
" Yank, sudah makan? " Ucap Suara dari seberang dari panggilan video call nya.
" Sudah, kakak sudah makan? "
" Sudah, yank kakak kangen."
" Sama lah, kapan kakak akan kesini? "
" Nanti cari waktu yang tepat."
" Kak, sering kunjungi papah sama Mamah?"
" Sering, mereka alhamdulilah sehat, mereka juga kangen sama kamu."
" Ibu sama Ayah? "
" Alhamdulilah sehat, mereka selalu nanya kapan kita nikah."
" Apa kakak mau kita menikah tapi LDR an? "
" Itulah berat nya, kakak akan coba untuk mengurus Mutasi kesana, mungkin dengan proses yang agak lama."
" Puspita akan tunggu kak."
" Makasih sayang, jaga diri. "
" I love you."
" I love you too."
Tok... Tok... Tok...
" Kak, sudah dulu ada tamu."
" Yaudah, nanti malam kita Sambung lagi."
" Bye..!! "
Puspita pun menuju pintu, karena terdengar suara ketukkan beberapa kali.
Ceklek
Puspita menatap siapa tamu yang datang, senyuman sapa an dari wajah pria yang sangat dia kenal membuat Puspita seakan malas untuk bertemu.
" Ada apa Mas? " Tanya Puspita.
" Mas bawakan nasi sama lauk buat kamu." Jawab Galih.
" Nggak perlu repot - repot di kulkas sudah ada stok."
" Ini kan sayuran yang tadi siang kamu beli, ini kita masak sama - sama tadi."
" Saya sudah makan, kasih saja buat Pak Willy, dia kan tinggal sendiri hanya sama orang kepercayaan nya saja."
" Saya datang kemari hanya untuk memberikan ini sama kamu, terserah kamu mau makan atau tidak, yang jelas kamu terima ya."
Puspita menerima rantang dari Galih, lalu segera menarik gagang pintu rumah nya.
" Makasih."
Ceklek
Puspita menutup pintu rumah nya kembali, sedangkan Galih hanya tersenyum kecut.
******
" Dari mana Mas, jam segini baru pulang? "
" Habis dari rumah Pak Willy."
" Ngapain? "
" Ada perlu saja."
" Tadi kata Ibu Eko, Mas bawa rantang keluar mau kirim ke siapa? "
" Pak Willy, Mas kan tadi bilang habis dari rumah Pak Willy." Ucap Galih bohong.
__ADS_1
" Mas Yakin, nggak bohong? "
" Kamu lebih percaya sama Ibu Eko atau sama suami kamu? "
" Percaya sama Mas."
" Bagus, lain kali jangan suka curiga."
******
" Bu Puspita, tolong pengajuan KGB Pak Yosep sama Ibu kristin untuk bulan September. " Ucap Ibu Susan.
" Baik Bu, nanti saya urus, ini berkas nya sudah lengkap ya nanti besok Saya proses ke kantor Dinas."
" Terima kasih Bu Puspita."
" Sama - sama."
Puspita pun melanjutkan pekerjaan nya, dan lalu seorang security mendatangi dirinya.
" Bu Puspita, ini ada kiriman makanan."
" Dari siapa? "
" Nggak tahu , laki - laki pakai masker, dia hanya titip untuk Ibu. "
" Sekarang mana orang nya? "
" Dia pergi."
" Makasih ya pak."
Puspita pun membuka kotak yang katanya berisi makanan, dan memang sebuah nasi berisi daging dan telor, serta sebuah kertas yang di lipat.
Puspita membuka lipatan kertas tersebut, dan terdapat sebuah tulisan peringatan.
Hati - hati, dia sudah mulai curiga...!!!
Puspita menarik nafasnya, lalu membuang kertas yang bertuliskan peringatan.
" Siapa sih dia? "
" Akh... kenapa harus kempes begini ban sepeda nya." Ucap kesal Puspita saat sepeda nya kempes di tengah jalan.
Lalu terlihat Galih membawa motor nya berboncengan , dan berhenti tepat di depan nya.
" Dia lagi, dia lagi, apa dunia ini sempit." Ucap Puspita kesal.
" Kenapa? " Tanya Galih turun dari motor nya.
" Lihat sendiri, ban nya gimana." Jawab Puspita jutek.
" Bocor? "
" Sudah tahu tanya."
" Kamu pulang duluan, Saya mau antar Bu Puspita dulu. Nanti Saya telepon kamu."
" Ok Bang, Saya duluan."
" Ngapain sih repot - repot, Saya bisa sendiri pulang."
" Masih 800 meter lagi."
" Deket kali, situ yang lebay."
" Sini biar Mas yang bawa." Ucap Galih sambil menarik sepeda.
" Mas, seharusnya Mas nggak boleh seperti ini, Mas punya istri, Saya nggak mau di bilang pelakor."
" Dia nggak tahu kamu siapa, dia hanya tahu kamu teman Saya, kalau misalkan Rena tanya dan tahu."
" Mas bahagia ya, sampai sekarang rumah tangga Mas bahagia, walau awalnya terpaksa."
" Alhamdulilah, sedang hamil 8 bulan."
" Syukurlah, nggak seperti hidup Saya, gagal dua kali, dan sekarang Saya mencoba membuka hati, kita malah sudah tunangan, tapi belum jelas nikah nya kapan."
__ADS_1
" Semoga lancar."
" Amin."
" Maaf untuk sekian kalinya."
" Maaf juga sakit hati ini tak bisa terobati."
Puspita dan Galih Pun sampai di rumah Puspita, dan saat memasuki rumah untuk menyalakan kipas tak menyala, dan mencoba stop kontak pun tak menyala.
" Apa mati lampu? "
" Hari ini giliran padam, besok baru nyala."
Seketika Puspita terduduk lemas, dan diam menaikan kedua kakinya di atas sofa, sambil menutup kedua telinganya.
Galih melihat ekspresi Puspita sangat kaget, melihat tubuh Puspita bergetar rasa takut.
" Kamu kenapa? "
Galih mencoba mendekati Puspita, dan berjongkok berhadapan dengan Puspita yang tertunduk sambil menangis.
" Kamu kenapa? "
Hiks.. hiks... hiks...
" Saya takut gelap, bayangan itu muncul."
Hiks.. hiks.. hiks..
" Bayangan apa? "
Hiks.. hiks.. hiks..
" Dimana gelap, Saya melihat Papah sama Mamah bertengkar, saling pukul, dan mereka akhirnya bercerai. Saya takut gelap, karena saat itu Saya melihat mereka terakhir hidup bersama dan meninggalkan Saya."
" Kamu Trauma Healing, kamu punya obat? "
" Saya sembunyikan trauma ini, setiap mati lampu Saya seperti ini."
" Kamu ada obat? "
" Ada, tapi jangan pergi."
" Ambil obat saja di kamar."
Galih masuk ke kamar Puspita, dia mencari obat yang di maksud, dan menemukan obat tersebut langsung di berikan pada Puspita.
" Kamu seperti nya nggak rutin minum obat nya, dan tidak memeriksa kan kondisi kamu."
" Saya sedang mencoba sembuh tanpa obat, saya sedang belajar mencoba melawan rasa takut pada gelap, setiap mati lampu, kata - kata itu masih terlihat jelas."
" Kamu mau menghilangkan rasa trauma itu? "
" Mau."
" Malam ini, kita lewati gelap nya tanpa penerangan, mas akan jaga kamu."
******
Malam pun tiba, puspita sudah merasakan gelisah, Galih pun duduk di samping Puspita di sofa ruang tamu dengan pintu yang terbuka.
" Kamu pasti bisa melawan gelap ini, kamu harus berusaha tenang, kamu harus yakin pasti bisa. "
" Pergi lah Mas, Saya ingin mencoba hadapi sendiri."
" Mas nggak akan tinggalin kamu, dalam kondisi seperti ini."
" Mas punya istri, Saya nggak pantas minta Mas untuk menemani saya."
" Kamu ingin minta tolong sama Pak Willy yang baru kamu kenal, Mas sudah kabari Rena untuk jaga malam bersama warga, itu alasan yang mas pakai."
Tiba - tiba tangan Puspita meremas paha Galih, dan Puspita memejamkan mata nya.
" Aku harus bisa melawan nya."
Galih memeluk tubuh Puspita, terlihat Puspita tampak tenang, tubuh yang gemetar pun seakan berhenti.
__ADS_1
" Mas akan temani kamu malam ini, untuk bisa melawan rasa trauma ini, kamu harus yakin gelap yang dulu berbeda dengan gelap yang sekarang. Belajar lah untuk melupakan masa lalu, tenangkan pikiran kamu." Ucap Galih berbisik di telinga Puspita.
Galih mengecup pucuk kepala Puspita, dan terlihat Puspita sudah tampak tenang, terlihat Puspita memejamkan mata nya, tertidur di dalam pelukan Galih.