Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Sebuah Janji


__ADS_3

Puspita menerima Cincin yang di sematkan di jari manis nya, yang Ikbal Pasangkan. Senyum mengembang kedua nya sangat terlihat, begitu pun dengan kedua keluarga mereka.


Sahabat - sahabat Puspita pun datang, mereka menjadi saksi pertunangan Ikbal dan Puspita.


" Alhamdulilah, Akhir nya dua keluarga akan bersatu dengan ada nya ikatan tali pernikahan." Ucap Pak Erik.


" Kita semoga bisa menjadi keluarga besar ya Pak, dengan ada nya pernikahan anak kita." Ucap Pak Anto.


" Amin ya Allah."


" Mamah nggak menyangka, kamu cantik Puspita. Ikbal nggak salah memilih calon istri." Ucap Ibu Meri.


" Tante bisa saja." Ucap Puspita.


" Jangan Panggil Tante, Panggil Mamah."


" Iya Mah."


Ikbal memegang tangan Puspita, dan mereka saling bertatapan mata dengan sebuah senyuman.


" Setelah berkas pengajuan selesai kalian langsung melaksanakan Akad Nikah, karena kami disini nggak bisa lama." Ucap Pak Erik.


" Kita sebenarnya sudah mengumpulkan berkasnya, besok pengajuan nikah." Ucap Ikbal.


*****


" Akhirnya kamu mau menikah dengan Puspita." Ucap Dandi.


" Alhamdulilah Bang, jodoh nya dekat saja." Ucap Ikbal saat sedang Dinas.


" Puspita itu wanita yang sangat berbeda, kenapa Saya bilang seperti itu. Karena Saya tahu, dan bisa kenal dia dekat karena dia teman adik Saya. "


" Iya Bang, Saya senang Puspita memilih Saya. Dimana ada orang lain yang sangat mencintai Puspita."


*******


" Mau yang mana Yank? " Tanya Ikbal saat memilih Undangan pernikahan.


Puspita memilih salah satu Undangan pernikahan dari beberapa pilihan warna dan model.


" Yang ini A, kayak nya bagus." Tunjuk Puspita.


" Ok, tinggal pilih souvernir yang mana? " Ucap Ikbal sambil memperlihatkan beberapa model souvenir.


" Ini lucu kipas sama gantungan kunci angsa."


" Kita pisah ya, yang akan kita ambil. Terus kita bikin Undangan 1000."


" Banyak banget A."


" Kamu minta berapa Yank? "


" Minta 300 saja."


" Ok, cukup buat Aa 700 itu di bagi sama kenalan dan teman - teman Mamah Papah. Kalau keluarga dekat kan, nanti omongan saja Mamah Papah yang datang ke rumah mereka. Kamu juga sama Kan? "


" Iya sama."


*******


Di bawah pohon yang sangat rindang, di tengah - tengah hutan dengan senjata yang dia dekap. Melihat sebuah kiriman video yang di kirim oleh sahabat nya.

__ADS_1


Senyum itu terlihat di paksakan dan genangan air mata, dan sedikit hati yang merasakan ada rasa tak ikhlas.


" Astaghfirullah." Dirinya sadar saat melihat Cincin yang tersemat di jari manis nya.


*******


" Cantik nya calon mantu mamah." Ucap Ibu Meri saat fitting baju pengantin.


" Sayang A Ikbal nggak lihat Mah."


" Kejutan juga, suami kamu kan lagi Dinas. Sebentar lagi juga dia datang."


Baru saja di bicarakan, Ikbal datang yang masih mengenakan seragam Dinas nya.


" Mah, ini siapa? " Sindir Ikbal.


" Nggak tahu Mamah nggak kenal." Ucap Ibu Meri.


" Ih... Aa. " Ucap Puspita sambil mencubit pinggang Ikbal.


Aaawwww


" Sakit tahu Yank."


" Kamu cantik." Ucap Ikbal.


" Beneran A, saya cantik? "


" Benar sayang."


" Mamah tinggal sebentar ya, karena Mamah ingin fitting kebaya juga buat acara nanti.


Ikbal menarik tangan Puspita memasuki ruang ganti, dengan mendorong tubuh Puspita di dinding kamar ganti.


" Sayang, rasa nya pengen besok saja kita menikah." Ucap Ikbal sambil menautkan kening nya di kening Puspita.


" Sabar A, kita satu minggu lagi."


" Aa nggak tahan sayang, kalau lihat kamu secantik ini." Ucap Ikbal dengan sentuhan yang membuat Puspita sedikit tersengat aliran.


" A, kita keluar nggak enak nanti Mamah nyari kita."


Cup


Ikbal mencium bibir Puspita sekilas, dan lalu mengusap bibir nya sendiri dengan jari tangan nya yang di bantu oleh Puspita, karena ada sedikit lipstick yang menempel.


" Masih ada nggak? " Tanya Ikbal sambil menatap dirinya di cermin.


" Sudah nggak ada."


Ikbal yang duluan keluar, untung Mamah nya tak mengetahui apa yang dilakukannya. Selang beberapa detik, Puspita pun keluar dari kamar ganti.


******


" Kak Heru." Sapa Anggi.


" Hey, sama siapa? " Tanya Heru.


" Sama suami." Jawab Anggi.


" Kak, sudah dapat kabar dari Puspita? "

__ADS_1


" Kabar apa ya, soalnya sekarang sudah jarang komunikasi."


" Dia minggu depan mau menikah, mungkin Undangan nya belum di sebarkan."


" Menikah..!!! " Ucap Heru dengan dada yang sangat begitu sesak setelah mendengar kabar tentang Puspita.


" Dengan Polisi itu ya? "


" Iya Kak, nanti pasti datang kan? "


" Insya Allah pasti datang."


*****


" Sudahlah, Puspita itu belum jodoh kamu." Ucap Ibu Imah.


" Iya bu, Saya ikhlas kok."


" Belajar ikhlas itu tidak mudah, kamu mengucapkan nya tapi di hati kamu masih ada rasa tak ikhlas." Ucap Ibu Imah sambil menunjuk dada Heru.


" Dia adalah wanita yang pertama Saya jatuh cinta, mungkin dia lari ke pria yang sudah jelas karena kesalahan Saya, yang tidak segera menyatakan nya, dan membuat dia banyak berharap."


" Yang sudah lah sudah, kalau bukan jodoh ya harus bagaimana lagi."


" Doa kan Heru ya bu, semoga dapat pengganti nya Puspita. "


" Doa seorang Ibu tak akan pernah putus."


*****


" Mah, nanti datang ya ke pernikahan Puspita."


" Maaf sayang, Mamah hanya kirim doa saja. Karena Mamah nggak bertemu dengan Papah kamu." Ucap Ibu Lia.


" Mah, Ikbal minta restu ya minta doakan kami." Ucap Ikbal saat ikut bertemu dengan Mamah Puspita.


" Mamah, walau cuek sama kamu. Mamah akan tetap mendoakan anak Mamah, Mamah ingin kamu tidak seperti kedua orang tua kamu. Jadikan pernikahan ini sampai maut memisahkan kalian, selesaikan masalah baik - baik, karena suatu hubungan rumah tangga banyak sekali cobaan nya."


" Puspita akan ingat wejangan dari Mamah."


" Terima kasih Mah. " Ucap Ikbal.


Ibu Lia memeluk tubuh Puspita, kali pertama Puspita merasakan pelukan dari Mamah nya. Sejak kecil dirinya telah terpisah dari kedua orang tua nya, karena perceraian.


******


" Wajah kamu bahagian sekali Yank, Aa lihat setelah pulang dari rumah Mamah."


" Bahagia A, Mamah mau memeluk Saya. Sekian lama di usia 23 tahun Mamah baru memeluk Saya kembali."


" Bagaimana pun kondisi orang tua kamu, mereka tetap orang tua kamu sayang. Dan kita harus tetap menghormati mereka. "


" Semoga anak - anak kita tidak akan pernah merasakan apa yang Saya rasakan."


" Kita harus saling percaya sayang."


" Benar kata Aa, kunci nya harus saling percaya." Ucap Puspita sambil memeluk lengan Ikbal saat menyetir mobilnya.


******


" Nggak mungkin, nggak mungkin... "

__ADS_1


" Kenapa Nak?"


Seorang wanita memperlihatkan sebuah secarik kertas, dan sang Ibu begitu sangat terkejut dengan membaca apa yang ada di kertas terkejut.


__ADS_2