
Abdi Negara Juga Manusia, sama seperti manusia lain nya. Mempunyai Sisi Positif dan Negatif. Tidak semua berkelakuan buruk atau sebaliknya, khilaf ikhlas sama seperti manusia lain nya. Bangga akan seragam yang di pakai, Saya pun merasakan namun kita harus tetap tunduk. Saya terlahir dari keluarga Abdi Negara , dengan profesi yang berbeda - beda dan sifat manusia yang berbeda pula. Kita ambil sepenggal pelajaran dari Kisah ini, karena setiap Kisah kita bisa ambil sisi positif nya, karena setiap karya menghasilkan sisi positif bukan negatif, atau menyudutkan sesuatu. Karena satu, kita adalah sama sebagai manusia seperti lain nya apapun itu profesinya.
3 Minggu Kemudian
" Hasil nya sudah keluar Bapak - Bapak, Ibu - Ibu, dan hasil ini pun kami lakukan berulang kali untuk mengeceknya, dan hasil nya 100 ℅ Berlin Heksa anak dari Pak Galih Heksa." Ucap pria yang memakai jas putih di samping Galih sambil memberikan hasil print out tes DNA tersebut.
Puspita mengambil paksa hasil print out tersebut dari tangan Galih, tampak mata berkaca - kaca saat membaca hasil nya, rasa lemas pun membuat kaki tak sanggup menopang hingga tubuh nya pun ambruk begitu saja di dekapan Pak Anto.
" Puspita..!! " Galih berusaha menolong Puspita yang pingsan di pelukan sang Papah.
" Enyah kamu dari anak Saya. " Ucap Pak Anton sambil mendorong kasar tubuh Galih.
" Pah, Saya mohon..!! " Ucap Galih melemah.
" Jangan pernah sentuh anak Saya, kamu sudah menyakiti anak Saya." Ucap Pak Anto sambil menggotong tubuh Puspita.
" Pah..!! "
Ibu Amel menahan pundak Galih agar tidak mengejar Puspita yang di gendong oleh Ayah nya.
" Kenapa Mamah tahan..!! " Bentak Galih.
" Kamu percuma mengikuti mereka." Ucap Ibu Amel.
" Sekarang kamu percaya kan , Berlin anak kamu." Ucap Gladis.
" Kenapa kalian datang di saat Saya memiliki kehidupan yang baru." Ucap Galih dengan mata yang berkaca - kaca.
" Kenapa, seolah Saya dan Puspita tidak bisa bersatu." Ucap Galih kembali.
" Saya juga membutuhkan kamu, Berlin juga membutuhkan kamu." Ucap Gladis.
*****
Eegghhh
Puspita pun sadar dengan perut yang sedikit kencang, dan kepala yang masih sangat pusing.
" Nak, bagaimana keadaan kamu? "
__ADS_1
" Pah, hiks... hiks... hika... "
Pak Anto memeluk tubuh Puspita,tangisan keras pun keluar. Dengan erat Puspita memeluk tubuh Pak Anto di ruang ICU, Pak Anto pun merasakan apa yang di rasakan Putri nya.
" Kita pulang nak, kita lupakan semua nya. Kamu mulai kehidupan yang baru di Sana, Papah tidak rela kamu menjadi istri Galih."
******
" Pah Saya mohon, jangan bawa Puspita pergi dulu, biar urusan kami selesai dulu." Ucap Galih sambil berlutut di kedua kaki Pak Anto.
" Saya tidak Sudi punya menantu seperti kamu, kamu melakukan kesalahan yang tidak bisa di toleransi."
" Maaf kan Saya Pah, maaf kan saya."
Berlin memasuki rumah dimana Papah nya tinggal, Gadis kecil itu melihat Papah nya sedang berlutut di kedua kaki lelaki paruh baya, dan berdiri juga seorang wanita yang sedang menangis.
" Tante. " Berlin meraih tangan Puspita sehingga Puspita tersontak kaget.
" Maaf kan Papah Saya, Tante jangan marah sama Papah."
Galih menatap Berlin yang memohon pada Puspita, dan Puspita hanya diam tak merespon saat tangan Berlin memegang nya.
" Saya tahu Tante itu adalah mamah sambung Berlin, Saya senang memiliki Mamah dua. Berlin juga Sayang sama Mamah." Ucap Berlin sambil memeluk tubuh Puspita, namun Puspita tak membalas pelukan gadis kecil itu.
" Maaf kan Papah Sayang, maaf kan Papah yang tak tahu kamu lahir ke dunia ini."
Hiks.. hiks.. hiks...
" Anak yang di kandung Saya juga butuh kasih sayang Papah nya, anak Saya juga menginginkan kasih sayang yang lengkap."
Hiks.. hiks.. hiks...
" Tapi Saya belum bisa menerima ini semua, maaf kan Saya, maaf Saya belum bisa menerima kehadiran nya. "
Puspita melepaskan pelukan Berlin, dan memilih pergi menarik koper nya meninggalkan Galih yang masih memeluk Berlin.
" Mamah...!!! "
Puspita terus melangkah kan kaki nya, berjalan bersama Pak Anton, sedang kan Galih hanya memandang kepergian istrinya.
__ADS_1
" Mamah marah ya? " Ucap Berlin dengan polos nya.
" Mamah nggak marah sayang, mamah kaget."
" Berlin paham, kalau seorang anak memiliki orang tua rangkap itu berarti orang tau Berlin bermasalah seperti teman Berlin ada yang seperti itu. Berlin nggak Mau seperti dia, Berlin ingin selalu di dekat Mamah Papah. Berlin belum pernah merasakan kasih sayang, hanya photo Papah dan Mamah pun hanya uang yang di kirim. Berlin tak butuh harta, Berlin butuh orang tua."
Galih menarik ke dalam pelukan nya, memeluk erat tubuh mungil yang tak berdosa.
******
" Kamu senang kan sekarang? " Ucap Ibu Amel.
"senang lah Tante, Galih sudah berada di tangan Saya, tinggal memisahkan Galih sama Puspita. " Ucap Gladis.
"Tante hanya membantu sampai sini, Tante nggak mau om kamu marah sama Tante."
" It's ok, Tante boleh pulang. Biar Berlin disini, dia kan merengek ingin bertemu Papah nya sekarang sudah kan sama Papah nya."
******
" Mamah kenapa menutupi ini semua? " Tanya Galih Pada Ibu Amel .
" Maaf kan Mamah sayang, mamah baru tahu setelah kamu menikah dengan Puspita." Jawab Ibu Amel.
" Puspita pergi dan belum bisa menerima Berlin, dan Berlin memang butuh kasih sayang dari kedua orang tua nya. Kenapa datang di saat Saya dan Puspita sedang bahagia."
" Tante tidak tahu Gladis akan datang dan mengatur kepindahannya ke sini demi mengejar kamu, dan tiba - tiba bilang Berlin itu anak kalian. "
" Memang benar kami melakukan nya dulu beberapa kali, dan Saya dulu berniat akan bertanggung jawab, nyatanya dia pergi meninggalkan Saya demi Leon yang hanya memanfaatkan nya saja. Dan ancaman Rena yang selalu menghantuinya."
" Maaf kan Mamah kalau Mamah ada di balik ini semua."
" Mamah nggak salah, tapi rumah tangga Saya berada di ujung tanduk."
******
" Nak, apa kamu Mau Papah antar ke rumah sakit? "
" Nggak pah terima kasih, saya ingin langsung sampai di rumah."
__ADS_1
" Wajah kamu pucat nak, apa kamu baik - baik saja? "
"Yang sakit hati saya Pah, Dokter tak kan pernah bisa menyembuhkan sakit nya hati ini."