
"Mulai sekarang kamu sudah ku anggap sahabat, kepercayaan ku sendiri. Yah, walaupun kamu pembantu dan aku majikan, tapi aku tahu cuma kamu yang bisa ku andalkan sekarang. Jadi, jangan coba-coba khianati aku dengan sembunyikan sesuatu tentang bapak, kalau kamu tahu nanti... " Ucap Erin dengan nada khasnya yang manja gemulai.
Marwah hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mulutnya dibiarkan rapat berharap agar Malaikat tak mencatat kata-katanya sebagai janji. Tapi, memang bisa pikirannya sewaras itu?
"Baiklah kalau begitu aku mau istirahat dulu, sekalian mau kompres mata. Besok ada jadwal siaran, kalau mataku bengkak kan gawat, suaraku juga bisa serak kalau sering nangis. Bisa mempengaruhi performa kerja ku nanti. Aku tinggal dulu ya Marwah."
Sungguh di luar dugaan, Erin memang wanita sejuta ekspresi. Hanya perlu waktu beberapa saat saja, sampai ia mendapatkan Marwah. Kini, air mata itu langsung tersapu, berganti pada penampilan kembali. Kini, pikiran soal suami, sudah berganti lagi pada pekerjaan dan karir.
Marwah tetap diam.
"Oh, ya. Nanti kalau bapak pulang kamu langsung buatkan saja kopi dan air hangat untuknya mandi. Atau kamu bisa tanyakan saja langsung dia mau apa."
"Loh, bu? apa tidak----" Sontak Marwah terkejut, mendengar ucapan Erin barusan. Apakah memang Erin marah besar sampai tak mau melayani Rambo bahkan setelah pulang kerja?
"Haish. Sudah sudah... kamu jangan protes. Aku mau istirahat, capek. Nanti aku tambahi gaji kamu kok. Santai saja. Aku pekerjakan kamu memang untuk mengurus rumah tangga ku. Suami ku kan sering marah-marah soal rumah tangga, makanya aku pekerjakan kamu. Aku butuh istirahat kalau malam, salah suami ku sendiri kenapa lembur terus. Tapi, ya sudahlah... sekarang sudah ada kamu, jadi dia tak mungkin marah-marah lagi cuma perkara kopi dan air panas." Tukas Erin sambil menggoyangkan punggung tangannya. Sebagai isyarat agar Marwah berhenti protes dan segera terima perintah darinya.
Marwah tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintah Erin, sebab tidak mudah baginya untuk menentang ucapan perempuan selabil ini. Dengan segala kuasa dirinya, dia mampu mengambil keputusan sesuai kehendaknya.
Satu-satunya yang bisa dilakukan Marwah agar bisa bertahan dan dirinya tak ditaruh kecurigaan dalam rengkuhan kuasa Erin ialah menurut lebih dulu, sehingga apabila ia melayani Rambo seperti perintah Erin, praduga itu akan patah sendiri. Bukankah, melayani Rambo juga adalah keinginan Marwah. Jadi perintah ini sebenarnya tidak terlalu buruk.
"Baik, bu." Jawab Marwah sedikit menunduk.
__ADS_1
Sambil menunggu Rambo pulang, Marwah mulai persiapkan bahan-bahan buat puding buah seperti janjinya pada Rambo tadi pagi. Perasaannya agak kacau, karena masih ingat Erin. Aku diberi kepercayaan, tapi aku sudah mengkhianatinya lebih dulu. Gumam Marwah. Tapi seperti kata Rambo, merasa bersalah dan gelisah itu, memang gejala awal untuk orang yang baru mau mulai main api, tapi kalau api sudah besar dan stabil nanti, bakal terbiasa kok. Persetan dengan perasaan orang lain, selagi perasaan itu terbalas dan timbal balik, maka tak masalah. Anggap saja pantas diperjuangkan.
Marwah menganggap pandangan semacam itu normal. Normal untuk orang yang sudah tak waras... sebab mau sebesar apa pun cintanya, selingkuh bukan cara yang bisa di benarkan. Ibarat main api, dari kecil lama-lama akan besar, kalau tidak beruntung kamu bakal terbakar habis. Lenyap menjadi debu....
Dia terus memikirkan itu sampai tengah malam: "Hei... Aku pulang."
Bisikkan lembut itu masuk ke telinga Marwah sementara Rambut halus yang menghiasi bibir hingga ke garis rahang, bergesekan lembut di area pipi Marwah, rasanya geli-geli nikmat, berhasil menyadarkannya dari tidur. Rupanya Marwah tertidur di meja makan. Setelah masak dan tunggu Rambo pulang.
"Om?"
"Hust!" Balas Rambo cepat. Satu jari telunjuk di pasang depan bibir, seakan mengisyaratkan pada Marwah bahwa ia harus mengecilkan suara sedikit, sebelum akhirnya malah membangunkan Erin di kamar.
"Oh, Aduh maaf." Marwah memelankan suaranya, sekarang terdengar nyaris seperti bisikan. "Maaf aku ketiduran. Kamu sudah lama pulang?"
"Boleh, ku siapkan dulu."
Malam semakin larut, seperti ini rasanya bangun menyiapkan makanan dan minuman untuk laki-laki yang baru pulang kerja patroli. Pikiran Marwah berputar-putar.
Sampai ia datang membawa susu cokelat panas dan pudding buah yang sudah mengeras. Rambo menikmati susu buatannya, sementara Marwah mencuri-curi pandang.
"Tadi, ibu pulang nangis-nangis. Dia telepon kamu Om untuk dijemput. Tapi kamu tidak datang bahkan saat dia menunggu sampai 2 jam. Apa yang kamu lakukan saat itu? memangnya kamu tidak pikirkan sama sekali tentangnya?" Marwah membuka obrolan.
__ADS_1
"Jangan kemakan ucapannya Marwah. Dia memang begitu kok. Berlagak paling tersakiti, aku pergi kerja pakai motor, sementara dia mau dijemput pakai mobil. Ya aku harus apa? wajar kan kalau aku diam saja?"
Rupanya Rambo memang sudah paham sifat istrinya. Tapi, yang lebih mengejutkan, kini Erin sudah berani cerita pada orang lain, Marwah yang notabene nya baru ketemu tadi pagi. Jadi, apakah selama ini sudah banyak orang lain juga yang dapat cerita tentang Rambo dari Erin? cerita yang buruk maksudnya.
Angin malam berdesir masuk, menggerakkan rambut Marwah dengan sentuhan yang lembut.
"Aku suka kamu memandangku begitu. Ayo pandang aku terus dan jangan berpaling," kata Rambo dengan nada mengejek.
Marwah langsung mengalihkan tatapan ke arah samping, memandang pada tangga besar yang melingkar.
"Tapi tetap saja Om," Kata Marwah. "Ibu sudah menaruh curiga kalau kamu menaruh perasaan untuk perempuan lain. Dia tahu kalau kamu selingkuh. Terlalu curiga sampai dia minta bantuan ku untuk selidiki kamu dan wanita simpanan kamu, om."
"Bersikaplah tenang, seperti kamu biasanya. Seperti kamu,---" Ucap Rambo. "Aku pun tak mampu bersikap tenang atas permainan gila ini. Tapi aku tak mampu bersikap apatis di hadapanmu. Dia memang sudah curiga dari awal aku bertemu lagi dengan mu. Erin sendiri juga sadar bahwa pernikahan kami memang hadir tanpa cinta. Aku pernah berkata soal ini, bahkan dari awal sebelum menikah, tapi Erin lebih memilih tuli. Jadi ya sudah ini memang sudah jadi akibatnya. Jadi, biarkan saja sampai waktu yang mengungkapkan hubungan kita. Ya, aku lebih baik kehilangan segalanya dari pada harus kehilangan kamu lagi."
Rambo meneguk lagi Susu cokelatnya dan mengulum bibirnya yang kering.
"Posisinya sekarang aku juga sulit, Om. Ibu Erin percaya padaku, sementara aku sudah mengkhianati dia lebih awal... "
Belum selesai Marwah bicara, suara dari samping datang menyela. Suara yang lembut tegas Khas milik istri Rambo yang manja.
Dia berdiri depan tangga sambil mengernyit dahi, melirik ke arah mereka berdua di meja makan.
__ADS_1
"Maksud kalian apa?" ucapnya.