudah meninggal, rindu akan di kirim lewat doa."


*******


" Panji sakit. "


" Sudah berapa lama di rumah sakit? "


" 2 hari sekarang." Ucap Galuh.


" Tidak apa, Saya hanya kasih kabar saja sama Ayah nya."


" Terima kasih maaf Panji harus sama kamu."


" Tak apa, Alexa yang minta dia tidak ingin berpisah dengan kedua ponakannya."


" Bilang terima kasih untuk Alexa, Saya tidak bisa membalas lebih."


" Untuk masalah kamu, Saya sudah tahu dari Mamah. "


" Rumit."


" Wajar Puspita marah."


" Kini Saya sama dia jauh, Saya pun entah kapan bisa kembali tugas di tanah jawa. Masalah dan jarak membuat Saya semakin renggang sama dia."


*****


" Berlin minggu depan pulang? " Tanya Galih.


" Berlin tetap disini, karena home schooling." Jawab Berlin sambil memakan snack.


" Kenapa home schooling nggak sekolah di tempat umum?"

__ADS_1


" Mamah bilang bahaya di luar."


" Bahaya?? "


" Iya mamah selalu bilang bahaya."


*******


Galih memandang wajah Puspita yang tengah tersenyum , namun senyuman nya hilang saat pria yang setia selalu berada di samping nya.


" Apakah kamu memang calon menantu idaman dari dulu, tidak dengan saya."


Galih melempar ponselnya, dengan malas dan lebih memilih memejamkan mata nya.


******"


" Mas Nugi bahagia ya hidup nya sama Fatimah? "


" Alhamdulilah say, walau dia over protective dia itu sosok ayah yang baik, suami yang baik."Ucap Fatimah.


" Nggak seperti rumah tangga Saya, selalu saja ada orang ketiga." Ucap Puspita.


" Menurut Saya, kamu mending pertahankan rumah tangga, terima anak itu." Ucap Fatimah.


" Saya nggak bisa, Saya nggak Mau hidup diantara orang ketiga apalagi anak itu ingin keluarga yang utuh. Dan wanita itu selalu ada di antara kami, Saya nggak Mau tersakiti."


" Puspita akan bahagia tanpa Galih, dia akan bahagia disini dengan melepaskan nya." Ucap Heru.


****


" Saya hanya bilang jangan kamu menjadi duri diantara Puspita dan Galih." Ucap Nugi.


" Kenapa, dia pria brengsek."


" Semua orang punya masalah pada masa lalu nya, jadi kamu jangan jadi provokator dalam rumah tangganya."


" Saya tidak jadi provokator, Saya lakukan demi Puspita, demi masa depan nya."


" Apa dengan ini mereka akan bercerai, dan Puspita akan bersama kamu. Saya rasa sampai kapan pun Galih tidak akan menceraikan Puspita."


" Restu orang tua itu penting, Papah nya memilih Saya untuk menjadi imam nya."


******


Puspita mendorong trolly nya sambil mengambil beberapa makanan di rak, dan dorongan trolly nya lalu berhenti di sebuah susu untuk ibu Hamil.


Saat itu Ikbal pun dengan trolly berjalan melewati lorong khusu area susu, pandangan nya melihat Puspita tengah mengambil susu ibu Hamil beberapa kotak.


" Puspita...!!! "


Puspita menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya, pandangan nya terkejut saat melihat Ikbal di samping nya.


" A Ikbal? "

__ADS_1


" Kamu jadi?? " Pandangan nya mengarah ke perut Puspita yang tertutup hijab Panjang.


__ADS_2