
" Sudah dong sayang jangan marah dong." Bujuk Galih saat tahu dirinya akan kembali nanti malam.
" Kalau tahu malam pulang lagi, ngapain kesini. Percuma saja ada suami datang lalu pergi lagi." Ucap Puspita kesal.
" Mas kangen sayang, kangen nya sangat besar sekali, mas nggak bisa ngomong apa - apa, dan kamu harus tahu rindu yang berat ini membuat Mas sakit sekali sayang."
" Tapi sebentar banget mas, ini saja sudah jam berapa, belum Saya nanti berangkat Dinas."
" Kamu tega Yank nggak ijin suami kamu pulang." Ucap Galih sedikit kecewa.
" Iya lah, bodo amat sama Mas, pulang hanya sebentar." Ucap Puspita beranjak bangun dari tempat tidurnya.
" Yank.. Mau kemana? " Teriak Galih.
" Mandi lah Mau berangkat Dinas." Ucap Puspita yang memasuki kamar mandi.
" Yank, ikut dong...!!! " Ucap Galih menyusul Puspita ke kamar mandi.
Meraka pun melepas rindu dengan mandi bersama plus memadu cinta di pagi hari.
*****
" Anak Papah jangan rewel ya, Papah nggak sama kamu sayang." Ucap Galih sambil mencium perut Puspita.
" Saat persalinan nanti Mas ada disini nggak ya?"
" Insya Allah sayang, walau Mas nggak disini Mas pasti akan pulang nanti saat anak kita lahir. "
" Mas sudah punya nama untuk calon anak kita?"
" Mas sudah punya sayang, mas sudah menyiapkan nama untuk calon anak kita nanti baik laki - laki atau perempuan. "
******
" Mas mau yang itu dong? " Tunjuk Puspita saat makan di rumah makan tepi pantai.
" Mau gurita? " Tanya Galih.
" Iya, sama udang nya." Jawab Puspita.
Galih pun dengan telaten menyuapi Puspita, bumilnya sangat lahap saat memakan sea food.
" Kalau masih kurang nanti nambah." Ucap Galih.
" Bawa pulang ya." Ucap Puspita.
__ADS_1
" Iya nanti mau sea food apa yang di bawa pulang, nanti pesan nya saat mau pulang saja biar masih sedikit hangat sampai rumah."
***
Puspita menggandeng tangan Galih saat berjalan di Mall, banyak barang belanjaan yang Puspita beli. Satu hari bersama suami nya meraka manfaatkan waktu bersama.
" Ada yang mau di beli lagi? " Tanya Galih.
" Ehmm.. lihat baju yang disana?" Tunjuk Puspita.
Galih dan Puspita pun berjalan memasuki sebuah toko baju Dinas malam. Saat sudah berada di dalam toko Galih lebih memilih untuk duduk menunggu istri nya berbelanja.
" Galih ya..? " Sapa seorang perempuan.
" Eh mona, apa kabar? " Balas Galih.
" Baik, kamu sama Rena? "
" Bukan tapi sama istri yang sekarang."
" Ih jahat kamu, Rena di kemana kan?"
" Rena sudah lama meninggal dunia."
" Inalilahi Wa inalilahi rojiun, kapan? "
" Saya nggak tahu, sumpah saat terakhir komunikasi pas lahiran anak ke 2."
" Minta doa nya saja."
" Mas yuk sudah. " Ucap Puspita.
Wanita yang bernama Mona melihat Puspita yang berpenampilan dengan hijab, dan gamis yang panjang.
" Istri kamu? " Tanya Mona.
" Iya, kenalan dulu. Sayang ini Mona teman Mas sama Rena." Ucap Galih.
" Puspita. "
" Mona."
" Ntar dulu deh, ini Puspita yang pernah di bilang sama Rena pelakor itu ya? "
" Hah.. pelakor..!!! " Ucap Puspita kaget.
__ADS_1
" Maksud kamu, istri Saya pelakor. " Ucap Galih.
" Iya, yang di ceritakan sama Rena pelakor, dari nama sama penampilan nya cocok yang seperti dia katakan. Memang penampilan bisa menipu ya, ternyata kamu menang." Ucap Mona sinis.
" Eh mba kalau nggak tahu cerita nya jangan asal ucap ya, dan ingat sebaiknya kamu bilas otak kamu itu biar bersih. " Ucap Puspita kesal.
" Mona, mulut kamu memang nggak pernah berubah dari dulu suka asal bilang saja nggak pernah di saring.Dan ingat apa yang di katakan Rena itu tidak benar, apa yang di katakan istri Saya memang otak kamu itu harus di bilas, sama mulut kamu itu harus di setrika biar rapih kalau ngomong nggak kriting asal kata keluar."
Puspita dan Galih meninggal kan Mona yang masih diam terpaku menatap ke pergi an Galih dan Puspita.
" Salah Saya dimana? " Ucap Mona .
****
" Sudah Yank nggak Mau belanja lagi? "
" Sudah nggak nafsu."
" Sudah jangan di masukan hati, Mona memang tidak tahu cerita sebenarnya. " Ucap Galih menenangkan.
" Dia apa nya Rena sih? "
" Sahabat nya. "
" Oh Pantas saja, mulut nya sama, terus Saya heran sama yang sudah meninggal ternyata meninggal kan warisan kata - kata yang menghujat saya."
" Sudah sayang, Rena sudah meninggal dunia, dia pun sudah dapat balasannya, jadi jangan di panjang kan masalah nya, nggak baik kasihan Rena disana."
******
" Mas berangkat dulu ya."
Puspita memeluk erat tubuh Galih, suami nya pun merasa sangat berat untuk pergi meninggal kan Puspita, namun karena tugas Negara yang harus dia laksanakan.
" Sebentar saja jangan dulu pergi, biar istri mu tetap menghirup aroma perfume maskulin kamu Mas, wangi tubuh ini yang selalu Saya rindukan."
" Mas juga selalu kangen sama kamu sayang, manja nya kamu, cerewetnya kamu bahkan keseksian kamu sayang."
Puspita mengalungkan kedua tangan nya di leher Galih, dan mereka saling menatap dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centi."
" Dalam setiap sujud, Saya selalu mendoakan untuk Prajurit yang jauh disana. Dalam setiap sujud selalu Saya minta untuk menjaga hati Prajurit pujaan hati saya. "
Galih tersenyum lalu menarik tengkuk leher Puspita, di ciumnya bibir tipis warna pink milik istri, dengan saling membalas ciuman dan saling *******.
" I love you." Ucap Galih saat menghentikan ciuman nya dengan saling menautkan kening.
__ADS_1
" I love you too."