
" Kamu keterlaluan Vera, bikin malu saja di muka umum kamu memaki Puspita." Ucap Heru dengan Penuh emosi.
" Saya lakukan ini karena Kakak." Ucap Vera yang tak kalah emosi.
" Kamu tahu, akibat ulah kamu Puspita hampir saja keguguran, bagaimana kalau dia sampai kehilangan janin nya, dia pasti sangat bersedih."
"Coba kalau Kakak tidak memulai, Saya nggak akan melakukan ini."
" Vera seharusnya kamu harus berfikir dewasa nggak seperti itu, sekarang kamu harus minta maaf pada Puspita."
******
" Kurang ajar pacar si Heru. " Ucap geram Pak Anto.
" Makan nya Papah jangan suka deketin saya sama mas Heru, kita sudah berbeda Pah." Ucap Puspita.
" Jadi kamu Mas, masih suka jodohin Puspita sama Heru, otak kamu taruh dimana di saat anak kita masih status istri orang." Ucap Ibu Lia kesal.
" Karena saya ingin yang terbaik untuk Puspita, tidak dengan pria yang sedang duduk di depan kita. " Ucap Pak Anto sambil menunjuk ke arah Galih.
" Papah sudah jangan menyudutkan Mas Galih, dia memang Salah tapi dia adalah Papah dari anak saya, dia akan saya ceritakan nanti, Papah nya adalah orang hebat." Ucap Puspita sambil menatap ke arah Galih.
******
" Mas kamu kenapa sih, akhir - akhir ini kayak selalu menghindar dari saya? " Tanya Ibu Amel sambil bergelayut manja di lengan Pak Rudi.
Pak Rudi melepaskan tangan Ibu Amel yang melingkar di lengan nya.
" Berhentilah kamu bersikap baik di depan saya."
" Maksud kamu apa Mas? "
" Selama ini kamu membantu Gladis untuk menghancurkan rumah tangga Galih dan Puspita. "
" Saya tidak mengerti maksud kamu mas?"
" Jangan pura - pura bodoh kamu Amel, kamu selama ini membantu Gladis memisah kan Galih dengan Istri nya, seperti cara kamu memisah kan saya dengan Eva."
__ADS_1
Hahahahaha...
" Akhir nya kamu baru buka mata Mas, saya selama ini hidup dengan pria bodoh."
" Kurang ajar kamu Eva, saya tidak akan pernah memaafkan kamu."
" Kamu tahu Mas, Eva merebut kamu dari saya, Sama seperti Gladis yang kehilangan Galih karena Rena, dengan berbagai ancaman nya. Sekarang Gladis mengikuti jejak saya, dia harus rebut kembali apa yang harus jadi milik nya."
" Jangan - jangan anak yang kamu maksud itu bukan darah daging Galih tapi akal - akal an kalian."
*******
" Sudah Mas, mau apa kamu? " Ucap Tante Tini yang melihat Pak Anto masih dengan emosi.
" Saya hanya ingin anak Saya yang terbaik." Ucap Pak Anto.
" Mas, biar mereka yang memutuskan. Jangan mas ikut campur, apalagi saat ini Puspita sedang hamil Galih sudah mengetahuinya."
****
" Mau makan apa biar Mas belikan? "
" Maaf kan Mas, sekali lagi Mas minta maaf." Ucap Galih yang duduk di Sisi ranjang sambil menatap wajah Puspita.
" Apa kamu sanggup nanti nya kita akan sendiri - sendiri, alangkah baik nya kita tidak jadi berpisah." Ucap Galih.
" Bagaimana nasib mereka? "Tanya Puspita.
" Mas sudah memutuskan, Mas akan rawat anak kita Sama - Sama. "
" Ceraikan Saya, walau kita rawat Sama - Sama. Saya tidak sanggup untuk di duakan. Jangan pernah lupakan nafkah lahir batin untuk anak kita, cukup Saya yang merasakan rasanya menjadi anak broken home dan tidak di nafkahi lahir batin oleh kedua orang tua saya."
" Tapi ijinkan Mas, untuk sekali saja Mas melihat perkembangan nya, bila itu yang kamu mau. "
" Kamu sudah sangat yakin dengan keputusan kamu Mas? "
"Karena kamu yang minta."
__ADS_1
" Baik, setelah 3 bulan Saya melahirkan ceraikan Saya."
*******
Hiks... hiks.. hiks...
" Tega sekali Amel kamu telah membohongi kita semua, kamu tega dengan mendukung bahwa Berlin anak Galih, dan memalsukan hasil tes DNA tersebut. "
" Maaf kan Saya Mas, Gladis selalu mengalah karena Rena, kini dia saat nya untuk berontak mengambil apa yang menjadi haknya." Ucap Ibu Amel yang sedang berlutut di kaki Pak Rudi.
" Saya tidak bisa memaafkan kamu, Saya sudah muak dengan apa yang kamu lakukan terhadap keluarga saya."
" Tolong mas, beri saya kesempatan."
" Baik lah saya akan maaf kan Kamu, tapi kamu bongkar kedok Gladis di depan Galih dan Gladis, tapi maaf saya talak kamu hari ini juga."
" Mas...!!! "
" Maaf, Saya ceraikan kamu." Ucap Pak Rudi lalu meninggalkan Amel yang masih duduk bersimpuh dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
******
Seorang pria mendekati gadis kecil yang tengah bermain dengan teman sebaya nya, tawa riang terlihat jelas di wajah nya.
" Ternyata kamu tinggal disini bersama anak itu, Saya yakin dia anak Saya, saat kita pisah kamu sedang hamil anak saya."
Leon pun berjalan mendekati Berlin, gadis kecil itu menatap ke arah Leon dengan sedikit takut Berlin berjalan mundur.
" Hi... boleh kenalan? "
" Maaf Om, kata mamah kalau ada orang asing nggak boleh akrab."
" Om teman mamah kamu, kenalkan nama Om adalah Leon. "
Berlin menatap wajah Leon dengan menyisir pandangannya ke seluruh tubuh pria yang ada di depan nya.
❤❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa mampir yang belum mampir di karya ke 6,sambil nunggu Up bisa mampir ke karya yang baru saja beberapa Jam on going.