
" Bi, Mamah kapan menjenguk Berlin? "
" Bibi nggak tahu sayang. "
" Mamah nggak sayang Berlin, apalagi Papah juga? " Ucap gadis kecil berusia 8 tahun yang menatap photo kedua orang tua nya.
" Ya Allah, anak tak berdosa seperti ini harus merasakan pahit nya hidup. "
******
Puspita tertawa saat melakukan panggilan video call bersama Panji, dan Juga Bagas. Karena tawa nya yang nyaring membuat Galih memasuki kamarnya saat tahu sang istri tak juga keluar kamar.
" Ayah....!!! " Sapa Bagas saat melihat Ayah nya di belakang Puspita.
" Halo... sayang apa kabar? " Sapa Galih sambil memeluk tubuh Puspita dari belakang.
" Baik Ayah, Bagas kangen Ayah. "
" Sabar sayang, nanti kalau ada waktu cuti lagi Ayah Pulang. "
Setelah lama bercanda lewat video call, Puspita meletakkan ponselnya. Galih pun langsung menciumi tengkuk leher Puspita, dengan kedua tangan nya sudah menempel di tempat kesukaan nya.
" Mas.. ih.. sana akh... "
" Kenapa sih Yank? "
" Bau...!! "
Galih mencium kedua ketiaknya, Namun tidak merasakan bau, hanya bau perfume maskulin kesukaan Puspita.
" Ini bau perfume kesukaan kamu loh."
" Sana mas, tiba - tiba kamu kesini bau. Hoek... hoek... " Puspita pun menutup hidung dan sedikit mual.
" Aneh..!! " Ucap Galih sambil beranjak meninggalkan Puspita.
" Beneran Mas, kamu bau tahu. "
***
Galih duduk di teras depan rumah nya, terlihat Gladis keluar dari rumah Pak Willy, lalu berjalan ke arah Galih yang sedang memainkan ponselnya.
" Istri kamu mana? " Tanya Gladis sambil duduk di samping Galih.
" Ada di dalam." Ucap Galih sambil memainkan ponselnya.
" Kalau duduk begini, ingat dulu sambil menatap bintang di langit, kalau ada bintang jatuh selalu membuat permintaan."
" Sudah lah, jangan mulai ingat yang dulu."
" Kamu benar - benar marah? "
" Sudah jangan bahas, Saya memang marah. "
" Melupakan nya saya, tak akan pernah bisa melupakan satu hal yang akan selalu ada seumur hidup. "
" Terserah, kalau Mau dekat dengan saya kembali sebagai teman Dan saudara bukan pacar, karena kita mantan."
" Mantan terindah. " Ucap Gladis beranjak meninggalkan Galih yang menatap nya kesal.
******
" Yank, sarapan nya mana? " Tanya Galih saat melihat meja makan yang masih kosong.
" Mas, maaf ya Saya nggak kuat bau nasi, atau masakan apa saja biki mual. " Jawab Puspita Sambil memakai masker nya.
"Kamu sakit? " Tanya Galih sambil memegang dahi yang tak panas.
__ADS_1
" Nggak kuat bau Mas, kamu juga kenapa ini pakai Perfume bikin hidung gatal pengen bersin."
" Mas pakai sewajarnya saja Yank. "
" Cepat berangkat gih nggak kuat bau nya."
" Salim dulu sini. " Ucap Galih sambil menyodorkan tangan nya.
Puspita pun lalu mencium punggung tangan Galih, saat Galih akan mencium kening Puspita menolak nya.
" Maaf Mas. "
" Ya nggak apa - apa, istirahat ya. " Ucap Galih setengah kecewa.
" Hati - hati. "
******
" Kalian bau nggak sih badan Saya? " Tanya Galih pada teman - teman nya.
" Nggak Bang, wangi kok. " Jawab Aril.
" Wangi Bang benar." Ucap Saeful.
"Aneh, istri Saya selalu bilang bau. Malah hari nggak masak nggak kuat sama baunya."
" Abang kayak belum pernah nikah sama punya anak saja, mungkin lagi ngisi." Ucap Dito.
" Sok tahu, kayak kamu sudah nikah saja. " Ucap Aril.
" Eh walau Saya belum nikah, pasti tahu lah. Abang tanyakan saja, terakhir datang bulan kapan, masa suaminya nggak tahu."
" Jangan - jangan benar hamil, soalnya saja dari postur tubuh nya saja sudah berbeda."
******
" Untuk apa kasih tahu, Ayah nya sudah mempunyai kehidupan sendiri. "
" Bu, Berlin sudah besar, dia sering di ejek tak memiliki orang tua. "
*****
Puspita berjalan kaki sambil menenteng kresek yang berisi rujak uleg yang dia beli di warung dekat sekitar rumah Pak Willy.
" Dari mana kamu? " Tanya Gladis menghentikan motor nya menyapa Puspita.
" Habis cari rujak nih pengen pedas - pedas." Jawab Puspita.
Gladis memandang postur tubuh Puspita dengan agak yang berbeda , dengan bagian dada yang sedikit membesar dan pinggul yang membentuk dan berisi.
" Kamu lagi Hamil? " Ucap Gladis menebak.
" Hamil..!! "
******
" Hamil...!!!"
" Gagal kedua kalinya? "
" Saya nggak boleh jadi bodoh, karena kisah yang dulu,saya harus bertindak. " Ucap Gladis sambil menggigit ujung kukunya.
*****
" Maaf kan sayang, tante nggak bisa bantu, Tante hanya bantu kamu sampai sini saja, karena kamu terlambat mengatakan sekarang. "
" Saat itu Saya takut Tante, Saya takut akan ancaman itu. "
__ADS_1
" Maaf kan Tante..!! "
*****
" Yank...!!! "
" Yank....!! " Panggil Galih saat memasuki rumah nya.
" Mas, pulang itu Salam kenapa harus teriak." Ucap Puspita keluar dari kamar mandi nya.
" Kamu kok tambah pucat? "
" Mual Mas, sama nggak tahan bau."
" Yank, terakhir datang bulan kapan? " Tanya Galih sambil menatap ke arah Puspita.
" Mas selama disini selalu ngajakin tempur terus loh."
" Seperti nya telat Mas. "
Galih tersenyum ke arah Puspita, sontak tangan nya reflek mengusap perutnya yang masih rata.
" Kamu hamil. " Ucap Galih dengan mata berbinar.
*****
" Bagaimana Gladis istri Saya, kamu kan seorang Bidan? " Tanya Galih saat memeriksakan Puspita.
" Kita cek dulu ya . " Jawab Puspita sambil menyerahkan alat tes kehamilan.
" Kamu cek dulu. " Ucap Gladis pada Puspita.
Puspita pun lalu pergi ke kamar mandi untuk mengecek urine nya, apakah dirinya benar - benar hamil atau tidak.
" Apakah kamu sangat bahagia? " Tanya Gladis tiba - tiba.
" Bahagia, dari pernikahan Saya dengan Rena pun Saya bahagia hingga punya anak satu." Jawab Galih.
" Apakah kamu tidak pernah ada pikiran tentang kita apa yang dulu pernah kita lakukan? "
" Masa lalu itu sudah Saya bilang nggak Mau Saya ingat, semua itu kamu yang mulai. Kamu jangan pernah bahas lagi, Puspita tidak tahu kamu siapa, dan kita dulu nya adalah siapa."
Puspita pun keluar dengan membawa hasil di alat tes kehamilan tersebut, Galih pun dengan jantung berdebar - debar ingin mengetahui hasil nya.
"Bagaimana Yank? " Tanya Galih.
Puspita pun memberikan Testpack tersebut pada Galih, dengan tangan gemetar Galih melihat hasil nya begitu pun juga Gladis. Mata Galih berbinar saat melihat dua garis Merah, dan Puspita pun langsung memeluk tubuh Galih.
Pelukan erat pun terjadi, Galih mencium pucuk kepala Puspita. Gladis yang melihat nya pun hanya tersenyum kecut, dan memalingkan wajah nya.
" Kita akan jadi orang tua sayang. "
" Bagas sama Panji punya adik mas."
" Makasih sayang. "
*******
" Alhamdulilah, akhirnya mamah nambah cucu lagi. " Ucap Ibu Eva di sambungan telepon nya.
" Nggak sia - sia Mah, Puspita datang kemari Saya meninggalkan jejak untuk dia bawa pulang. " Ucap Galih sambil tersenyum.
" Mamah jadi ikut senang, selamat ya nak semoga sehat semua dan lancar sampai proses persalinan."
" Amin... makasih Mah. "
Galih kembali memeluk tubuh Puspita saat duduk bersama setelah melakukan panggilan telepon nya, satu kecupan pun di bibir mendarat untuk istri tercinta.
__ADS_1