
Shubuh tiba lampu telah menyala, terlihat Puspita masih tidur. Saat itu Puspita tidur dalam pelukan Galih, lalu dia pindah kan ke atas tempat tidur.
" Puspita, bangun sudah shubuh."
Eeeegghhh...
Puspita pun bangun, dan menggeliat terlihat lampu sudah menyala.
" Mas jam berapa? "
" Jam 4 pagi, mas pulang ya."
" Makasih ya mas."
" Sama - sama."
Galih pun keluar dari kamar Puspita, begitu pun Puspita mengikuti Galih dari belakang.
" Mas ntar dulu, takut ada yang lihat."
" Pak Willy sedang keluar kota tadi ada pembantunya saja Mas lihat, tapi dia nggak lihat Mas.
" Maaf ya Mas, sehingga Mas nggak pulang dan harus bohong sama istri Mas."
" Masalah itu biar jadi Urusan Mas."
" Mas, Saya minta maaf kalau selama ini Saya nggak suka sama Mas."
" Nggak apa - apa, itu wajar kamu seperti itu, mas pantas mendapatkan nya."
" Hati - hati."
" Mas Pamit."
******
Galih pun memasuki rumah nya, saat melewati kamar utama terlihat Bagas masih tertidur pulas , namun terdengar suara dari arah dapur Rena tengah memasak.
" Sayang." Galih memeluk tubuh Rena dari belakang.
" Loh kok Saya nggak dengar Mas pulang." Ucap Rena yang sedang mengiris sayuran.
" Mas sengaja pelan, takut Bagas bangun. Dia nanyain Mas nggak? "
" Tanya Ayah kemana, Rena jawab saja Mas sedang ada urusan." Ucap Rena sambil berbalik berhadapan dengan Galih.
Rena mengalungkan kedua tangan nya di leher Galih, sedangkan Galih menarik pinggang Rena dan wajah mereka saling mendekat, namun indera penciuman Rena saat berada di krah seragam hingga semua tubuh Galih tercium Parfume yang sangat asing.
" Kenapa nggak jadi cium? "
" Mas tadi malam sama siapa? "
" Sama warga di rumah Pak Willy." Ucap Galih bohong, namun menangkap kecurigaan di mata Rena.
" Mas mandi dulu." Ucap Galih berlalu meninggalkan Rena.
******
" Benar - benar fatal. " Ucap Dito.
" Cukup kamu saja yang tahu, Saya kan sudah cerita kan masalahnya." Ucap Galih.
" Setelah ini, jangan dekati dia lagi Bang."
" Iya, Saya akan jaga jarak."
" Ingat Bang, sebentar lagi istri Abang melahirkan. Ada anak Abang di rahim nya."
" Kenapa dia hadir di saat Saya sudah belajar untuk melupakan dia, kini dia datang saat kondisi sudah berubah, dan kedekatan kita di mulai tadi malam saat Saya mengetahui dia mempunyai trauma healing."
__ADS_1
" Jujur sebenarnya apa Abang masih mencintai nya? "
*******
" Pagi Pak Willy, baru pulang? " Sapa Puspita saat hendak akan pergi.
" Pagi juga mba Puspita, iya Saya baru saja sampai. Mau berangkat? "
" Iya Pak, Saya berangkat dulu."
" Hati - hati."
Puspita pun menaiki sepeda nya, dan mengayuh menuju ke sekolah dimana Puspita Dinas.
" Itu kan...!!!
" Sialan, ternyata kamu bohongi saya."
******
" Permainan di mulai, kamu harus bayar semua yang apa kamu lakukan pada Saya. "
Pria yang selama ini mengenakan Masker membuka Masker nya, dan bercermin memperlihatkan wajahnya yang tak lagi sempurna.
******
" Pak Willy, ini ada kue buat Bapak." Ucap Puspita saat Pak Willy sedang mengobrol. Dan kebetulan di rumah Pak Willy pun sedang di adakan Posyandu.
" Terima kasih Mba Puspita, oh iya kenalkan ini istri dari Pak Galih, Ibu Rena."
Puspita dan Rena saling tersenyum, lalu berjabat tangan.
" Sini duduk dulu ngobrol sebentar." Ajak Pak Willy.
" Terima kasih Pak, nggak enak lah Bapak sedang mengobrol."
" Nggak apa - apa Puspita Saya habis minta vitamin sama Ibu Bidan kebetulan ada acara Posyandu, terus bertemu sama Pak Kades jadi ngobrol sama Pak Kadesnya , kamu pendatang juga , Saya juga pendatang mungkin kita bisa saling kenal, benar kan Pak Willy."
Puspita pun langsung duduk di samping Puspita, dan Rena memandang penuh arti ke arah Puspita.
" Puspita dari Jawa?"
" Iya Saya Jawa, Saya disini kerja."
" ASN ya? "
" Iya."
" Kenapa minta tugas disini, atau ada sesuatu orang yang di sayang,jarang loh wanita yang Mau tugas sampai jauh kesini,dan lama - lama disini beda sama laki - laki. "
" Nggak ada, Saya memang nggak menyangka saja bisa tugas disini."
******
" Bagas.. ayo lempar bola nya nak." Ucap Galih.
Hap
Galih menangkap bola yang di lempar Bagas, dan Galih melemparkan kembali pada Bagas.
" Ayah, capek." Ucap Bagas langsung mendekati Galih.
Galih pun mengusap keringat di wajah Bagas, wajah anak usia 5 tahun ini sangat kelelahan setelah bermain dengan Ayah nya.
" Dari mana bu? " Tanya Galih saat melihat Rena datang.
" Habis dari Posyandu minta vitamin sama Ibu Bidan." Jawab Rena.
" Posyandu dimana? "
__ADS_1
" Di rumah Pak Willy."
Deg
" Tadi ngobrol sama Pak Willy. "
Deg
" Tadi juga saya kenalan sama ASN baru yang tinggal di Pak Willy, namanya Puspita."
Deg
" Kalian ngobrol? "
" Iya ngobrol banyak, dia asik mas orang nya."
" Mas saja nggak tahu, dan misal ke Pak Willy nggak pernah ngobrol sama dia."
" Dia cantik."
Galih hanya diam dan membereskan mainan yang berserakan di teras rumah nya.
******
Puspita dan Ratih tengah berada di sebuah pasar malam, terlihat berbagai wahana yang beberpa membuat semua orang yang menaikinya begitu histeris.
" Puspita, ada Pak Galih sama Istri." Tunjuk Ratih.
Puspita melihat Galih menggendong seorang anak laki - laki dan di samping nya wanita yang tadi siang dia bertemu, Rena yang sedang hamil 8 bulan.
" Kamu kenal? "
" Bagaimana nggak kenal, semua orang kenal sama Pak Galih, Tentara tampan idaman Ibu - ibu." Ucap Ratih.
" Kita hampiri mereka yuk. " Ajak Ratih yang langkahnya menuju ke arah Galih dan Rena.
" Pak Galih, ibu Galih." Sapa Ratih.
Galih dan Rena menoleh saat ada yang menyapanya, Galih dan Rena tersenyum ke arah Ratih dan juga Puspita.
" Kalian berdua saja? " Tanya Rena.
" Iya bu, Mau ngajak siapa lagi." Jawab Ratih.
" Kalian nggak Mau naik salah satu wahana, biar Saya yang bayarin." Ucap Galih.
" Nggak, nggak makasih. Saya takut ketinggian, mungkin Puspita mau."
" Nggak makasih, terlalu tua Saya menaiki wahana. "
" Ayah Bagas ingin naik wahana kuda - kuda an." Ucap Bagas.
" Boleh, sama Ayah."
" Saya mau lah naik." Ucap Ratih.
" Katanya takut? "
" Kan nggak tinggi."
" Ayolah Saya bayarin."
Ratih mengekor Galih dan Bagas dengan wajah penuh kegembiraan.
Rena dan Puspita pun, melihat ke tiga orang tersebut menaiki wahana kuda - kuda an, saat sudah berputar terlihat mereka bertiga melambaikan tangan nya.
" Kamu tahu, Saya sangat bahagia menjadi istri Galih, karena saat ini Galih hanya mencintai Saya, walau dengan perjuangan yang sangat sulit mendapatkan nya."
Puspita menoleh ke arah Rena, dan Rena hanya menatap lurus ke arah wahana.
__ADS_1
" Kamu tahu, kehadiran kamu itu adalah sebuah ancaman bagi Saya, dan Saya ingat kan sebelum tangan Saya kotor karena membersihkan sebuah kecoa, kamu pergi lah jauh - jauh."