
" Ngapain kamu kemari? " Bentak Pak Waluyo saat Ikbal datang ke rumahnya.
" Saya ingin bertemu dengan Puspita om." Jawab Pak Waluyo.
" Buat apa ingin bertemu dengan dia, sudah nggak ada urusan lagi sama Puspita."
" Saya mohon om, ijinkan Saya bertemu dengan Puspita."
" Nggak bisa, kamu nggak bisa bertemu dengan nya."
" Ada apa Pah? " Tanya Tante Tini yang tiba - tiba datang.
" Kamu ngapain kesini? " Bentak Tante Tini.
" Ijinkan Saya bertemu dengan Puspita." Ucap Ikbal.
" Mau kamu kecewakan lagi, Mau kamu sakiti lagi? " Ucap Tante Tini sinis.
" Saya mohon Tante, ijinkan Saya bertemu dengan Puspita, walau ini yang terakhir."
" Pergi Sana, pergi...!! " Tante Tini mendorong tubuh Ikbal dengan kasar sehingga jatuh terdorong ke belakang.
" Masuk Pah. " Tante Tini dan Om Waluyo menutup pintu rumah saat Ikbal masih berada di terasa rumah.
Sedangkan Puspita dari jendela Kamar nya, melihat Ikbal yang berjalan keluar dari pintu pagar dengan wajah yang penuh penyesalan.
" Semoga kamu menyadari kesalahan yang kamu perbuat." Ucap Puspita.
********
" Kakak..!!! " Ucap Puspita saat Heru datang ke rumahnya.
" Bagaimana kabar kamu? " Tanya Heru.
" Alhamdulilah baik." Jawab Puspita.
" Alhamdulilah, kalau kamu sudah baikan."
" Kakak nggak ke kantor? "
" Ini kan hari sabtu, libur. "
" Oh iya, Puspita lupa."
" Kita jalan yuk? "
" Nggak Kak, Puspita lagi malas untuk jalan."
" Ayolah, jangan di rumah saja. "
" Beneran Kak, saya lagi malas untuk keluar."
" Puspita, apa kamu masih ingin bersedih terus, lupakan masalah yang kemarin. Anggap yang kemarin adalah mimpi buruk yang tidak ingin terulang, kamu harus bangkit,kamu harus semangat."
" Saya sangat kecewa kak, sangat kecewa."
__ADS_1
" Kita ke Pantai, kamu bisa lihat lautan yang luas, sehingga pikiran kamu bisa lebih relaks."
*****
Puspita berjalan di tepi Pantai bersama dengan Heru, senyum mengembang terlihat di wajah Puspita saat dirinya bermain air dengan menendangkan air.
" Kak, kita kesana yuk." Ajak puspita sambil menunjukan arah yang di maksud.
Heru menganggukkan wajah nya, dan berjalan mengikuti Puspita dari belakang.
" Kakak, lihat banyak kerang sama bintang laut." Ucap Puspita di atas bebatuan.
" Kamu Mau, nanti kakak pungut satu persatu."
" Nggak kak, Puspita ingin duduk di bebatuan ini sambil menikmati angin Pantai, dan melihat kapal yang berada di tengah - tengah laut."
Heru pun lalu duduk di samping Puspita, sambil menatap lurus ke arah lautan.
" Saya ingin terbang bebas kak saat ini, Saya ingin melupakan kisah masa lalu yang menyakitkan."
" Kamu harus punya tujuan, untuk terbang bebas. Tidak hanya terbang begitu saja, burung juga terbang ada tujuannya.'
" Terlalu sakit, bila harus tetap disini. Saya ingin meninggalkan kota ini untuk sementara waktu."
Heru menoleh ke arah Puspita, yang sedang memandang lurus ke lautan.
" Kamu akan pergi kemana? "
" Entah, yang jelas yang jauh."
" Kamu tega meninggalkan Kakak."
" Maaf Kak, untuk saat ini Saya tidak akan pernah lagi percaya dengan namanya laki - laki."
" Apa Kakak nggak bisa mengobati luka kamu, apa Kakak nggak bisa menjadi sandaran kamu?"
Puspita hanya diam, dan kembali memandang lurus ke arah lautan lepas.
" Luka ini di buat oleh dua orang laki - laki, luka ini sangat menyayat sekali dan terlalu dalam."
" Kakak akan menutup lukanya, kakak ingin jadi obat untuk kamu."
" Saya nggak Mau kak, kakak sudah terlalu baik buat Saya. Bila kita menjalin hubungan, Saya takut suatu saat ada masalah kita tak bisa seperti ini kak."
******
" Puspita."
Puspita menoleh ke arah Suara yang memanggilnya, dan melihat Ikbal ada di depan mata nya setelah Puspita turun dari mobile Heru.
" Ngapain kemari? " Tanya Puspita sinis.
" Saya hanya ingin minta maaf." Jawab Ikbal.
" Ya Saya maafkan." Ucap Puspita sambil mendorong pintu gerbang.
__ADS_1
" Tunggu. " Ucap Ikbal saat Puspita berjalan masuk ke pekarangan rumahnya.
" Ada apa lagi? "
"Saya minta maaf, Saya menyesali perbuatan yang Saya lakukan."
" Saya sudah memaafkan kamu."
" Kamu nggak tulus Puspita."
Puspita berjalan ke arah Ikbal, dengan tatapan penuh emosi.
" Kalau sudah tahu tanya, kenapa masih mencoba minta maaf."
" Saya harap kamu sebagai seorang pemaaf."
" Kamu tahu, Saya akan maafkan kamu. Tapi tidak dengan kekecewaan yang terjadi pada Saya. Luka ini masih belum kering, dan mungkin tak akan pernah kering."
Ikbal hanya diam mematung dan terus menatap ke arah Puspita, dengan mata yang berkaca - kaca.
" Pergilah, jangan pernah lagi kemari atau memperlihatkan wajah kamu. Terlalu sakit bila ingat kejadian yang kemarin, kalau kejadian itu tak ada kita sekarang sedang menikmati kehidupan baru kita. Jaga Mawar dan anak kamu, jangan sakiti hati mereka, cukup kamu menyakiti hati Saya saja." Puspita melangkahkan kaki nya memasuki rumahnya sedangkan Ikbal masih tetap diam, dan memandang punggung Puspita.
" Maaf kan Saya. "
******
" Ngapain kasih kabar ke Saya, sesuatu yang nggak penting."
" Kamu yakin ini tidak penting, bukan nya kamu juga masih ingin tahu tentang dia? "
" Sudahlah, Saya benar - benar tidak tertarik."
Sambungan teleponnya di matikan sepihak, saat di seberang masih berbicara.
******
Evi, Ida dan Puspita duduk bertiga, sedangkan Fatimah bersama suaminya dimana Nugi di tugaskan, dan Anggi berada di luar kota bersama dengan suaminya.
" Planning saat ini apa? " Tanya Ida.
" Kayak nya cari kerja deh." Jawab Puspita.
" Kamu ikut saya ke Inggris mau? " Tanya Evi.
" Nggak Evi, Saya ingin ikut tes CPNS, sambil menunggu Saya cari info lowongan pekerjaan." Jawab Puspita.
" Kalau mau, minggu depan kamu berangkat sama saya."
" Kamu serius ke Inggris? "
" Iya, mungkin Saya akan lama menetap disana."
" Kalian semua nya pergi, Fatimah dan Anggi ikut suami, kamu ke Inggris dan kamu Ida kerja di luar kota. Kita nggak bisa lagi seperti dulu."
" Kan masih bisa komunikasi." Ucap Evi.
__ADS_1
" Benar, kita masih bisa saling komunikasi. Kita juga bisa kumpul lagi nanti, asal komunikasi kita tidak akan pernah putus." Ucap Ida.
" Benar ya, kalian harus janji."