
Dengan di bantu Ikbal membawa kan belanjaan Puspita masuk ke dalam mobil nya, dan Ikbal mengantar Puspita untuk pulang.
" Kamu nggak ingin kemana - mana lagi? "
" Nggak, sudah cukup belanja kebutuhan sendiri."
" Bisa luangkan waktu untuk mengobrol? "
" Mau mengobrol apa Aa? "
" Kenapa kemarin di rumah sakit pura - pura keguguran? "
" Saya mohon jangan cerita ke Fatimah atau Mas Nugi."
" Kenapa, apa suami kamu juga nggak tahu kalau anak kalian masih ada? "
" Saya ingin cerai sama dia."
" Apa kamu kecewa karena kesalahan dia yang dulu, seperti kamu dulu sama saya? "
" Kecewa itu ada, tapi Saya berfikir lagi buat apa Saya bertahan hanya untuk kasih sayang Papah nya untuk anak yang di kandung Saya, tapi melihat suami berbagi kasih dengan mantan. Nggak mungkin mereka nggak akan bersatu, karena anak pasti mereka akan bersatu."
" Apakah dorongan Papah kamu juga, dan ingin menikahkan kamu dengan Heru."
" Papah jujur ingin kak Heru menjadi suami Saya dan Papah dari anak yang Saya kandung."
" Apa kamu akan membuang nama Galih dari anak kamu? "
" Saya tak akan membuang nama Papah nya dari hidup dia, hanya akan selalu di kenang bahwa Papah nya sudah meninggal dunia."
__ADS_1
" Jujur Saya juga masih menyimpan rasa sama kamu, tapi apakah pantas Saya mendukung kamu untuk bercerai, Saya rasa itu egois dan merebutkan seseorang yang masih terikat."
" Saya hanya ingin lepas dan sendiri, belum mampu untuk menata kembali ,yang saat ini hanya Saya pikirkan perkembangan anak saya."
***
Puspita pun turun dari mobil Ikbal, terlihat Vera yang sudah berdiri di depan pintu pagar rumah nya.
" Vera, mana Kak Heru? "
" Kak Heru ya, jadi selama ini kamu hanya ingat pria lain, bukan cari suami kamu. Dan dia siapa lagi, malu dengan hijab kamu yang besar menutupi tubuh kamu tapi kelakuan kamu jalan dengan pria lain di saat suami kamu nggak ada disini."
" Kamu salah paham, saya bukan wanita yang seperti itu, Saya nggak punya hubungan apa - apa dengan Kak Heru, dan pria yang di samping Saya ini adalah bukan siapa - siapa."
" Saya ingat kan jangan coba - coba ambil pacar Saya, kamu tahu keluarga kami sudah saling menyetujui, jadi jangan kamu menjadi sebagai penghalang Saya dan Kak Heru."
" Saya jelaskan sama kamu, Saya nggak akan merebut kak Heru."
" Maaf, Saya duda tak punya anak dan istri, jadi nggak ada yang salah sama Saya, dan kamu harus tahu suami nya tahu siapa Saya, dia malah tahu Saya pergi dengan dia." Ucap Ikbal bohong dan mencoba melindungi Puspita.
Vera dengan kesal nya pergi meninggalkan Puspita dan Ikbal yang menatap punggung Vera.
Tiba - tiba Puspita bersandar lemas di Sisi mobil Ikbal sambil memegang perut nya yang mengencang.
" Kamu nggak apa - apa? " Tanya Panik Ikbal.
" Nggak apa - apa hanya stres saja." Jawab Puspita.
" Kamu istirahat ya, jangan di pikirkan soal tadi."
__ADS_1
******
Terdengar suara tawa Pak Anto dan Heru yang baru turun dari mobil, memasuki rumah Tante Tini. Terlihat juga Om Waluyo menyapa Pak Anto dan Heru.
Heru langsung menghampiri Puspita yang sedang duduk di depan tv sambil mengusap perutnya.
" Hi.. kakak bawa makanan." Heru duduk di samping Puspita sambil membuka kotak kue yang berisi kue Balok.
" Kak, mulai sekarang jangan sering kemari."
" Kenapa? " Tanya Heru penasaran.
" Vera tadi siang datang menemui Saya, dia mungkin cemburu karena kamu selalu memberikan perhatian sama saya, dan dia mungkin sekarang merasakan kakak menjauhi nya."
" Saya akan bicara sama Vera."
" Saya mohon kak, Saya tidak ingin menjadi wanita penggoda atau penghalang hubungan seseorang. Lagian status Saya masih istri orang, dan apa yang di katakan Papah atau permintaan Papah jangan pernah di anggap."
" Tapi Kakak ingin berada di samping kamu saat ini."
" Jangan berlebihan sama Saya kak, lagian Saya nggak bisa membalas nya suatu saat nanti, dan proses Saya dengan Mas Galih masih sangat panjang." Ucap Puspita.
" Kak, Vera sangat cantik, dia baik, dia sangat mencintai kakak, jangan sakiti hati Vera karena Saya. "
******
" Mamah, kapan sih kita bisa tidur bertiga? "
" Sabar dong sayang, Papah kamu itu masih berstatus suami orang, kamu tahu wanita itu yang membuat penghalang kita."
__ADS_1
" Berlin malu mah di ledekin nggak punya mamah sama Papah."
" Berlin kan punya Mamah sama Papah, mereka saja yang nggak tahu. Kamu terus ikuti saja perintah dari Mamah, biar Papah kamu itu luluh sama kita terutama kamu."