
🌹🌹🌹🌹🌹
Pernah saling menatap
Lalu memilih langkah saling bersimpang
Menemukan kebahagiaan masing-masing
Mencoba mencari hujan yang lebih menyejukan.
Mencoba mencari pelindung lain
Kita sepakat untuk tidak lagi sepaket
Kita mendekati jalan-jalan yang membawa kita kepada jarak yang semakin jauh
Rindu hanyalah kata-kata kosong belaka
Kita merasa tak lagi saling menginginkan
Meski mungkin saja dalam hati terdalam masih ada getar.
Aku berdamai dengan diriku yang kalah dalam pertarungan mempertahankan mu
Aku menjadi pejalan yang pulang bukan lagi menujumu.
Kau terlalu liar untuk ku taklukkan
Kita tak menemukan ujung yang sama
Kita terlalu keras kepala untuk tetap memilih jalan yang berbeda.
Sudahkah kau merasa tenang
Setelah tak lagi memperjuangkan semua yang pernah kita tuju.
🌹🌹🌹🌹
3 Bulan Kemudian
" Apa kabar kamu? "
" Baik, lama kita tak komunikasi, saya baru Pulang satgas." Ucap Nugi dari seberang.
" Kita juga lama nggak bertemu hanya lewat komunikasi saja." Ucap Galih di sambungan teleponnya.
" Saya dengar semua kabar tentang kamu, saya turut berduka cita."
" Terima kasih."
" Kamu tahu kabar Puspita? "
" Nggak tahu, saya nggak mau tahu dia sudah Pulang ke Jawa. "
" Dia masih sakit, tapi kemarin istri saya bilang dia sudah bisa duduk namun di kursi Roda, karena terus melakukan pengobatan, mungkin satu tahun baru di angkat pen nya."
" Kapan ya kita ketemu? "
" Mainlah, saya sekarang tugas di tempat saya sendiri, kamu bisa bertemu Puspita, dia nggak jadi nikah sama Heru."
Galih hanya diam sambil memegang ponselnya, dan seakan terkunci mulutnya.
" Kamu bisa tuh deketin lagi Puspita, kesempatan bagus"
" Sudahlah jangan bahas itu, nanti kita sambung lagi." Ucap Galih langsung mematikan sepihak.
" Kamu datang kan di pernikahan Saya sama Alexa? " Tanya Galuh yang tiba - tiba datang dan duduk di samping Galih.
" Kamu serius nikah sama Alexa? " Jawab Galih kembali bertanya.
" Iya, setelah Saya memutuskan untuk menjadi pengusaha, Saya melamar Alexa."
" Kenapa nggak ingin bergabung menjadi Tentara lagi? "
" Alexa takut di tinggal pergi, dan dia sudah nyaman dengan hidup nya sekarang menjadi ibu sambung."
" Semoga sampai kakek nenek."
" Panji akan kami asuh, Alexa ingin Panji di asuh oleh nya."
" Terima kasih, Saya belum bisa mengasuh Panji, tapi Saya nggak akan meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ayah."
" Carilah pendamping hidup, apa kamu masih ingin tetap sendiri."
" Saya belum siap untuk menjalin dengan seorang wanita lagi. "
" Kembali saja dengan Puspita, dia nggak jadi nikah sama Heru. "
__ADS_1
" Kenapa hari ini semua menyuruh Saya untuk kembali sama Puspita."
" Karena Saya masih suka komunikasi sama dia, bahkan di hari pernikahan Saya, undangan special untuk dia, bahkan Saya rela menjemputnya. "
" Lantas hubungan nya apa sama Saya? "
" Kamu bisa dekati dia di hari pernikahan saya."
" Saya nggak akan pernah datang, lagian otak kamu taruh dimana orang sakit kamu undang."
" Dia sudah bisa pake kursi Roda, bahkan dia juga mau hadir."
******
" Gimana sudah bisa bergeser ke samping kiri kanan? " Tanya Heru.
" Sudah kak, tapi masih sedikit susah untuk berdiri nya." Jawab Puspita.
" Sabar dong, kan sedikit - sedikit." Ucap Heru.
" Kak, Saya ingin jalan - jalan ke pantai? "
" Boleh, kapan? "
" Sekarang. "
" Kita berangkat."
" Tante.. Saya sama Heru pergi jalan - jalan ya." Ucap Puspita .
" Kamu mau kemana? " Tanya Tante Tini saat menghampiri Puspita.
" Pantai katanya." Jawab Heru.
" Boleh, tapi jangan sore - sore pulangnya."
" Sore yang di tunggu sampai matahari terbenam, itu yang di tunggu - tunggu."
" Tenang Tante, sama Heru kok."
" Hati - hati di jalan."
****
" Suka? " Tanya Heru saat sudah berada di Pantai. Heru mendorong kursi Roda Puspita, saat mereka berjalan di tepi Pantai.
" Saya ingin bermain air Kak, tapi Saya nggak mungkin, ingin berenang ke laut itu juga nggak mungkin. "
" Akh nggak mau, berat kak."
Heru lalu langsung mengangkat tubuh Puspita, berjalan ke tengah laut sambil menyangga tubuh Puspita hingga basah terkena air laut.
" Aaakkkhhh... kakak...!!! "
" Hahahaha... katanya mau berenang."
" Tapi kak basah ini." Ucap Puspita cemberut .
" Katanya ingin main air, ya kakak ajak kamu basah - basahan."
" Augh..!! "
Hahaha hahaha..
" Ya sudah, kita duduk di saung itu."
Heru pun mengangkat tubuh Puspita, dan Puspita pun mengalungkan kedua tangan nya di leher Heru.
" Kak, makasih ya sampai sekarang kakak masih setia jadi teman Saya." Ucap Puspita saat Heru masih menggendong nya ala bridal style.
" Kakak akan selalu ada untuk kamu, sampai kamu mendapatkan pria yang tepat."
Heru mendudukan tubuh Puspita, di atas saung yang ada di tepi Pantai.
" Kakak nggak akan membiarkan kamu terjatuh pada lelaki yang salah, sampai benar - benar kamu menemukan cinta sejati."
" Apakah kakak akan meninggalkan Saya bila suatu saat nanti, jodoh Saya datang? "
" Kakak nggak mungkin akan selamanya selalu dekat dengan kamu, kamu akan mendapatkan pendamping hidup nanti, kakak pun juga. Kakak akan menunggu kamu dulu sampai kamu benar - benar tepat memiliki pendamping dunia akhirat. Kakak walau nggak bisa melindungi kamu sebagai suami, biarlah kakak akan melindungi kamu sebagai sahabat, sampai mengantarkan kamu ke pria yang benar - benar tulus."
" Saya doa kan semoga kakak cepat dapat jodoh, semoga dia lebih baik dari saya."
" Amin, tapi itu janji kakak. Hanya ingin menemani kamu sampai kamu bertemu jodoh kamu yang benar - benar, kalau kakak menikah sama wanita lain, kakak nggak bisa sedikit ini lagi nanti."
" Apakah kakak sekarang tidak akan pernah membiarkan saya Jatuh ke orang yang salah? "
" Jelas lah, karena Kakak nggak ingin wanita yang pernah hampir jadi seorang istri Heru, calon Ibu Dharma Wanita malah Jatuh ke pria yang salah."
__ADS_1
" Makasih."
" Sama - sama."
Saat sedang berjalan di tepi Pantai terlihat seorang pria yang tanpa sengaja melihat Puspita dan Heru.
" Puspita, kamu sekarang tampak berbeda dan cantik."
Senyuman seorang pria yang penuh arti, membuat rasa itu kembali datang apalagi mendengar bahwa Puspita kini masih sendiri.
******
" Heru, Ibu sama Ayah ingin minta kejelasan sama kamu? "
" Kejelasan apa? " Tanya Heru.
" Hubungan kamu sama Puspita, masih dekat kan? " Tanya Ibu Imah kembali.
" Iya kenapa? "
" Apakah kamu nggak ada niat kembali menyatukan hubungan kamu sama Puspita? "
" Lebih indah yang sekarang, hati Heru tak lagi selalu meminta penjelasan, dan begitu juga sebaliknya."
" Nak, apa kamu nggak ingin menikah, kalau mau Ayah sama Ibu ada calon untuk kamu? " Ucap Pak Rudi.
" Heru suatu saat akan mendapatkan jodoh, tapi misi Heru saat ini, ingin mengantarkan Puspita sampai ke tangan pria yang tepat membawa dia sampai surga."
" Nak, Ibu sama Ayah merasakan kasihan sama kamu, Ibu sama Ayah merasakan hati kamu sangat terluka."
" Mungkin awal iya, tapi sekarang sudah nggak. Heru bahagia, bisa membuat Puspita tersenyum walau dirinya kini duduk di kursi Roda. Hati Saya pun bahagia Bu, Ayah mungkin dengan begini kita bahagia. Suatu saat, tidak akan seperti ini lagi, jadi Heru ingin menikmati saat - saat terakhir entah itu kapan, menuntun dia ke tangan yang tepat."
******
" Sedikit lagi Mba Ayo." Ucap Dokter Ortopedi yang sedang membantu Puspita untuk belajar berdiri.
Puspita berpegangan pada kedua sisi kursi Roda dengan mencoba, sedikit - demi sedikit bangun dari duduk nya.
Aaartrrgghnn
Puspita kembali duduk saat dirinya mencoba untuk bangun.
" Mba Puspita, sedikit lagi tadi." Ucap Dokter Ortopedi.
" Saya nggak kuat Dokter. "
" Coba lagi ya, jangan menyerah."
Puspita pun mencoba kembali, namun masih sedikit tak kuat menopang tubuh nya.
" Saya menyerah Dokter? " Ucap Puspita kembali duduk di kursi Roda nya.
" Mba Puspita pasti bisa." Ucap Dokter memberikan semangat.
" Saya nggak bisa."
" Baik, Saya tidak memaksa, namun nanti kontrol kemari lagi harus bisa, kalau sudah memungkinkan kembali berdiri, Operasi Pencabutan Pen di lakukan, dan bisa kembali lagi beraktifitas."
" Baik Dokter, Saya akan belajar lagi."
" Good."
******
" Bang, Puspita ada disini? "
" Iya memang nya kenapa? "
" Apakah Saya bisa dekat lagi dengan dia? "
" Sebuah kesalahan besar akan sulit untuk bisa di perbaiki, kebencian sama saja dengan membuang masa - masa indah."
" Saya ingin memperbaikinya lagi."
" Jangan pernah mimpi."
🌹🌹🌹🌹🌹
Aku masih ingat betul ketika sepiring amarah selalu kita jadikan cemilan di tengah-tengah hangatnya dua gelas kopi yang belum kita cicipi sama sekali.
Aku juga masih ingat tentang perbedaan sudut pandang yang menjadi orang ketiga antara hubungan kita yang belum genap setahun, Atau tentang begitu teganya ke egoisan mencangkul benih-benih asmara yang belum mengakar dengan kuat pada ladang perasaan kita.
Disini, Aku masih mengingatmu beserta semua kejujuran dan kebohongan yang pernah kamu telanjangi tanpa sehelai pembelaan pun.
Aku juga masih hafal segala bentuk kurang dan lebih yang mentakdirkan diri untuk menjadi bagian dalam hidupmu.
Tentang bagaimana raut mukamu merasakan segelas kopi yang tak menghadirkan manis di tegukan terakhir, Atau ? Ah sudahlah ..
__ADS_1
Berhenti berfikir jika aku benar-benar bisa melupakan meski kalimat tersebut keluar dari bibirku sendiri. Karena saat sepi benar-benar nyata, Tak ada yang lebih indah selain membongkar kembali apa yang tidak bisa lagi untuk di miliki.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹