
" Apa benar yang di katakan Rena, kejadian ini ada hubungan nya dengan Puspita? "
" Abang percaya? " Tanya Dito.
" Maksud kamu? " Jawab Galih balik bertanya.
" Abang percaya mantan Abang melakukan nya, tapi bisa saja dengan tiba - tiba mengirim buah jeruk itu sebagai tak tik. "
" Menurut saya, apa yang di katakan Dito ada benar nya, mantan itu mungkin ingin merebut kamu dari Rena, dan cara kalian pisah juga sakit nya nggak bisa di tulis dengan kata - kata." Ucap Kemal.
" Tapi seorang Puspita saya nggak percaya kalau dia memang melakukan nya."
" Mungkin saja, jangan lihat dari sikap, kita ini seorang Tentara cara menyamar seperti apa." Ucap Kemal.
" Jadi intinya Bang, harus hati - hati." Ucap Dito.
" Saya minta penjagaan yang ketat, kalau ada yang mencurigakan langsung saja bekuk."
******
" Mas, saya takut." Ucap Rena saat sudah pulang ke Asrama.
" Kamu jangan takut, dia nggak bakalan masuk kemari."
" Bisa saja nekad masuk nggak ketahuan."
" Apa kamu ingin pulang ke jawa saja? "
" Kalau saya pulang ke jawa, bisa - bisa Puspita merebut Galih dari saya, dan rising nyawa saya terancam, Galuh pasti akan datang lagi." Ucap Rena dalam hati nya.
" Bunda." Ucap Galih.
" Akh iya, tidak lebih baik disini saja. Saya yakin dia nggak berani kemari."
" Mulai sekarang, jangan biarkan Bagas main di luar,sementara biarkan dia main di dalam."
******
" Pak Willy, kok banyak warga di rumah Bapak?" Tanya Puspita.
" Oh, tadi mereka habis mengangkut bahan baku untuk perbaikan jembatan yang putus."
" Jembatan yang mana? "
" Yang arah menuju kampung sebuah, karena tanah nya longsor."
" Itu ibu - ibu sedang masak untuk warga yang Ikut gotong royong?"
" Iya, mereka masak untuk warga dan beberapa Tentara yang Ikut membantu."
" Kalau begitu Saya gabung ya Pak."
" Silahkan Mba Puspita."
Puspita pun menuju ke arah Ibu - ibu yang sedang memasak, dan Puspita pun membantu apa yang bisa di lakukan oleh nya.
" Ini kue nya di tata di dalam box bu? "
__ADS_1
" Iya bu susun saja di box."
****
Para warga dan beberapa Tentara pun istirahat setelah bergotong royong memperbaiki jembatan yang rusak. Para Ibu - ibu pun membawa nasi bungkus, dan beberapa kue.
" Mas ini nasi sama air nya." Puspita memberikan nasi bungkus dan gelas berisi air teh hangat pada Galih.
" Mas bisa ambil sendiri." Ucap Galih berjalan ke arah dimana orang - orang mengambil nasi dan minuman.
Puspita mengikuti langkah Galih, hingga Galih duduk di atas rerumputan. Galih hanya diam memakan nasi nya, tanpa peduli kepada Puspita yang duduk di sampingnya.
" Mas, istri nya sudah melahirkan? "
" Sudah, bayi nya laki - laki."
" Selamat ya Mas, seandainya dulu kita jadi menikah mungkin kita sudah punya anak satu atau dua, tapi sayang kita nggak berjodoh, seandainya waktu bisa di putar dan merubah semua apa yang terjadi."
" Kita sudah berbeda sekarang, yang di depan kamu sudah punya anak, dan kamu pun sudah tunangan."
" Jujur Mas, Saya masih mencintai kamu. Rasa ini timbul lagi saat kita bertemu kembali. Saya ingin kita seperti dulu lagi, walau Saya jadi yang kedua pun rela."
Galih menatap ke arah Puspita, yang menundukkan wajah nya sambil memainkan karet yang mengikat bungkus nasi yang di pegangnya.
" Kamu serius? "
" Mas, bisa kah kita memulai itu kembali, Saya ingin sebelum Saya jadi istri sah Kak Heru walau sebentar kita mulai lagi awal kisah yang dulu."
Galih menatap ke arah Puspita, senyum nya mengembang saat menatap ke arah Puspita.
" Kita bisa bermain cantik."
******
" Ayah sudah pulang." Ucap Rena sambil mencium punggung tangan Galih.
" Siapa itu? " Tanya Galih dengan mengarahkan dagunya ke arah wanita paruh baya.
" Oh itu pengasuh buat Panji." Jawab Rena sambil membantu melepaskan seragam Galih.
" Kenapa nggak bicara dulu sama Mas, jangan bawa orang asing, kamu nggak ingat kejadian di rumah sakit kemarin."
" Ini bekas pembantu di rumah Ibu Halimah, kan Ibu Halimah sudah Ikut sama suaminya."
" Mas hanya khawatir saja, dan gara - gara kemarin Mas minta penjagaan yang sangat ketat di depan bahkan dekat rumah kita."
******
Tok... Tok... Tok...
Puspita pun beranjak dari tempat tidurnya, saat jendela kamar nya di ketuk, dengan segera memakai kembali hijab nya.
" Mas Galuh."
Galuh lalu segera memasuki kamar Puspita, dan menutup kembali jendela kamar tersebut.
" Mas, kenapa kamu datang kemari, dan nggak pantas masuk ke kamar perempuan."
__ADS_1
" Kemarin Saya hampir saja mengakhiri hidup Rena, dia sudah tahu Saya masih hidup. Galih hampir saja menangkap saya."
" Mas Galih tahu, kalau itu Mas? "
" Mas segera pakai masker nya, dia mencoba membuka masker milik Mas tapi Mas tepis."
" Terus apa rencana Mas? "
" Rena pasti mencari keberadaan saya."
" Bukan nya bagus, memanggilnya ke kandang macan."
" Iya, tepat sekali."
" Seperti rencana awal, kita bongkar kejahatan nya dengan apa yang kita sudah susun."
******
Puspita mengayuh sepedanya saat akan berangkat Dinas, seperti biasa pemandangan yang tidak terlewat Para Tentara sedang berlari pagi. Terlihat Galih pun Ikut, dan tersenyum ke arah Puspita, begitu pun juga Puspita tersenyum ke arah nya.
" kenapa senyum nya bikin jantung ini berdetak begitu kencang? " Ucap pelan Puspita.
" Kenapa jadi begini, jangan sampai ini terjadi, permainan baru saja di mulai."
Dari arah searah terlihat truk bermuatan kayu bergerak sangat kencang, menyalip beberapa pengendara motor dan sepeda.
Braaakkkk....
Ciiiiitttt
Braaaaakkk
Para Tentara yang sedang berlari pun berhenti setelah terdengar suara yang sangat keras, Galih menoleh saat melihat sebuah truk menabrak pohon besar hingga bagian depan yang ringsek.
Dan orang - orang pun berlari, begitu pun Galih dan teman - teman nya.
" Cepat tolong di bawah truk ada orang yang terlindas." Teriak salah satu warga.
Mobil yang terlihat sangat parah hingga bagian depan ringsek dan sang supir pun tewas di tempat dengan tubuh yang tergencet.
" Ini Ibu Puspita." Ucap salah satu warga yang mencoba menolong korban yang tepat di bawah ban.
Deg
Seketika Galih merasakan lemas, dan mencoba berjongkok, matanya menatap tajam ke bawah kolong truk, orang yang sangat dia kenal bersimpah darah dengan kondisi menelungkup tepat di bawah ban Mobil.
Air mata Galih tiba - tiba lolos, dan segera mencoba masuk ke dalam kolong truk.
" Cepat bantu, tolongin dia." Teriak Galih.
Warga pun berusaha mengeluarkan tubuh Puspita, terlihat jelas wajah yang sudah bersimbah darah hingga sekujur tubuhnya, darah yang telah memenuhi seragam PDH milik Puspita.
*****
Praaanggg
Heru melihat photo Puspita yang ada di meja kerja nya jatuh begitu saja, hingga kaca figura berserakan.
__ADS_1
" Kok tiba - tiba jatuh, nggak ada angin atau getaran."