
Tubuh yang terbaring lemah dengan jarum infus yang menusuk di tangan, terlihat wajah yang sangat di rindukan satu bulan terakhir begitu sangat pucat. Terlihat mata sembab, dan bekas air mata yang masih tersisa di sudut kelopak mata nya.
Dengan perlahan tubuh kekar itu menaiki atas ranjang , memiringkan tubuh nya dengan memeluk tubuh istri nya yang tengah tertidur.
" Maaf. " Sebuah ucapan pelan keluar dari mulutnya dengan sebuah kecupan di kening Puspita.
Tangan Galih mengusap pelan perut istri nya, sesak rasa dada saat mendengar kabar dari Tante Tini dengan kondisi Puspita.
Puspita merasakan sesak pada tubuh nya, dan terlihat sebuah tangan kekar melingkar di perut nya.
Puspita lalu secepatnya menghempaskan tangan milik Galih, dan Galih pun terkaget melihatnya.
" Sayang. "
Mata Puspita menatap tajam ke arah Galih, saat melihat suami nya yang selama satu bulan tak bertemu.
" Pergi kamu..!! " Bentak Puspita.
" Sayang."
" Pergi kamu Mas, jangan pernah kamu hadir lagi disini."
" Maaf. "
" Kita sudah tidak mempunyai hubungan apa - apa lagi, anak kita sudah tidak ada. Kamu bisa cerai kan saya, dan menikahi Gladis."
" Nggak, saya nggak akan cerai kan kamu. Apapun itu terjadi saya tidak akan pernah menceraikan kamu."
Puspita meneteskan air mata nya, rasa sakit dia rasakan, hati yang sakit, tubuh yang terasa lemas seperti terhantam sebuah ombak yang menenggelamkan tubuh nya.
" Mas mohon maaf kan kesalahan Mas, apapun itu Mas tidak akan pernah menikahi Gladis, tapi untuk Berlin Mas akan bertanggung jawab."
" Tidak hanya tanggung jawab Mas, Berlin butuh orang tua yang lengkap. Tuhan adil, memberikan jalan keluar, disini saya yang mengalah anak kita sudah tiada, kamu bisa menikahi Gladis, kamu bisa melepaskan saya."
" Nggak, mas nggak akan menceraikan kamu."
" Saya akan proses sendiri kamu tak mau, saya akan usahakan agar bisa terlepas dari kamu."
" Tidak...!!! " Bentak Galih.
" Sekali bilang tidak ya tidak. " Bentak Galih kembali.
" Sampai kapan pun saya nggak akan cerai kan kamu, kamu keguguran, kamu bisa hamil anak saya lagi." Ucap Galih menuruni ranjang.
" Kenapa kamu tidak ingin menceraikan saya? "
" Karena Mas, sangat mencintai kamu dan kamu wanita yang berbeda dari Rena dan Gladis. Mungkin banyak di luar sana yang seperti Rena dan Gladis, tapi wanita seperti kamu itu jarang ada."
" Saya tetap ingin minta cerai." Ucap Puspita dengan menahan tangisnya.
" Mas akan pergi, Mas tak akan pernah menampakkan lagi wajah ini bila kamu benci sama Mas, tapi status kita tetap sebagai suami istri. Dan sebagai suami Mas akan tetap bertanggung jawab, kapan kamu sudah tak marah lagi, Mas akan pulang ke kamu."
Galih pergi meninggalkan kamar inap Puspita dengan penuh emosi, sedang kan Puspita hanya bisa menangis dengan rasa sesak di dada.
__ADS_1
Hiks.. hiks.. hiks..
" Maaf kan saya... hiks.. hiks... "
****
Buugh
Buugh
" Brengsek kamu." Ucap Heru yang penuh emosi memukul Galih di parkiran rumah sakit.
Cuih
" Kamu mau jadi pahlawan untuk Puspita, jangan mimpi. " Ucap Galih penuh emosi.
Buugh
Buugh
Kedua pria tampan dan tinggi dengan seragam yang berbeda saling pukul, hingga pergulatan meraka mereda saat dua orang security melerai nya.
" Pak, kalian bisa selesaikan masalah ini di kantor." Ucap Security
" Nggak perlu." Ucap Galih dan Heru bersamaan.
******
Tante Tini mengobati luka Heru di wajah nya, terlihat Puspita menatap tajam ke arah Heru. Lalu Pak Anto pun datang dengan segera menghampiri Heru.
" Apa yang sakit? " Tanya Pak Anto.
" Nggak Pah, Heru baik - baik saja." Jawab Heru sambil Meringis.
" Kenapa kamu nggak lapor Polisi saja, saat Papah tahu dari Tini kamu baku hantam dengan Galih."
" Heru yang mulai, Heru yang emosi saat melihatnya. "
" Awas saja kalau dia masih datang kesini." Ucap Pak Anto.
" Kamu sungguh kejam Mas, saya nggak habis pikir kekesalan dan kekecewaan kamu membuat otak kamu bertindak kotor."
" Hey, Puspita anak saya, kamu tahu sejak dari awal kenal Heru hanya bisa menangis, pernah dia tersenyum nggak kan, dia tersiksa"
" Seharusnya Mas nggak usah ikut campur."
" Saya Papah nya berhak ikut campur."
" Puspita sudah dewasa Mas, biar dia memilih sendiri keputusan nya, bukan kamu yang memutuskan."
" Diam....!!! " Bentak Puspita.
" Kalian bisa diam tidak, hidup saya hancur, sakit hati saya, cinta yang harus terlepas paksa membuat saya tersiksa. Bisa kah kalian mengerti, kepala saya mau pecah seperti ini terus."
__ADS_1
******
" Kamu dimana? "
" Saya di Jawa."
" Kenapa kamu nggak bilang, seharusnya kamu ijin sama saya dan Berlin."
" Hak kamu apa ijin sama Kamu, cukup Berlin tahu saja sudah cukup."
" Galih, kami ini bukan orang lain, jadi kamu tidak bisa menyisihkan kami."
" Gladis, kamu memang Ibu dari Berlin dan saya anaknya, tapi ingat status kamu apa nya saya, jadi jangan suka mengatur hidup saya."
" Tunggu saja, secepatnya kamu akan menjadi suami saya. "
" Terserah, Saya sudah capek urusan dengan kamu, gara - gara kamu semua nya jadi begini."
"Bukan gara - gara Saya, tapi gara - gara wanita jahanam itu, untung dia sudah mati, kalau belum saya habisi juga."
" Sudah saya nggak mau berdebat, lebih baik kamu tutup teleponnya."
" Sial...!!! " Ucap Gladis setelah menutup sambungan teleponnya.
" Saya akan dapatkan kamu kembali, setelah sekian lama saya mengalah."
******
Kelap kelip lampu Disko menghiasi ruangan yang dengan aroma Alkohol yang sangat begitu menyengat. Iringan musik DJ, membuat tubuh tinggi terus berjoget mengikuti irama.
" Kita pulang, kamu sudah banyak minum."
" Masih sore bro, santai kita pulang pagi."
" Kamu jangan sampai istri saya marah, dan kamu ingat kita ini Anggota jangan sampai kita terjaring, kita bisa mampus."
" Alah... lupakan profesi kita, saat nya kita have fun."
" Kamu bisa selesaikan masalah baik - baik bukan dengan cara begini."
" Kamu kayak nggak ingat dulu, kita pernah mabuk bareng kan. " Ucap Galih sambil menegak minuman dari botol yang di pegangannya.
" Kita pulang." Ucap Nugi.
" Cerewet kamu, kayak emak - emak."
Nugi tak bisa apa - apa, saat tahu Galih sudah mabuk berat dua botol habis dia minum di tambah dengan botol yang ada di tangan nya.
" Bisa berhenti sebentar musiknya, bisa minta perhatian..!! " Tiba - tiba terdengar suara dari alat pengeras lain, dan lampu di mati kan berganti dengan lampu yang terang.
" Sial... kenapa berhenti woy..!! " Teriak Galih.
" Asem... nyata nggak, ada Razia kasus besar ini." Ucap Nugi saat melihat seorang aparat mendekati mereka berdua.
__ADS_1