Antara 3 Abdi Negara

Antara 3 Abdi Negara
Antara Sebuah Keputusan


__ADS_3

" Selamat bergabung dengan keluarga SMPN 5 IM." Ucap Kepala Sekolah saat menyambut kedatangan Puspita di awal tahun ajaran baru.


" Terima kasih Pak, saya sangat berterima kasih sudah di terima menjadi bagian dari keluarga SMPN 5 IM. "


" Semoga dengan jabatan baru sebagai Tenaga Administrasi sekolah memegang Aset, bisa membantu untuk kemajuan sekolah kita."


" Amin, insya Allah. "


" Ibu Puspita dulu pegang apa? "


" Saya pegang kepegawaian Pak, insya Allah Saya bisa menguasai untuk jabatan Saya yang sekarang."


" Nanti bisa belajar lagi dari senior kita yang pernah pegang Aset, karena ini berhubungan dengan Aset negara yang ada di sekolah kita."


" Siap Pak, Saya akan banyak belajar dari jabatan baru Saya ini."


Puspita pun lalu bergabung dengan teman - teman baru nya setelah berkenalan, dan mereka pun saling bertukar nomer ponsel.


" Maaf bu, nanti nomer ibu Saya masukan ke Group SMPN 5 IM." Ucap Ibu Nita.


" Baik bu, terima kasih." Ucap Puspita.


" Kembali kasih." Ucap Ibu Nita.


Saat sedang memeriksa ponselnya sebuah notifikasi M- Banking dengan nama suami nya, setelah 2 bulan berpisah Galih masih suka mengirim uang sebagai rasa tanggung jawab sebagai seorang suami. Setiap minggu Galih mengirim uang , sedangkan Puspita entah kabar apa yang terjadi pada nya karena Puspita masih memblok nomer ponsel suami nya.


*****


Galih memandang laporan bukti transaksi M - Banking nya yang telah masuk ke rekening Puspita, beribu pesan yang di kirim oleh Galih tak terkirim semua. Hanya helaan nafas panjang, memikirkan nasib rumah tangganya.


" Apa kamu memeng benar - benar ingin berpisah sama Saya, apa kamu benar - benar ingin Saya menikahi Gladis."


Galih memejamkan mata nya, lalu teringat akan Berlin yang pernah mengatakan bahwa Gladis akan selalu memarahi Berlin karena membenci sosok Ayah nya, dan Gladis berkata akan selalu menyiksa Berlin selama dirinya tak akan menikahi nya.


" Apa Saya harus ambil saja keputusan itu, Puspita pun tak pernah menganggap saya pun ada."


Dengan bergegas, Galih pun mengambil ponsel nya, lalu mencoba mencari sesuatu.


*****


" A Ikbal kok ada di depan sini? " Tanya Puspita saat melihat Ikbal sedang menunggu nya di depan pintu gerbang SMP.


" Saya ingin jemput kamu, kasihan bumil." Jawab Ikbal.


" Nggak usah repot - repot kali."


" Nggak apa - apa, Mau pulang atau kemana?"

__ADS_1


" Pulang saja."


" Ok, Aa antar namun saat hendak menaiki motor mobil Heru pun berhenti tepat di depan mereka berdua dan tampak raut wajah Heru yang tak suka terhadap Ikbal.


" Mau kemana? " Tanya Heru.


" Pulang. " Jawab Puspita.


" Ikut Kakak, kamu mau di marahin sama Papah pulang bersama dia."


" Dia sudah datang kesini Kak, masa Saya harus menolak."


" Papah ada di rumah Tante Tini, jangan sampai emosi nya memuncak."


Puspita melihat ke arah Ikbal, sedangkan Ikbal hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Maaf. " Ucap Puspita.


" Nggak apa - apa, pergi lah Saya juga akan pergi setelah ini."


" Puspita pun memasuki mobil Heru, sedangkan Ikbal memandang mobil yang membawa Puspita hingga menjauh dari pandangan nya.


******


" Baik Saya akan menikahi kamu, tapi ijin kan Saya untuk menyelesaikan masalah Saya dengan Puspita. " Ucap Galih dengan berat mengucapkan di hadapan Gladis.


" Makasih, makasih selama hampir 9 tahun Saya menunggu ini semua."


" Saya lakukan demi Berlin, dan Saya minta kamu juga menerima Panji sebagai anak kamu."


" Panji, anak dari wanita iblis itu? "


" Dia lahir dari rahim wanita yang kamu sebut iblis, dia tetap ibu dari anak Saya. Saya akan cerai kan Puspita dan menikahi kamu, tapi kamu juga harus menerima Panji seperti Puspita menerima Panji. "


" Baik, Saya akan menerima Panji, dengan satu syarat Saya tidak mau seatap dengan anak itu."


" Lebih baik kamu pikirkan lagi untuk menikah dengan Saya, tapi Saya akan bawa Berlin dan berpisah dengan kamu."


" Kamu nggak bisa bawa Berlin, karena Berlin tak akan pernah bisa jauh dari saya."


" Kenapa, kamu takut tak bisa menggunakan Berlin sebagai alat mendekati saya? "


" Karena Berlin memiliki Diabetes dan harus di berikan insulin, dan itu keinginan Berlin kenapa dia ingin seperti teman - temannya, dan ingin kita bersama. Anak seperti dia masih kecil harus menanggung penyakit seperti itu. "


" Kejutan apa lagi Gladis, selama ini kamu banyak sekali menyembunyikan masalah tentang Berlin. Kenapa kamu biarkan Gladis hidup bersama orang lain sedangkan kamu tahu Berlin sakit."


" Kamu tahu dia ancaman Rena, kamu tahu anak sekecil dia selalu menjadi alat bila Saya mendekati kamu. Kalau semua nggak terjadi, kita sudah hidup bersama."

__ADS_1


*****


" Gimana sayang kandungan kamu? " Tanya Pak Anto saat Puspita sampai di rumah nya.


" Alhamdulilah Pah sehat." Jawab Puspita.


" Heru makasih sudah luangkan waktu." Ucap Pak Anto.


" Sama - sama Pah. " Ucap Heru.


" Pah, tolong jangan selalu meminta bantuan kak Heru, Papah tahu Kak Heru sudah mempunyai calon istri, Vera nama nya jadi tolong jangan sampai hubungan mereka itu kandas gara - gara Saya. " Ucap Puspita.


" Benar Heru apa yang di katakan Puspita? "


" Benar Pah. "


" Papah sangat kecewa kalau begitu, Papah harap setelah Puspita melahirkan kamu menikah dengan anak Papah."


" Maaf pah, tapi Heru sudah janji akan selalu di samping Puspita dan sekarang Heru menggenggam kembali tangan nya."


" Papah harap tidak hanya menggenggam tapi tali ikatan. "


" Pah, cukup ya kalau pun Saya cerai, Saya tidak akan menikah dengan Kak Heru. Papah paksa pun tidak akan Mau. "


" Kamu tahu lelaki seperti dia itu jarang, Heru yang terbaik, dia belum menikah masalah Vera bisa di atasi kan belum ada ikatan. Dan Papah tanya sama kamu Heru, kamu Mau menikahi Puspita? "


******


Gladis menyuntikkan insulin ke tubuh Berlin, hati Galih kembali tersentuh melihat apa yang di alami gadis kecil seusia Berlin.


" Suntikan insulin ini sejak dua tahun terakhir, Saya pun kaget saat mendengar kabar dia terkena Diabetes , hati Saya hancur. "


" Apa lagi yang kamu sembunyikan dari Saya saat ini? "


" Maaf kan Saya kalau Saya menyuruh Berlin bahwa saya selalu menyiksa dia, dan agar kamu itu Mau menikahi saya. Karena ini jalan saya satu - satu nya untuk mendapatkan kamu kembali. "


" Kamu begitu keterlaluan Gladis, saya nggak habis pikir kamu beda dengan Gladis yang dulu."


" Saya seperti ini, karena kamu Saya seperti ini karena memiliki rasa takut, dan apa yang menjadi milik saya harus Saya lepas begitu saja. Apalagi saat tahu kamu hidup bahagia, Saya hanya bisa menangis dengan apa yang Saya hadapi bersama Berlin."


*****


" Leon? "


Lelaki ber stelan jas warna Navy menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya.


" Anda siapa? "

__ADS_1


__ADS_2