Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Genting Di Atas Sebuah Rindu


__ADS_3

" Mba Puspita, bukan nya kami nggak berbuat sesuatu. Kami sudah mengepung rumah Pak Willy yang telah menjadi target, kami semua harus melakukan nya dengan perhitungan karena yang kami lindungi manusia bukan boneka." Ucap Kemal.


" Benar, kami sudah melakukan yang terbaik." Ucap Dito.


Puspita hanya diam, duduk di antara Para Tentara yang memegang senjata. Wajah sedihnya terpancar hingga membuat hati nya tak menentu.


Sedangkan saat duduk Puspita melihat sepintas di layar monitor laptop, melihat suaminya babak belur, terlihat Pak Willy yang terluka dengan tubuh tangan dan kaki di ikat. Pandangan Puspita pun melihat seorang wanita di samping Galih, rambutnya acak - acak kan, dengan pakaian yang sedikit terkoyak, dan bersembunyi di belakang tubuh Galih.


" Sedangkan monitor lain, terlihat beberapa orang suruhan Pak Willy yang Puspita kenal pun tergelatak di lantai tak berdaya.


" Ya Allah, mereka kejam sekali, saya harus melakukan sesuatu, saya harus menyelamatkan suami saya. Tapi mereka ber senjata, bagaimana saya menghadapi mereka, kata mereka tadi para penembak sudah di posisinya masing - masing kenapa nggak langsung hajar sih."


******


" Kamu kenapa nggak mengakhiri nyawa saya sekarang, kenapa kamu sandera dua orang tak berdosa itu? "


" Willy... Willy.. kamu ingat kan, Ayah saya juga berakhir hidup nya secara perlahan, kamu juga harus sama. Dan mereka berdua saya ingin sebagai mainan kami, terutama wanita itu." Ucap Robby sambil memainkan pisaunya.


Gladis pun langsung memegang lengan Ikbal sangat erat, dimana 2 senjata api terus menodong ke arah nya.


" Kalian jangan macam - macam sama dia, kalau kalian macam - macam langkahi dulu mayat saya." Ucap Galih.


Hahahahaha....


" Sok pahlawan kamu." Ucap salah satu anak buah Robby.


Robby pun mendekati Galih yang duduk sambil memegang perutnya yang kesakitan dengan tangan satu nya memegang tangan Gladis.


Aarrrgghh..


Robby mencekik leher Galih, hingga kencang dan Galih sulit bernafas.


" Saya suka dengan gaya pria seperti mu, pasti bos besar akan senang menjadi kan kamu anak buah nya. "


Cuih


Buugghh


Robby mengusap wajah nya yang terkena ludah Galih, dan Galih mengusap pelipisnya yang terkena hantaman ujung senjata.


" Lebih baik saya mati dari pada harus bekerja dengan lintah darat seperti kalian."


" Hajar dia." Bentak Robby.


Buuugh


Buuugh


" Jangan... hentikan... hiks... hiks... hentikan...!!!" Gladis berteriak saat melihat tubuh Galih di hajar habis - habisan oleh anggota Sayap Merah.


******


" Kalian tahu dimana wanita yang duduk disini dan mengaku istri Letda Galih? " Tanya Saeful.


Semua Anggota mencari keberadaan Puspita, yang hanya sebuah koper, dan menghilang begitu saja.


" Senjata, senjata saya mana yang disini? " Teriak Halim.

__ADS_1


" Kamu taruh dimana? " Bentak Anggota senior Halim.


" Disini Bang!!! "


" Bodoh...!!! "


Plaaakk


" Dia membawa senjata kamu, seperti nya dia ingin menyelamatkan suaminya."


" Sungguh luar binasa, kejar dia..!!! " Ucap Kemal.


****


Puspita terus berlari melewati jalan tikus, sehingga dia aman melewati jalanan kecil yang hanya di kelilingi pohon jagung, dan beberapa rumah.


Senjata api yang dia bawa dan entah menggunakan nya bagaimana, Puspita curi ketika salah satu Anggota lalai meninggalkan di samping nya.


Hah.. hah... hah...


Puspita bernafas ngos - ngos an sudah 2 kilometer dirinya berlari, menghindari kejaran para Tentara.


Krasak krusuk terdengar, Puspita dengan cepat bersembunyi di balik pohon jagung, terlihat beberapa Anggota Sayap kanan menyeret mayat yang penuh luka tusuk, bahkan hampir terlepas salah satu anggota tubuh nya, dan terlihat beberapa mayat itu adalah beberapa Aparat desa dan staff kecamatan.


Puspita menutup mulutnya, menahan rasa mual melihat beberapa mayat yang di seret begitu saja.


Air mata dan tubuh gemetar melanda, dengan senjata yang dia dekap sangat erat, dan menutup mulutnya agar tak bersuara.


" Ya Allah selamat kan saya..!!! "


****


" Bisa habis dia."


Melalui earpeace nya, Kemal menghubungi salah satu Anggota yang sedang mengawasi rumah Pak Willy.


" Tolong hati - hati, ada warga sipil yang membawa senjata."


" Kenapa bisa lolos? " Bentak dari seberang.


" Maaf, kesalahan kami telah lalai. "


******


Puspita pun telah sampai di depan rumah pak Willy tampak gelap gulita, dimana terlihat dari jauh beberapa Tentara yang sedang mencintai, begitu pun pula di atas pohon bahkan di atas genting warga.


Puspita berjalan merindik, tatapan nya menyapu ke seluruh isi halaman, dia berlari melewati balik tumpukkan bata.


Suara percakapan pun terdengar, dan telinganya mendengar suara isakan tangis seorang wanita, dan suara Galih beserta Pak Willy yang tengah di siksa.


" Dasar beraninya main kroyokan, dan Puspita melihat Tim Pasukan khusus yang sudah bergerak untuk menembakkan ke arah pelaku.


Door...


Door..


Door..

__ADS_1


Baku tembak pun terjadi, Puspita pun berlari ke arah ruangan dimana suaminya, Pak Willy dan seorang wanita yang tengah di sandera.


" Awas tembakan, jangan mengenai warga sipil ada yang masuk area berbahaya." Teriak salah satu Tim Pasukan khusus yang melihat Puspita berlari.


Door..


Door.


Musuh terus menyerang saat Tim Pasukan khusus mengentikan tembakan, karena diserang baku tembak pun terjadi kembali.


Door...


Door.


Door..


" Seraaaanng.... "


Terlihat beberapa Anggota Sayap Merah menyerang, dengan melemparkan bom molotov dan menghujani dengan peluru.


" Tembak kan Gas air mata...!!! " Teriak salah satu Tentara memberikan perintah.


Tuuuiiinggg.. booommmm


Terdengar lemparan suara bom di lempar, hingga malam semakin mencekam.


Door


Door


Tuuuuiiknngg... booooommm


Door


Door


Tuuuuiiknngg... boommmm


Pasukan khusus pun berhasil menerobos masuk, sedangkan di tempat lain pun terjadi baku tembak, beberapa Anggota Sayap Merah tumbang satu persatu namun mereka tak mau menyerah.


Braaaakkk..


" Aaaakkkkkhhhhh... "


Door..


Door..


Door.


Satu persatu musuh yang berada di dalam ruangan tumbang tertembak, tangan yang gemetar pun hingga kaki tak bisa menopang tubuh hingga terduduk lemas. Dan membuat 3 orang yang babak belur menatap tak menyangka.


Mata mereka tak percaya apa yang di lihat di depan nya, nafas yang naik turun tak bisa di kendalikan kembali.


Dengan sekuat tenaga kembali berdiri menuju ke arah ketiganya yang kini tubuh mereka terikat, dengan melangkah gemetar sambil memegang senjata di tangan nya, dengan apa yang sudah di lakukan menghilangkan nyawa tiga sekaligus.


" Awas......!!!! "

__ADS_1


Door


Door


__ADS_2