Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 17 - Nyonya Besar Pengendali Selingkuhan


__ADS_3

Mata Marwah pedih dan setiap tulang tubuhnya terasa pegal. Ia bukan orang yang pandai menahan air mata, meski hanya berdiam diri dan bersimpuh.


Awal hari yang buruk di pagi ini. Awan tebal bergerak melintasi langit yang sangat biru. Marwah memandangi wajah Erin dengan perasaan masygul. Ia berharap bahwa sedang berada di alam tidur. Ia berharap kalau ini hanyalah mimpi. Sungguh sial. Ia hanya berharap bisa menghilangkan kata-kata Erin dan kembali pada hari yang baik di belakang daun. Usahanya untuk sementara bertahan dengan tindakan gila, rupanya sudah dari awal terbongkar.


Tapi ini adalah kenyataan, wajah Erin tidak hilang dari mata Marwah. Malah makin jelas, dan semakin lama. Tidak sampai ia menjawab atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Erin. Tidak sampai dia yakin untuk mengambil keputusan. Tapi sekali lagi, jika Rambo mampu melakukan apa pun hanya untuk cintanya, Mengapa aku tak bisa? Pikir Marwah.


"Kamu akan menolongku kan Marwah?" Ujar Erin sekali lagi, setelah tak kunjung mendapat jawaban dari Marwah. Ia mengelus pipi Marwah yang pucat, mengibaskan rambut sebahunya yang coklat gelap, lalu menghela napas. "Bantu aku agar suamiku mengurungkan niatnya untuk bercerai. Dengan begitu, ku jaga rahasia ini baik-baik, kamu tentu tak ingin kan karir Rambo yang sudah dibangun mati-matian dari bawah hingga ke posisi sekarang, hancur sehancur-hancurnya?"


"Tidak, bu. Jangan!" Seru Marwah, raut wajahnya sudah cukup menggambarkan perasaannya saat ini. "Bapak tidak salah----"


"Kalau begitu jawablah, berhentilah mengulur waktu." Balas Erin dengan nada yang amat tegas untuk perempuan kejam.


Marwah mengangguk. "Ya, bu. Akan saya coba."


Erin langsung mengubah pandangan, melirik jauh ke depan. Memandang pada bunga-bunga kaktus dan cahaya matahari yang terhalang pepohonan. Dia tersenyum, seakan keinginannya memiliki harapan untuk kembali terwujud. Mendengar persetujuan Marwah, semestinya ia cukup aman sekarang. Bahkan jika Rambo bersikeras sekalipun, tak mungkin ia sanggup menentang kehendak Marwah. Kenyataan ini sedikit menguntungkan, tapi juga sangat menyakitkan sebenarnya untuk Erin.


"Lakukan dengan baik, Marwah. Bicara dan temui suamiku. Ceritakan padanya apa yang seharusnya terjadi. Yakin kan dia untuk tidak menceraikan aku." Katanya sengak.


"Ingat! jagalah rahasia ini baik-baik, jangan sampai Rambo tahu tentang perjanjian kita. Bertingkahlah seakan aku tak tahu apa pun tentang hubungan kalian. Kamu tak perlu khawatir, aku tidak akan usir kamu. Kamu jaga rahasia ku, ku jaga rahasia kalian. Bukankah itu cukup?"


Erin bangkit dari tempat duduk dan berjalan pelan ke arah kulkas, melempar puding buah sisa semalam ke lantai, sekali lagi. Seperti dehavu. Dan kembali ke kamar.


"Makanan seperti itu jangan pernah ada lagi di rumah ini. Selingkuhan rendahan seperti kamu tidak pantas merebut tahta ku... " Bisiknya sambil berlalu.


Marwah membisu, menyeka air mata bersama dengan gumpalan jelly yang sudah hancur di ubin, "Padahal, Om sangat menyukai ini... Maaf Om, maafkan aku karena hadir lagi dalam hidupmu." Ucap Marwah pelan, susah payah menahan manik bening itu membasahi pipinya yang lembut.


Ia sadar telah menyusuri jalan yang berliku, kini ia harus memperlambat lajunya, sadar bahwa yang dihadapinya sekarang bukan sekedar korban perselingkuhannya dengan Rambo. Erin, adalah wanita super cerdas, egois dan licik.

__ADS_1


Dengan tatapan terpaku, setelah kejadian pagi ini. Marwah masih berusaha menjalankan tugas rumah tangga, sementara Erin memilih pergi keluar, jalan-jalan sedikit untuk menghilangkan setres, salah satunya pergi ke klinik kecantikan; Sebab ia harus merawat kantung mata itu secepatnya, besok pagi adalah jadwal siaran. Masih tetap itu....


Dari kejauhan, Marwah mendengar mesin mobil tiba dan berhenti saat pengemudinya menancap rem kuat-kuat. Dengan jantung berdebar keras, Marwah terkesiap, menoleh ke arah suara tersebut dan membeku. Mobil hitam besar sudah terparkir di teras, dan sosok pria besar gagah berambut panjang itu keluar dari sana. Siapa lagi yang datang, kalau bukan Rambo.


Marwah berusaha tenang, mengingat betul setiap kehendak Erin. Ia benar-benar berusaha agar Rambo tak menyadari apa pun. Tapi ia seakan-akan terhipnotis, tidak hanya karena merasa gugup. Ia merasa tak sanggup untuk membuat Rambo terjebak, membohongi apalagi menghancurkan hidupnya. Marwah tahu betul, bagaimana Rambo begitu mencintai institusinya. Jiwa kesatria sebagai aparat keamanan negara, tumbuh besar dalam hati Rambo.


Dan yang terpikir saat ini bagi Marwah adalah bagaimana ia bisa melindungi hidup dan harga diri Rambo. Persetan dengan angan dan rasa cintanya, mampu melihat Rambo saja sudah cukup. Walau entah niatan apa lagi yang disimpan Erin sekarang, sehingga membiarkan Marwah tetap tinggal di sana.


"Awas!" Suara Rambo mendekat. Bersamaan dengan tubuhnya yang merengkuh Marwah.


Marwah sendiri hampir tak menyadari lonceng pintu terjatuh karena tersenggol sapu, hampir mengenai kepalanya sebelum Rambo akhirnya merengkuh dan melindunginya. Memang, tubuh Rambo lebih dari cukup untuk menenggelamkan tubuh Marwah.


Rengkuhan itu membuat tubuh Rambo dan Marwah berinteraksi cukup intim, di mana Marwah mampu merasai debaran jantung Rambo yang memeluknya dari belakang. Rambo merangkul tubuh Marwah dan melindunginya agar aman.


Lonceng itu jatuh menimpa punggung Rambo, sebelum akhirnya jatuh ke ubin, suaranya terdengar nyaring.


"Om?" Kepala Marwah menoleh untuk memandang penyelamatnya.


"Kamu baik-baik saja?" Rambo tersenyum lembut.


Segera Marwah memutar tubuhnya dan menangkap bayangan Rambo yang tinggi dan rambut kecoklatan gondrong.


"Apa yang kamu lakukan Om?"


"Apalagi kalau bukan melindungi kamu." Jawab Rambo sambil tersenyum simpul. "Apa yang terjadi, kamu sampai melamun begitu?"


"Aw!"

__ADS_1


Belum sempat Marwah menjawab, Rambo sudah merintih. Agaknya lonceng tadi mampu menembus pertahanan otot punggung Rambo, sampai mampu membuatnya merintih kesakitan. Suara beratnya sampai terdengar.


"Om, ayo masuk biar ku bantu obati."


"Erin di mana?" tanya Rambo, seraya berjalan pelan ke dalam rumah.


"Ibu sudah pergi keluar dari tadi."


Rambo menengadah.


Melihat jauh ke atas.


Penglihatannya menelusuri langit-langit dapur dari kursi makan. Rahang kerasnya persegi serta hidung mancungnya, memberikan penggambaran yang tegas pada visualisasi Rambo yang menggetarkan.


"Om."


Rambo mengernyit, memusatkan pandangan pada sosok Marwah yang berdiri di depannya, kemudian menatap ke kantung kompres yang dipegang olehnya. "Tunggu apa lagi? Bantu aku, aku tidak bisa melakukannya sendiri, bagaimana aku bisa kompres punggungku?"


Marwah meneguk ludahnya kasar. Dipanggang rasa dilema yang sangat besar, pantaskah ia menyentuh Rambo bahkan saat istri sahnya telah mengetahui hubungan di antara mereka? Masih pantaskah ia melihat tubuh dan dada bidang Rambo dengan kondisi mereka saat ini? Sungguh tidak, Marwah merasa hina dan tak pantas untuk itu!


"Apa yang kamu pikirkan? Aku kesakitan---"


Rupanya Marwah terlalu banyak melamun, sampai tak menyadari apa pun, sebelum Rambo menarik tangannya.


Akhirnya, dengan hati-hati dan jantung berdebar Marwah sentuh kulit eksotis dan berotot itu dari belakang, garis bahu lelaki itu dua kali lebih panjang dari miliknya sendiri. Tiap sentuhan itu laksana genderang maut yang siap menuntun mereka dalam irama kebersamaan yang harmonis.


Sayang, mereka tak bisa menikmati momen itu dalam ikatan yang direstui. Suatu saat Marwah akan merindui masa ini, nanti.

__ADS_1


__ADS_2