Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Hati Pun Telah Memilih


__ADS_3

Tangan Galih masih tetap setia di genggam oleh Puspita, mata pun masih terpejam dengan setia nya.


" Masih susah di lepas? " Tanya Tante Lia.


" Masih Tante." Jawab Galih.


" Kenapa nggak kamu nikah kan saja Puspita, dari bahasa tubuh saja sudah terlihat tangan itu tidak Mau terlepas dari kamu."


" Maaf Tante, mungkin lebih baik seperti ini, Saya tidak ada niat jadikan dia yang kedua. Saya mempunyai anak dan istri."


" Kamu tahu, jaman sekarang banyak yang beristri dua, yang penting adil dan main cantik."


" Maksud Mba Lia apa, bicara seperti itu? " Tanya Tante Tini tiba - tiba datang.


" Lihat Puspita nggak Mau lepas, dari bahasa tubuh saja dia nggak Mau kehilangan dia. Nikahin saja Puspita, walau jadi yang kedua. Saya sebagai Mamah nya setuju, anak Saya nya seperti itu."


" Puspita sudah punya calon, dia saja ada disini. Jangan jadikan anak mba pelakor, jangan sama kan mba yang Mau di jadikan istri kedua setelah cerai dengan Mas Anto."


Heru mendengar perdebatan antara mantan Kakak Ipar dan adik Ipar, Heru lalu duduk di depan kamar rawat di kursi tunggu.


" Apakah kamu memang masih mencintai Galih, sebenarnya hati kamu sama Saya bagaimana? "


" Kamu kenapa? " Tanya Pak Anto.


" Papah." Jawab Heru .


" Kamu baik - baik saja? "


" Baik Pah."


" Papah tahu hati kamu nggak baik, mulut boleh bilang baik, tapi hati tidak baik."


" Seandainya suatu saat hati mana yang dipilih, Saya siap mundur."


Pak Anto menatap ke arah Heru, dan tampak wajah yang terlihat sedih .


" Saat sadar Puspita akan tetap memilih kamu."


" Saat sadar itu, perasaan di putar balikan, dan saat seperti ini adalah kenyataan yang sebenarnya."


" Papah lebih setuju kamu sama Puspita, Papah nggak rela Puspita harus jatuh pada lelaki beristri apalagi sudah punya anak."


" Tapi dia cinta pertama Puspita."


" Cinta pertama apa, buat apa mencintai pria seperti dia, awal saja sudah mengecewakan."

__ADS_1


******


Bagas memberikan susu formula yang berada di dalam botol susu ke adik nya Panji Rena hanya sedang meringis kesakitan saat melihat luka tembak nya mengeluarkan darah.


" Bunda, Ayah kapan datang? " Tanya Bagas.


" Ayah kamu sedang sibuk dengan wanita lain, sampai sekarang chat Bunda belum di baca. " Jawab Rena.


" Bunda, tubuh Panji panas."


" Kasih susu yang banyak, nanti juga sembuh." Ucap Rena asal."


Rena terus menatap kedua anak nya dengan Ayah yang berbeda, tampak mata yang berkaca - kaca saat menatap kedua nya.


" Maaf kan Bunda nak."


*****


Hampir 3 jam tangan Galih yang masih setiap di genggam oleh Puspita, tangan yang hampir berkeringat tersebut membuat Galih merasakan tak nyaman.


" Puspita apa kamu tidak capek terus menggenggam seperti ini? "


Galih terus menatap wajah yang tampak pucat, dan masih setiap menutup mata.


" Mas, nggak akan pergi, saat mata kamu terbuka pertama yang kamu lihat adalah Mas. Dari bahasa tubuh kamu pun, Mas tahu kamu nggak ingin kehilangan Mas, tapi kita nggak bisa bersatu. Namun Mas akan selalu ada buat kamu saat ini, bangun lah sayang, Mas nggak akan pergi jauh." Galih mencium punggung tangan Puspita dengan sangat lama, hingga beralih ke kening."


" Bangun lah sayang, Mas merindukanmu, Mas mencintai kamu."


Tangan pun terlepas, Galih pun terkejut saat tangan Puspita terlepas begitu saja, seutas senyuman dari wajah Galih, lalu kembali mencium kening nya.


Dreeett... dreeett....


Ponsel Galih berbunyi, dan terlihat nama Kemal yang ada layar ponsel nya.


" Halo."


#


#


#


#


#

__ADS_1


" Baik Saya kesana sekarang ." Ucap Galih setelah memasukan .


Galih langsung bergegas beranjak dari duduk nya dan berlari begitu saja meninggal kan Puspita. Heru dan Pak Anto pun melihat saat Galih keluar dengan berlari.


Mata yang terpejam lama pun akhir nya terbuka, dengan bersamaan air mata yang telah lolos membasahi kedua pipi nya.


Saat pertama yang Puspita lihat, adalah ruangan yang serba Putih.Puspita pun menangis, dan mengangkat tangan kanannya, masih terasa genggaman tangan Galih, yang Puspita ingat dalam mimpinya.


" Sayang. " Heru kaget saat melihat Puspita sudah sadar.


" Tubuh Saya kenapa Kak? " Tanya Puspita.


" Kamu kecelakaan, dan satu minggu lebih kamu koma." Jawab Heru.


Puspita menoleh seperti mencari sesuatu yang entah apa yang dia cari.


" Alhamdulilah sayang. " Ucap Pak Anto saat memasuki kamar rawat inap Puspita.


" Pah, tubuh Puspita kenapa? "


" Tulang panggul kamu retak Sayang, sekarang sedang masa pemulihan untuk penyatuan tulang panggul kamu kembali, bila sudah terlihat menyatu, akan di lepas Pen nya." Ucap Pak Anto.


Puspita masih terus menatap pintu, entah siapa yang dia tunggu, rasa hatinya seperti rasa menanti dan kehilangan.


" Kamu kenapa yank, sedang cari apa? " Tanya Heru.


" Mimpi itu seperti nyata." Jawab Puspita.


******


Galih telah sampai di rumah nya, terlihat mobile ambulance dan beberapa Polisi berada di rumah nya, begitu pun teman - teman Galih berada di rumah nya.


" Ada apa? " Tanya Galih pada semua orang yang ada di depan rumah nya.


" Kamu lihat sendiri." Jawab Kemal.


Kaki Galih merasakan lemas begitu saja, walau belum tahu apa yang terjadi. Saat Galih memasuki rumah nya, bertapa terkejut saat melihat tubuh yang bersimbah darah. Bi Ratih, pengasuh Panji.


Galih mencari sosok istri dan kedua anak nya, yang entah kemana.


" Istri Saya mana? " Tanya Galih.


" Pak kami sudah memeriksa kejadian ini dan kami lihat ini bukan motif pencurian, ini seperti sengaja." Jawab salah satu Polisi yang menangani kasus Bi Ratih.


" Maksud nya, istri Saya yang melakukan ini semua? " Ucap Galih kesal.

__ADS_1


" Anda coba hubungi istri bapak, mungkin bisa membantu memecahkan kasus ini, karena saksi satu - satunya istri Bapak. "


Galih mencoba mengambil ponselnya yang berada di saku celana, dan terlihat beberapa pesan dan panggilan masuk dari Rena sebelum Kemal mengabarinya.


__ADS_2