Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 33 - Padahal Dia Sudah Mencintai


__ADS_3

Erin datang mengambil sandwich yang dibuat Rambo malam ini, dan botol air yang disiapkan Rambo di meja makan. Erin merasa seakan-akan sedang berada dalam kondisi suka cita, seperti telah memiliki Rambo seutuhnya. Berlindung di balik tubuh besar, dan berharap selamanya Rambo akan membentengi dirinya.


Oh, Rambo saat itu bagi Erin bagaikan anak kucing jinak setelah semua yang terjadi di keluarga mereka, awal mula dari semua ini adalah pengusiran Marwah dari kehidupan rumah tangga mereka. Memang pembantu itu lah penyebab keributan di antara mereka, menurut Erin.


"Tumben kamu sudah ada di rumah sebelum aku pulang, Mas." Erin menyuarakan kata tersebut keras-keras sambil menikmati sandwich milik Rambo yang ia rebut. "Biasanya pulang sepertiga malam terus."


Tetapi Rambo tidak merespon apa pun. Ia masih sibuk bolak-balik dari dapur ke meja makan. Kali ini ia menyalakan api di kompor, menaikkan air untuk membuat kopi. Erin sangat bersyukur dengan suara apa pun yang timbul di sekeliling mereka saat ini, suara yang membantu melengkapi suasana di antara mereka, melengkapi pikirannya dari bayang Rambo yang sedang berada dalam kegelapan di depannya, indah dan sempurna.


Erin mendekat sambil berbisik nakal, "Jangan-jangan kamu sengaja pulang lebih awal karena ingin secepatnya bertemu denganku ya? berduaan denganku di rumah, kamu merindukan aku ya?"


Senyumnya sudah cukup menggambarkan kepercayaan dirinya yang tinggi, Dia tersenyum menggoda keseriusan Rambo sekaligus menguji kebenaran kata-katanya barusan, berusaha melihat apakah dengan mendengar kata itu diucapkan, Rambo akan memberikan reaksi semacam salah tingkah atau sebagainya.


"Mas, jangan diam begitu. Jawab aku dong! mau pura-pura cuek begitu sampai kapan?" Kata Erin dari tempat berdirinya di sebelah Rambo.


Rambo menatap ke arahnya. "Tolong jangan katakan bahwa kau mencoba membaca pikiran orang."


"Tidak," jawabnya sambil tersenyum nakal lagi. "Hanya membaca gerak-gerik mu saja. Aku dapat melihat dengan jelas bahwa kamu sengaja pulang cepat karena tak sabar bertemu denganku. Ya kan?"


Tak sabar ingin bertemu? Apakah pendapat Erin itu benar? Baiklah, memang tak bisa disebut salah juga. Tapi tentunya, ingin bertemu bukan karena rindu seperti sangkaan Erin. Ia telah datang kepada atasannya untuk meminta surat pengajuan cerai, lantas masuk akal kah jika itu disebut Erin sebagai rindu?! Jika malam ini Rambo pulang lebih awal, dan menunjukkan gelagat tak sabar bertemu, bisa dipastikan itu bukanlah hal yang menyenangkan.


"Sudah ku katakan," Kata Rambo sambil menuang air panas ke cangkir kopinya, pelan-pelan mengaduk airnya dengan santai. "Jangan coba-coba membaca pikiran orang, apalagi kalau terkaan itu salah, itu sangat menyebalkan."

__ADS_1


"Menurutku terkaan itu benar, seharusnya kamu tidak perlu sekaku ini," protes Erin. "Aku juga tidak senang kalau kamu gengsian begini."


Erin mengangkat bahu dan menyisir ujung rambutnya yang lembut dengan satu tangan. "Aku juga rindu berat denganmu Mas. Baru setengah hari tidak ketemu, rupanya bisa serindu ini. Atau jangan-jangan," katanya, dengan senyum singkat pada Rambo, "Sepertinya aku telah jatuh cinta denganmu, Mas."


"Oh ya?" ujar Rambo sambil menggosok-gosok pinggiran gelas keramik. Mengukur panasnya kopi sekarang. Meskipun ia sendiri kedinginan, namun lidahnya tetap tak mampu menahan panas yang mengepul.


Erin mengangguk, kembali tersenyum pada Rambo. "Kamu sudah dengar pernyataan hatiku. Jadi, mulai sekarang aku rasa pernikahan kita akan semakin berwarna dan lebih erat. Sekarang, kamu tidak perlu lagi merasa perasaanmu tak terbalas."


"Maaf sekali," kata Rambo. "Aku tidak merasa tak terbalas. Begini ya, dari tadi aku sudah mengatakan padamu; jangan coba-coba membaca pikiran orang lain. Itu sangat menjengkelkan."


"Kenapa sih Mas? Sensian. Bicara yang santai saja, lagi pula aku dari tadi juga bicara pakai nada yang tenang." Erin kembali protes, masih berjuang untuk mengenyahkan pikiran buruk. "Sudahlah, lupakan saja. Bicara perasaan dengan lelaki batu seperti kamu, hasilnya nihil. Bukannya berbunga, malah bikin kesal."


"Besok kita kumpul keluarga, ya Rin. Ada yang harus aku sampaikan."


"Dengan keluarga? soal pernikahan kita?" Tanya Erin dari meja makan.


"Ya," jawab Rambo, memikirkan kata-kata tersebut telah sesuai dengan arahan Anta Reza tadi pagi. Dia sedang melakukan apa yang memang seharusnya. Apa yang telah dilakukannya selama ini.


"Mau liburan sama-sama? Kamu merencanakan perayaan suasana baru di keluarga kita, Mas?"


Erin masih mencoba untuk menenangkan pikiran. Namun, dingin yang dirasakan hatinya juga ketegangan pada setiap otot tubuhnya membuat ia tetap waspada. Erin sendiri ingin tahu apa yang akan dilakukan Rambo, apakah ia tengah menyiapkan sebuah rencana? Dan mengapa ia begitu tiba-tiba ingin mengumpulkan keluarga besok?

__ADS_1


Namun, bahkan ketika memikirkan hal tersebut, ia tahu perasaan parno itu akan terus membayangi otaknya.


Erin memusatkan pandangan pada sosok Rambo di depan, kemudian mengernyit kecil begitu Rambo mengangkat kepalanya, berputar badan dan melihatnya di meja makan. Kemudian kembali menghadap tirai.


"Bukan, aku ingin mengatakan soal perceraian kita." Kata Rambo tenang. "Kita menikah karena perjodohan dari mereka, jadi saat berpisah pun orang tua kita juga perlu tahu."


Bagai disambar halilintar, Erin sampai mematung beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju jendela tempat Rambo berdiri.


"Maksud kamu apa Mas?"


"Maaf Rin, tapi keputusanku sudah bulat untuk tetap bercerai. Aku merasa rumah tangga kita memang tak bisa lagi dilanjutkan."


Erin menggeram dan menyerang dada Rambo yang bidang. Satu pukulan dan satu tangisan, satu pukulan dan satu tangisan, begitu terus. "Kamu masih berhubungan dengan pembantu itu Mas?"


Mata coklat Rambo bergerak liar menghindari tatapan berlinang dari mata Erin. Kemudian satu pukulan lagi datang, "Kamu masih mengkhianati aku? Dia masih minta kamu ceraikan aku?"


Pukulan yang diterima Rambo itu, lebih bertempo dari biasanya, pelan dan pelan. Cukup satu persatu, tidak membabi buta seperti biasanya. Namun tatapan mata Erin, jauh lebih menyakitkan dibanding pukulannya.


"Kamu permainkan aku Mas---" Satu pukulan dan satu manik bening jatuh lagi. "Kenapa beri aku harapan dengan pulang ke rumah."


"Aku pikir kita bisa sama-sama lagi, kamu kembali memberi pengharapan padaku, di saat aku sudah mencintai kamu. Di saat aku mengharapkan kamu, tapi kenapa----tiba-tiba mengatakan cerai lagi." Erin masih berjuang agar tidak gemetar saat itu. "Aku sudah mencintai kamu... Aku sudah melakukan semua agar kamu kembali. Tapi, kenapa harus ada orang ketiga?"

__ADS_1


__ADS_2