Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 69 - Buah Perjuangan Rambo Untuk Marwah


__ADS_3

"Sah.... "


Rambo menghela napas penuh kelegaan selagi lututnya melemas tanpa rasa. Ia telah mengucapkan kata itu dan para saksi telah mengatakan sah. Dadanya berdecak kala Anta Reza menepuk pundaknya dan memberi senyum.


"Selamat, kini cintamu telah bernaung ke tempat yang kamu kehendaki."


Rambo pun tak melupakan sosok perempuan tak terduga tadi, ia menoleh ke arah belakang pada Ibu Amy yang duduk anggun dalam balutan kebaya biru muda dan kain songket. Anting ruby merah menggantung pada kupingnya yang keriput, tapi ia sangat cantik dan lebih dari mewah.


Kecemasan yang tadi ia rasakan perlahan menyusut dan berganti dengan keharuan tak terbendung. Terima kasih, bu. Terima kasih... Katanya dalam hati.


Dan kini tibalah saatnya, ia berdiri di ujung karpet merah untuk menyambut Marwah, yang telah sah dipersuntingnya barusan. Ledakan rasa kagum membayangi pikiran Rambo, sehingga dadanya berdebar hebat tatkala ia mendengar suara langkah kaki datang dari tangga atas. Perlahan dan sangat lambat, Rambo tak berani membuka mata. Perasaan ini terlalu dominan memenuhi hatinya sekarang, sampai ia pun tak kuasa mengendalikan diri sendiri.


Napas Rambo semakin tak karuan saat, pembawa acara mengatakan, "Pengantin wanita sudah turun, mari pengantin pria sambut untuk mendoakan sekaligus mencium istrinya."


Dengan hati-hati Rambo menaikkan kembali kelopak matanya, dan seketika itu hatinya langsung bergetar hebat sampai kakinya kembali melemas, ketika bayangan Marwah masuk memenuhi mata gelapnya.


Dia, Marwah, nampak sangat indah dan sempurna dalam balutan kebaya putih berekor, riasan diwajahnya sangat cocok dan melekat memancarkan kecantikan Marwah yang menyala-nyala. Begitu indahnya, seperti gambaran seorang bidadari yang belum pernah dibayangkan Rambo sebelumnya.


Dan seumur hidup baru tiga kali Rambo mengalami perasaan luar biasa semacam ini, sampai ia menangis, saat ayahnya meninggal dunia, saat Marwah pertama kali meninggalkannya dan sekarang, saat Marwah datang padanya sebagai seorang istri.


Pecah hati Rambo menjadi ribuan bintang yang bertebaran, terutama saat ia berusaha menahan manik bening itu jatuh dengan jemarinya yang besar, semakin ia menahan, semakin ia bergetar.


Rambo, tak kuasa menahan diri.


"Om,---"

__ADS_1


Ia meringis sesaat setelah suara lembut Marwah masuk ke telinganya, ini berarti istrinya itu sudah berada dekat, tepat dihadapnnya.


"Ayo, usaplah kepala istrimu dan biarkan dia mencium tanganmu untuk pertama kalinya sebagai pemimpinnya sekarang." Bisik Pak Mamat dari belakang Rambo.


Rambo menurut, meski sambil terisak ia menyambut Marwah dengan usapan di kepala selagi Marwah mencium tangannya.


"Terima kasih sudah berjuang sejauh ini, dan mau menerima ku apa adanya." Kata Marwah.


"Aku yang seharusnya mengatakan itu. Terima kasih karena kamu ada di rumah sakit waktu itu, terima kasih karena kamu ada di warung kopi malam itu. Aku mencintaimu Marwah, jangan biarkan aku kehilangan kamu lagi." Balas Rambo sambil merintih.


Demikianlah, ketika acara antara keduanya selesai Rambo tak lupa mengajak Marwah untuk sujud pada perempuan yang telah hadir tanpa terduga, dan secara tak langsung telah memberikan restunya untuk mereka, dia adalah Ibu Amy.


"Bu, Rambo ucapkan terima kasih. Aku sayang Ibu, terima kasih sudah menginjakkan kaki disini, memberi restu untuk kami---" Rambo berbisik setelah berjongkok, bersimpuh di kaki Ibu Amy.


Namun, bahkan sebelum Rambo selesai berkata, Ibu Amy langsung bangkit dari kursi, tetap dengan wajah arogannya.


"Bu----" Sahut Marwah, sehingga Ibu Amy berhenti di tempat. "Marwah senang bisa bertemu Ibu... " Katanya tersenyum meski tak mendapat jawaban apa pun, dan Ibu Amy tetap pergi meninggalkan rumah Rambo.


Hari berlalu, tibalah siang berubah menjadi malam. Marwah akhirnya menempati kamar Rambo berdua dengannya. Kamar yang bahkan Erin sendiri jarang menidurinya bersama Rambo.


"Om, kenapa kamu menangis? Padahal ini adalah hari pertama kita menjadi suami istri, belum genap 24 jam kita melewati hari ini. Om, apa yang kamu pikirkan sampai membuatmu menangis?”


Tanya Marwah kepada suaminya di malam hari pertama pernikahannya.


"Om, tadi pagi menangis. Malam ini juga nangis, kamu masih kepikiran Ibu ya?"

__ADS_1


Sebetulnya tadi Marwah sedang tidur lelap dan tidurnya sangat awal. Wajar saja, karena pesta resepsi pernikahannya menguras banyak tenaga, mental dan pikiran. Malam sebelum hari pernikahannya ia tidak bisa tidur. Rasa gugup terus memeluknya; Berkali-kali dia pergi ke toilet, serasa dia ingin terus buang air kecil. Dan tanpa disadarinya, Rambo pun merasakan demikian.


Acara ini adalah momentum yang sangat mereka tunggu dan sakral untuk mereka berdua. Marwah akhirnya akan membina rumah tangga dengan seorang laki-laki idaman yang dicintainya, begitu pula Rambo akhirnya bisa mempersunting perempuan yang ia mimpikan dalam setiap helaan napas dan do'a-do'anya di akhir malam.


"Benar kata Anta Reza, mungkin Ibu berubah pikiran setelah aku mengatakan akan menguliahkan Marwah, kemarin lusa... " Pikir Rambo.


"Jangan menangis Om," Marwah datang menghampiri Rambo di kursi, tangannya yang kecil mengusap bekas jejak air mata di pipi Rambo.


"Marwah, maafkan aku!"


"Kenapa kamu malah minta maaf, Om?" 


Mengetahui tanggapan suaminya yang baru 10 jam ini, Marwah bingung. Hatinya gelisah. Apa yang menyebabkan suami terus menangis, dan kenapa juga dia minta maaf.


"Maaf karena membuatmu mengalami banyak kesulitan, maaf karena mungkin menambah bebanmu dengan kuliah hanya agar sepadan di mata ibuku. Aku tak tahu kebesaran hati macam apa yang kamu miliki, hanya yang aku tahu kamu telah mengalami banyak kesulitan karena ini." Kata Rambo.


Marwah tersenyum saat Rambo mengatakannya. "Om, aku malah berterima kasih karena kamu menyekolahkan aku. Kuliah itu adalah impianku, hanya dulu aku terpaksa menguburnya karena keterbatasan ekonomi. Jangan mengatakan ini bebanku, aku malah menyambutnya dengan sukacita."


Setelah saling bicara mencurahkan isi hati dan pikiran, Rambo menyuruh istrinya untuk tidur lebih awal. Karena dia tahu Marwah begitu lelah untuk acara pernikahan mereka. Marwah sebenarnya menolak untuk tidur lebih awal. Ia ingin bersama suaminya dulu untuk memastikan bahwa Rambo sungguh telah baik-baik saja. 


Karena Rambo memintanya dengan tulus dan ia pun memang merasakan keletihan yang sangat, ia akhirnya berpamitan kepada Rambo untuk tidur kembali lebih dulu. Padahal, jam di tangannya baru menunjukan angka 20.45. 


Rambo baru bisa menyusul Marwah naik ke ranjaang, setelah perasaannya lebih tenang, sekitar pukul setengah dua belas. Setelah ganti pakaian tidur kemudian ia melihat istrinya yang sedang tidur lelap.


Diam mematung sesaat, dia memperhatikan Marwah lama sekali. Ada satu bongkah rasa yang timbul di kedalaman hatinya. Dia sendiri tak mengetahui rasa apa itu. Akhirnya, ia tersadar ketika ada rasa dingin yang menetes di bawah matanya; Satu butir air mata. Kemudian ia menyelimuti Marwah, dan mencium keningnya. 

__ADS_1


"Yang aku khawatirkan itu apa? Aku bersyukur sekarang telah memilikimu, tapi begitu bersyukurnya sampai aku takut kehilangan kamu. Bahkan jika kita akan berpisah karena kematian, aku hanya memohon pada Tuhan. Ambillah aku lebih dulu, karena kamu masih sanggup hidup tanpa aku, Marwah. Sedangkan aku, kalau kamu dipanggil lebih dulu, aku mati detik itu juga..."


Ia pun membaringkan badannya di samping istrinya.


__ADS_2