
Alurnya sudah di rancang....Kecewa itu pasti...!!!
Galih terperanjat kaget saat dirinya tertidur di kursi sambil duduk, terlihat Pak Willy yang sedang mengobrol dengan seorang polisi, sedang kan Kemal dan Dito sibuk dengan ponselnya masing - masing.
" Astaghfirullah, hanya mimpi."
Sedangkan di dalam ruang operasi, Para Dokter dan Suster masih sibuk dengan tugas nya masing - masing.
Terlihat nafas Puspita semakin melemah, Dokter terus berusaha untuk Puspita tetap bertahan.
Tiiiitttttt
" Detak jantung pasien hilang."
" Siapkan alat pacu jantung."
Dokter pun mencoba memacu jantung Puspita namun layar monitor EKG masih menunjukkan tanda lurus.
" 1,2,3."
Dokter menempel alat pacu jantung pada dada Puspita, namun tetap saja.
" 1,2,3."
Alat pacu jantung terus di tempelkan di dada Puspita namun tetap tak ada tanda - tanda.
" Dokter, pasien sudah meninggal dunia." Ucap Suster.
" Waktu meninggal pukul 15.00."
Salah satu Dokter pun keluar dari ruang operasi, dan menemui wali dari Puspita.
" Bagaimana Dokter? " Tanya Galih yang tiba - tiba beranjak dari duduk nya berjalan ke arah Dokter tersebut.
" Maaf...!! "
Galih terhuyung ke belakang, dan kemal dengan sigap menahan tubuh Galih.
" Maaf Pak, kami sudah berusaha."
Galih tak bisa berkata apa - apa hanya, air mata yang lolos dari kedua kelopak mata nya.
" Nggak, nggak boleh kamu pergi sekarang hiks... hiks... hiks... nggak, kamu bilang ingin kesempatan dulu kita mulai kembali, hiks.. hiks... "
Saat akan melepaskan alat yang terpasang pada tubuh Puspita, tampak layar EKG menunjukkan garis naik turun, detak jantung Puspita kembali berdetak.
" Pasien telah menunjukkan tanda kehidupan." Ucap perawat.
Dokter pun segera memeriksa kondisi Puspita, dan Puspita telah melewati masa kritisnya.
" Mukjizat Allah, pasien melewati masa kritisnya. Kita bisa melanjutkan operasi."
__ADS_1
Seorang perawat keluar dan langsung membisikkan sesuatu pada telinganya.
" Pak, alhamdulilah pasien telah kembali." Ucap Dokter sambil tersenyum.
" Alhamdulilah ya Allah terima kasih." Ucap Galih sujud syukur.
" Alhamdulilah." Ucap Kemal, Dito dan Pak Willy.
******
Puspita pun telah keluar dari kamar operasi, dan di bawa ke ICU. Berbagai alat pun masih terpasang.
" Mungkin saat sadar, beliau nggak bisa bangun dan harus menjalani proses yang panjang karena tulang panggul yang patah, sehingga tidak bisa langsung untuk bisa duduk bahkan berjalan." Ucap Dokter Ortopedi pada Pada Galih.
" Berapa lama bisa sembuh? "
" Kemauan dan semangat, karena sekarang masih terpasang pen, dan masih sangat rentan, lalu Operasi kedua bisa di lakukan setelah benar - benar tulang belakang nya kembali normal. Karena retak nya begitu terlihat jelas saat di ronsen."
" Terima kasih Dok."
Galih terus menatap Puspita, hati nya sakit saat melihat orang yang dulu pernah ada di hatinya kini terbaring tak berdaya, bahkan rasa itu sedikit masih ada.
******
" Assalamualaikum." Sapa Galih saat tiba di rumah setelah shubuh.
" Walaikumsalam." Balas Rena sambil mencium punggung tangan Galih.
" Mas, darah siapa ini? "
" Darah Puspita."
" Apa Puspita?? "
" Dia kecelakaan di tabrak truk, hingga membuat dia masih koma sampai sekarang."
" Jadi kamu nggak pulang demi wanita lain, sebegitu peduli nya kamu mas sama dia."
" Kamu tahu Puspita mantan Saya, dia kecelakaan tepat di depan mata Saya. Kamu tahu hati saya hancur saat melihat tubuh dia di bawah truk, penuh darah. Untung nyawa dia masih selamat, tak terlindas, hanya tulang panggul yang hampir sedikit kena ban truk. Dan kamu harus tahu, saat sadar nanti dia akan terus terbaring, dan butuh waktu untuk sembuh, baru operasi kedua. Dan kamu juga harus tahu, kecelakaan itu seperti nya di sengaja, kamu juga harus tahu, kamu pun hampir di habisi nyawa nya begitu pun juga Puspita, seperti saling berhubungan. Apa mungkin target itu adalah saya, atau kebetulan saja. "
" Apa mas masih mencintai Puspita? "
******
Aaarrrgghhhh...
" Seperti nya, akan tercium juga."
Kedua tangan mengepal dengan gigi yang saling di gertakan.
" Tunggu saja tanggal mainnya."
__ADS_1
******
" Ya Allah Puspita." Teriak Ibu Lia saat melihat anak nya terbaring lemah dengan alat yang di pasang di tubuh nya.
Hiks... hiks... hiks...
Ibu Lia menangis di dalam pelukan suami nya, begitu pun juga Tante Tini yang tak kalah histeris saat melihat keponakan kesayangan nya terbaring tak berdaya.
Pak Anto yang datang tanpa di temani istri nya hanya bisa diam memandang putrinya, begitu pun juga Heru kedua mata nya memerah saat melihat wanita yang sangat dia cintai kini hanya terbaring tanpa membuka mata nya.
" Bangun sayang, kamu katanya ingin kita segera menikah."
" Apa kalian sudah merencanakan kapan menikah? "Tanya Pak Anto.
" Kami sedang mengurus surat - surat nya." Jawab Heru.
" kamu tahu, Puspita saat sadar nanti dia akan terbaring, dan tidak bisa langsung menjalani operasi kedua, karena butuh proses tulang panggul yang retak nya sangat berbahaya."
" Setelah sadar, kita bawa Puspita ke Jawa Pah, kita obati di Sana, di rumah sakit khusus tulang."
" Ini pasti bikin shock Puspita, kamu harus kasih semangat untuk dia."
Saat keluarga tengah berkumpul di depan ruang tunggu ICU, Galih datang dengan seragam lengkap nya di mana tatapan mata semua keluarga tertuju pada Galih.
Galih bersalaman dengan keluarga Puspita satu per satu, dan saat bersalaman dengan Pak Anton, Heru berbisik pada nya dan langsung tatapan mata Pak Anto berubah dan tangan Galih Pak Anto mencengkram tangan Galih sangat kuat.
" Kamu....!!! " Ucap Pak Anto geram.
" Maaf kan Saya om."
" Kurang ajar kamu, berani nya menampakkan wajah kamu pada kami, kamu sudah membuat malu dan kecewa kami, bahkan rasa sakit Puspita tidak bisa di sembuhkan oleh ulah kamu."
" Maaf kan Saya om."
Tangan Pak Anto yang mencengkram tangan Galih menghempaskan begitu saja dengan kasar.
Plaaak
Plaaak
Plaaak
Plaaak..
" Mas cukup." Bentak Tante Tini yang melihat Pak Anto menampar kedua pipi Galih hingga sudut bibirnya berdarah.
" Kalau om belum puas menghukum Saya, pukul Saya lagi Om, Saya rela berakhir hidup Saya di tangan Om."
" Kamu pergilah dari hadapan kami, jangan dekati lagi Puspita, dia sudah bertunangan. Kehadiran kamu hanya membawa sebuah luka."
Galih berlutut dan memegang kedua kaki Pak Anto, dan membuat Pak Anto bahkan lain nya pun terkejut.
__ADS_1
" Om, jangan halangi Saya untuk tidak bisa bertemu dengan Puspita. Maaf Om, mungkin kami salah, mungkin kami tidak di ijinkan untuk hal ini. Puspita menginginkan kami mencoba memulai hubungan kembali, sebelum menikah dengan Heru Puspita ingin menjalin hubungan untuk sementara dengan Saya. Berikan kami kesempatan, Puspita rela menjadi yang kedua, ijinkan Saya untuk mengabulkan permintaan nya. Jujur rasa ini masih ada, jadi ijinkan kami sebelum kami berpisah untuk selamanya."