
Galih mengunci pintu rumah nya, yang selama tinggal di wilayah Timur bersama Rena dan kedua anak nya.
Rumah yang mereka tempati beberapa waktu, dan penuh kenangan namun walau berakhir pahit.
" Terima kasih Tante, maaf selama menyewa rumah disini meninggalkan jejak yang tak enak."
" Tidak apa - apa Pak Galih, saya memaklumi itu."
*****
" Pak Willy itu rumah yang terpisah ada orang nya tidak, kalau tidak ada biar saya yang disana. "
" Itu sudah ada pemilik nya sebentar lagi juga datang."
" Bapak rumah besar disini sering di sewakan?"
" Iya, setelah kejadian kerusuhan itu istri saya meninggal dunia saya sendiri, untuk biar ramai saya sewakan atau untuk tamu jauh yang perjalanan Dinas ke tempat ini."
" Bapak tak punya keluarga lagi? "
" Tidak ada, hanya di temani anak buah Bapak dan orang kepercayaan saja. Makan nya disini ramai karena mereka saja."
Tak lama sebuah mobil datang dengan 3 orang Anggota TNI, mereka satu persatu menurunkan beberapa kardus dan beberapa koper.
" Siang Pak Willy. " Sapa Galih .
" Siang Pak Galih. " Balas Pak Willy.
" Galih." Sapa Gladis.
"Loh kamu disini? "
" Iya, saya pindah kemari. Jadi yang di maksud Pak Willy rumah yang sebelah itu Galih."
" IYa bu Bidan, Pak Galih yang menempati, dulu nya di tempati oleh Ibu Puspita sekarang di tempati beliau."
" Kita tetanggaan jadi nya ."
" Iya ya, nggak nyangka."
******
" Bagus posisi tulang nya, sudah kuat. Jadi bisa langsung di lepas pen nya, ini sangat luar biasa cepat karena usaha yang membuahkan hasil yang nggak mengecewakan. "
" Tadi nya rencana awal bulan depan, ternyata Dokter menyarankan sekarang bisa operasi kedua. " Ucap Puspita.
" Ya, minggu depan persiapkan ya. " Ucap Dokter spesialis Ortopedi.
" Terima kasih Pak Dokter, kami pamit dulu." Ucap Ibu Eva.
****
" Alhamdulilah, kamu sudah bisa operasi minggu depan, sekarang juga kamu sudah belajar melepaskan tongkat kan? "
" Iya Mah, hampir beberapa bulan setelah kecelakaan rutin therapy, dan pengobatan niat ingin segera sembuh cepat."
" Kamu kan tulang muda, beda kayak mamah tulang tua kalau sudah seperti itu ya lama sembuhnya."
*****
" Gimana tadi kata Dokter? "
" Minggu depan mas operasi nya."
" Mas seperti nya nggak bisa kesana Yank."
" Nggak apa - apa, mas kan baru pulang, masa pulang lagi nggak enak juga kan." Ucap Puspita.
" Yank, ini barang - barang beneran mau di paketin? "
" Iya Mas, semua nya saja."
" Nanti mas beresin, sisain baju kamu saja ya disini."
__ADS_1
" Buat apa mas? "
" Buat temen tidur."
" Ish.. kayak apa saja." Ucap Puspita dengan wajah memerah.
" Kan mau peluk juga jauh, jadi peluk pakaiannya saja."
Tok.. Tok....
" Yank, sudah dulu kayak nya ada tamu." Ucap Galih saat mendengar suara ketukan pintu rumah.
" Iya mas, muuuaach. " Ucap Puspita dari seberang.
" Muuaaachh juga. " Galih pun mematikan ponselnya, lalu menuju pintu depan.
" Hai...!!! " Sapa Gladis saat pintu rumah terbuka.
" Gladis.. !!! "
" Saya buat kan cumi asam manis."
" Makasih, kamu masih ingat saja makanan kesukaan saya." Ucap Galih sambil menerima piring yang berisi cumi asam manis .
" Boleh saya duduk? " Tanya Gladis.
" Boleh, masuk saja maaf berantakan soalnya belum saya bereskan semua nya." Jawab Gladis.
" Saya turut berduka cita atas meninggal nya istri kamu."
" Terima kasih, kamu tahu dari mana? " Ucap Galih sambil memberikan botol minuman air mineral.
" Dari Group SMA. "
" Saya keluar dari Group SMA, soalnya banyak group."
" Anak kamu sekarang sama siapa? "
" Sekarang sepi ya nggak ada siapa - siapa."
" Yah begitu lah."
******
" Mana berkas nikah Puspita sama Galih, biar mas yang urus di KUA? " Ucap Pak Anto.
"Mereka belum tahu, Mas yang bantu urus semua nya, dari dulu saja Mas nggak mempersulit mereka. " Ucap Tante Tini.
" Sudah jangan ungkit - ungkit yang sudah - sudah."
Tante Tini hanya tersenyum sambil beranjak meninggalkan kakaknya yang sedang membereskan berkas nikah Puspita dan Galih.
*****
" Vera, Kakak ingin bicara serius sama kamu? "
" Bicara apa mas? "
" Mas ingin ta'aruf sama kamu."
Sontak Vera menatap ke arah Heru yang duduk di samping nya
" Kakak serius, kakak ingin mengenal lebih dekat lagi."
"Bukan nya kita memang sudah kenal sejak kuliah. "
" Kita memang sudah kenal, tapi kenal lebih dekat lagi belum."
*******
" Bang ini ada kiriman."
"dari siapa? " Tanya Galih.
__ADS_1
" Dari Ibu Bidan." Jawab Saeful.
" Bidan siapa? "
" Bidan baru, naman ya Ibu Gladis."
" Oh dia." Ucap Galih sambil meletakkan paper bag yang berisi makan siang.
" Kok di biarin Bang? "
" Kamu mau silahkan."
" Beneran Bang, ini dari Ibu Bidan cantik. "
" Buat kamu saya Kenyang."
" Bang ini kode loh."
" Kode apa? "
" Nggak peka apa pura - pura nggak peka Abang ini? "
" Saeful, saya paham tapi saya nggak akan tergoda."
" Abang masih belum bisa melupakan istri Abang? "
" Abang nggak bakalan tergoda sama dia, sekali tidak ya tidak."
*******
" Mah...!!! "
" Jangan takut sayang, operasi kamu pasti lancar." Ucap Ibu Eva.
" Bismillah." Ucap Ibu Eva kembali, sedang kan Puspita hanya tersenyum dan menganggukkan kepala nya saat blankar yang di dorong membawanya ke ruang operasi.
" Mah Puspita sudah masuk ruang operasi? " Tanya Galuh yang datang menemani Mamah nya.
" Baru saja masuk."
" Galih sudah tahu hari ini istrinya di operasi? "
" Sudah, tapi dia kan nggak bisa kesini."
" Iya, kemarin kan baru cuti dia."
*******
" Galih. " Sapa Gladis.
" Ada apa? " Tanya Galih saat baru pulang Dinas.
" Saya menunggu kamu pulang." Jawab Gladis.
" Ada perlu apa? " Tanya Galih sambil duduk di kursi teras depan rumah nya sambil membuka sepatunya.
" Saya ingin memberikan ini untuk makan kamu , Saya masak khusus buat kamu."
" Gladis, kamu jangan repot - repot. Saya ini bukan siapa - siapa kamu."
" Galih, Saya masih mencintai kamu. "
"Hubungan kita sudah berakhir beberapa tahun yang lalu, kita sudah tidak seperti dulu lagi."
" Maaf kan Saya yang dulu."
"Sudahlah kita sudah berbeda, kamu juga sama."
" Saya belum menemukan kembali orang seperti kamu, Saya menyesal dulu memutuskan kamu. "
" Saya sudah punya istri dan anak."
"Saya juga janda dan kamu Duda, apa salah nya kalau kita belajar untuk saling mencintai lagi."
__ADS_1