
" Iya sayang, ini sudah lagi siap - siap mau ke sekolah." Ucap Puspita sambil meloudspeaker panggilan telepon dari Heru.
" Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat" Ucap Heru dari seberang.
"Iya sayang, Kakak juga ya."
" Yaudah hati - hati, I love you."
" I love you too." Ucap Puspita sambil mematikan ponselnya.
Puspita pun dengan seragam PDH nya mengayuh sepeda milik Pak Willy, dia kayuh sepanjang 1 kilometer menuju ke tempat dia dinas.
Banyak warga lokal sambil membawa hasil kebun dan pergi untuk bercocok tanam, saling menyapa membuat suasana perkampungan sangat rukun.
Puspita pun berpapasan dengan Para Tentara yang sedang berlari pagi sambil bernyanyi, terlihat Galih yang memimpin lari, Galih tersenyum ke arah Puspita, namun Puspita diam dan lebih memilih tersenyum pada teman Galih.
" Bang, mantan lewat." Ucap Dito.
" Sssst.. berisik ada bini di rumah." Ucap Galih.
*****
" Selamat bergabung Ibu Puspita, semoga dengan menjadi warga SMPN 2 xxx Ibu betah di sini." Ucap Pak Robinson kepala sekolah SMPN 2 xxx.
" Saat pertama saya datang kemari, saya sangat senang, apalagi warga nya, pemandangan alam nya sangat luar biasa sehingga membuat saya betah."
" Syukurlah Ibu, sekali lagi selamat bergabung."
" Ibu kenalkan saya Ratih."
" Saya Puspita, senang bisa kenalan sama Ibu." Balas Puspita sambil saling bersalaman.
" Ibu duduk di samping saya, tugas saya sebagai Administrasi surat, dan ini Pak Indra sebagai operator, dan sebelah sana Pak Leo KAUR kita, dan Ibu sebagai Urusan kepegawaian, dan Ini Ibu Sindi sebagai Bendahara sekolah."
Mereka pun saling tersenyum ke arah Puspita, dan Puspita pun membalas senyuman mereka.
*****
" Ibu tinggal dimana? " Tanya Ratih.
" Jangan panggil ibu, panggil saja Puspita." Jawab Puspita sambil menuntun sepeda nya.
" Terasa kaku."
" Nanti juga biasa biar akrab, saya tinggal di rumah Pak Willy."
" Pak Kades? "
" Iya, Pak Willy baik, tapi saya belum pernah lihat Ibu Willy? "
" Ibu Willy meninggal dunia, saat ada perang antar warga yang adu panah, Ibu Willy jadi korban saat sedang perjalanan pulang, itu terjadi tahun kemarin."
" Ya Allah, apa mereka tak tahu siapa yang mereka lukai."
" Saat itu, warga seperti kesetanan semua, itu gara - gara bertolak pendapat yang tidak cocok kubu yang satu dengan kubu lain nya, dan saat itu Pak Willy menjadi penengah, entah bagaimana cerita nya, seperti kesengajaan mereka mengarahkan panah ke arah Ibu Willy."
" Kok saya ngeri ya lihat nya? "
__ADS_1
" Sampai sekarang orang yang jadi provokator nya belum ketemu juga."
******
Puspita mengantri di sebuah warung makan, banyak warga yang makan di warung tersebut, hingga terlihat beberapa Tentara pun sedang makan.
Dan saat masih mengantri, turun beberapa Tentara dari truck dan mereka memasuki warung tersebut, karena warung makan yang Puspita singgahi adalah warung makan yang terkenal enak dan harga terjangkau.
" Ibu mau makan disini atau di bungkus?" Tanya Ibu Penjual.
Puspita melihat sekeliling meja, dan terlihat paling pojok terdapat meja yang kosong.
" Disini saja, nanti antar kan di meja yang pojok itu. "
" Baik Bu."
Puspita pun berjalan menuju meja dan kursi yang kosong, sambil sesekali berbalas pesan dengan Heru.
" Makasih ya bu." Ucap Puspita saat pelayan mengantarkan pesanannya.
" Boleh duduk disini kan? " Tiba - tiba seorang Tentara bernama Dito duduk di depan Puspita.
" Boleh." Ucap Puspita cuek sambil melanjutkan makan nya.
Dito hanya senyum meledek arah senior nya, yang hanya menatap tajam ke arah dirinya.
" Kamu orang baru ya disini? " Tanya Dito.
"Iya saya baru. " Jawab Puspita.
" Puspita." Sambil terus konsentrasi pada makan nya.
" Disini tinggal dimana? "
Puspita menaruh sendok nya di atas piring lalu menatap Dito yang masih memandang Puspita.
" Maaf bisa Saya konsentrasi makan dulu, karena perut Saya lapar."
Hahaha hahaha....
Dari seberang meja terdengar gelak tawa, dan Galih pun ikut tertawa sambil memegang perut nya yang melihat junior nya sedang menggoda mantan dirinya untuk memanas - manasi Galih.
" Maaf..!! " Dito yang mati kutu langsung bergabung dengan Galih.
" Sudah merayunya? "
" Sudah Bang, sama bini Abang galak mana? "
" Kayaknya galak yang tadi kamu temui, dari situ juga bisa kelihatan kan." Ucap Galih sambil tersenyum.
*****
" Nak, tolong beli semua sayuran Ibu, tolong ya."
Puspita bertemu salah seorang Ibu tua renta menawarkan sayuran yang begitu sangat banyak, saat dirinya keluar dari warung makan.
" Ini buat apa ya bu, mungkin Saya kasih uang saja ya, Ibu butuh berapa? "
__ADS_1
" Maaf nak, Ibu hanya ingin menerima uang dari hasil jual sayuran."
" Kenapa? " Tiba - tiba Galih datang menghampiri Puspita.
" Saya kasih 300 rb, Saya ambil semua."
" Makasih nak."
Puspita pun mengambil sayuran yang terdiri dari kacang panjang, kangkung, tomato, wortel bahkan ada singkong.
Puspita hanya memandang sayuran yang banyak tersebut, lalu mencoba menata di sepeda nya.
" Mas bantu bawa semuanya, biar di bawa di truk."
" Kalau mau ambil saja semua, buat makan semua om Tentara."
" Serius? "
" Iya, karena Saya tadi hanya ingin menolong Ibu tadi."
" Dito, Kemal masukan sayuran semuanya ke truk." Perintah Galih, dan lalu Dito serta Kemal memasukan sayuran hasil kebun tersebut ke dalam truk.
Puspita yang tidak peduli pada Galih langsung mengayuh sepedanya, dan Galih hanya menggaruk kepala nya yang tak gatal melihat Puspita pergi begitu saja.
*****
" Bete banget sih, apa harus setiap hari ketemu sama dia. " Puspita membaringkan tubuh nya di atas kasur sambil membayangkan wajah Galih yang sangat dia benci.
Pletaak...
Puspita terbangun saat seseorang melemparkan sebuah batu yang terbungkus sebuah kertas.
Puspita mencari orang yang melemparkan batu ke dalam kamarnya lewat jendela kamar yang terbuka.
" Siapa sih, yang iseng." Ucap Puspita sambil membuka isi kertas yang membungkus batu tersebut.
Saya akan tetap di belakang kamu, saat nya tiba kamu akan mengetahui siapa Saya.
Hati - hati, saat ini dia belum mengetahui kamu, kalau sampai dia tahu, nyawa kamu ancamannya.
Puspita terduduk lemas, saat ini hidup nya terasa penuh tanda tanya, dan merasakan sebuah ancaman.
" Apa ini ada hubungan nya dengan pria yang mengenakan masker itu, siapa dia, apa hubungan nya sama Saya? "
Puspita masih diam duduk di Sisi ranjang nya, dengan meremas kertas tersebut.
" Tunggu waktu yang tepat, Saya juga ingin memberikan pelajaran bagi nya, yang membuat Saya jadi seperti ini."
******
Aaarrrgghh
prangg..
Sebuah ponsel terlempar ke lantai, hingga pecah, saat setelah membaca sebuah pesan masuk.
" Nggak mungkin, nggak mungkin itu dia. Saat itu Saya tahu bagaimana dia berakhir hidup nya, lantas siapa yang mengirim pesan seperti ini, apa benar itu dia. Kalau benar, ini bisa bahaya."
__ADS_1