Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Tentang Hati


__ADS_3

" Serius Puspita sudah pulang? " Tanya Ikbal pada Fatimah.


" Iya A sudah pulang, lagian semangat amat sih dengernya? " Jawab Fatimah dengan bertanya kembali sambil sedikit menyelidiki.


" Bukan begitu Fatimah, hem... "


" Saya tahu Aa masih berharap bisa menikah dengan Puspita kan, apalagi sekarang status A Ikbal Duda. "


" Dari dulu juga Saya masih menyimpan rasa saat menikah dengan Sintia, Saya belajar mencintai nya juga sedikit masih ada tapi Saya harus belajar sedikit demi sedikit membuang jauh nama Puspita walau sangat sulit saat itu. Tapi entah kenapa saat setelah Sintia meninggal dunia melihat Puspita rasa itu muncul kembali."


" Jangan jadi Pebinor A Ikbal, dia sudah punya suami dan sedang mengandung."


******


" Pah, Saya ingin pulang ke rumah Tante Tini."


" Ntar biar Papah hubungi Heru suruh antar kamu."


" Pah, jangan suka hubungi Kak Heru barang kali sibuk."


" Sibuk apa sih, ini hari minggu. Kamu pulang di antar sama Heru."


Di tempat lain seorang pemuda dengan stelan casual nya sedang bersantai sambil menikmati pemandangan Pantai, dengan tiba - tiba ponselnya berdering.


" Assalamualaikum Pah. " Sapa Heru.


" Walaikumsalam. " Balas Pak Anto dari seberang.


" Kamu lagi ngapain Heru? "


" Saya lagi di luar Pah di Pantai kenapa? "


" Kemari dulu ke rumah Papah, jarak Pantai ke rumah Papah dekat 15 menit."


" Ada apa ya Pah? "


" Antar kan Puspita pulang, dia ingin pulang ke rumah Tante Tini."


" Oh, ya udah tunggu ya Pah Heru sekarang langsung meluncur."


" Iya nak makasih."


" Siapa Kak? "


" Pak Anto, Papah nya Puspita. "


" Mantan calon mertua? " Ucap Vera.


"Iya, kita pulang yuk lalu kita mampir ke rumah Pak Anto jemput Puspita."


" Kita kan belum satu jam Kak disini."


" Habis mengantar Puspita pulang, kita jalan lagi."


" Lagian kenapa harus minta tolong sama kakak sih, kayak nggak ada suami nya saja."


" Suami nya jauh Dinas nya, namanya juga Tentara. "


Vera langsung menyambar tas nya dan beranjak berdiri dengan wajah yang cemberut.


" Maaf ya. "


Vera hanya diam dan pergi meninggalkan Heru, dan Heru melihat Vera dengan penuh rasa bersalah.


****


" Papah tuh ih nyebelin. "


" Kenapa, Papah lebih suka Heru ada di samping kamu."


" Pah, Saya ini masih istrinya Mas Galih."

__ADS_1


" Sebentar lagi kamu kan cerai."


" Pah, mulut gampang bilang cerai, proses nya lama apalagi Saya yang gugat. Saya ASN dia Tentara, berbagai proses harus di lalui.Saya juga nggak bisa begitu saja, tembusan kantor Dinas, tanda tangan Bupati belum juga sama untuk Mas Galih."


" Alah.. bisa saja di permudah, yang penting secara agama kamu sudah cerai, proses hukum negara bisa sambil jalan."


" Papah seperti nya berharap Saya cerai."


" Papah nggak ikhlas nggak ridho kamu masih jadi istri Galih."


Lalu terdengar suara mobil Heru datang, Heru pun terlihat turun dengan seorang wanita yang berjalan di samping nya.


" Assalamualaikum."


" Walaikumsalam."


Heru mencium punggung tangan Pak Anto, begitu pun juga dengan Vera.


" Sudah siap? " Tanya Heru pada Puspita.


" Saya ambil tas nya dulu. " Jawab Puspita sambil beranjak menuju kamarnya.


****


" Sekarang Dinas nya di sekolah mana? "


" SMPN 1 M kak."


" Dekat dong."


" Iya tinggal jalan kaki dari rumah Tante Tini."


" Mba, suami nya selamanya akan tugas jauh terus ya? " Tanya Vera yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Heru yang melihat dari kaca.


" Nggak tahu juga nanti bakalan tugas dimana lagi, namanya juga punya suami Tentara."


" Bahaya dong kalau begini, apa lagi mba disini kan sekarang."


" Vera..!! " Ucap Heru.


" Bahaya kalau nggak ada lakinya."


" Tenang saja, Saya bukan wanita perebut pacar atau suami orang."


******


" Wajah Abang kenapa? " Tanya Dito.


" Sudah satu bulan Saya tidak bisa komunikasi dengan istri Saya, apalagi sekarang nomer kontak Saya dia blokir." Jawab Galih.


" Pilihan yang sulit ya Bang, setelah mendengar cerita dari Abang."


" Gladis secara tidak langsung ingin dinikahi, dan Saya memiliki istri, untuk anak Puspita tidak ingin menerima Berlin, tapi bagaimana pun Berlin darah daging saya."


" Istri Abang mungkin saat ini belum bisa menerima karena dia mungkin kaget Bang, lama - lama Saya yakin pasti bakalan menerima Berlin. Buktinya sama Panji, istri Abang sayang Kan."


" Iya, tapi Papah mertua Saya menyuruh kita bercerai."


" Kenapa mertua Abang seperti itu, karena dia kecewa sama Abang."


" Saya pun tidak tahu kalau seperti ini, dan kenapa harus sekarang tidak dari dulu saja."


" Jangan menyalahkan takdir Bang, tidak baik di balik ini semua pasti ada hikmah dari setiap masalah."


******


Puspita dengan memegang perut nya sedikit meringis sambil berjalan menuju kamarnya, terlihat Tante Tini yang mendekati Puspita dengan rasa kasihan.


" Sayang." Tante Tini memeluk tubuh Puspita, lalu terdengar isak tangis Puspita hingga tubuh nya bergetar.


" Sabar Sayang."

__ADS_1


" Apa memang hidup Saya nggak boleh bahagia Tante, apa hidup Saya harus ada cobaan."


" Kamu kuat sayang, Tante yakin kamu kuat kedepannya."


******


" Kapan kita menikah? "


" Saya tidak ingin berpoligami."


" Kalau begitu ceraikan wanita itu."


" Saya tidak akan menceraikan dia, tapi Saya akan jamin Berlin hingga dia dewasa."


" Berlin ingin kita bersatu." Ucap Gladis.


" Kita bisa bersama mengurus sama - sama Berlin, tapi maaf Saya tidak bisa berpoligami atau menceraikan dia."


" Sampai kapan pun Saya akan berusaha mendapatkan apa yang harus Saya miliki."


******


Eeeggghhh


Puspita menggeliat sakit yang tak terhingga, dengan sekuat tenaga meremas ujung selimut yang menutupi tubuh nya.


Tubuh yang bergetar, mata terpejam hingga keringat membasahi tubuh nya. Dengan berusaha membuka mata nya, terlihat pandangan sedikit kabur.


" Ta - Tante. "


Prang....


Tangan nya mencoba meraih sesuatu di atas nakas, tanpa sengaja menyenggol vas bunga.


******


Aaawwww..


" Kenapa kamu? " Tanya Kemal.


" Perut Saya mules banget Mal." Jawab Galih.


" Ke toilet Sana."


" Nggak bukan sakit perut pengen BAB, ini mules nya luar biasa banget."


" Makan apa tadi nya? " Tanya Kemal panik.


" Nggak makan apa - apa."


" Kita ke Dokter."


" Nggak usah, sakit nya sedikit reda. "


Tiba - tiba ponsel Galih berdering dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Galih pun langsung menggeser tombol warna hijau saat mengetahui siapa yang menghubungi nya.


" Hallo."


#


#


#


#


#


Galih menjatuhkan ponselnya ke lantai saat mendengar kabar yang membuat dirinya lemas seluruh tubuh nya.


" Galih ada apa? "

__ADS_1


Tatapan kosong membuat Galih diam membisu, dan membuat Kemal yang melihat nya pun ikut panik.


" Hey.. ada apa...!! " Kemal menggoyang kan tubuh Galih yang masih tetap diam.


__ADS_2