Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 59 - Mari Kita Menikah Marwah


__ADS_3

Marwah menoleh untuk melihat pintu-pintu jendela yang terbuka, tertiup angin malam yang kencang, dan menerbangkan tirai tipis dalam tarian sepi yang mengerikan. "Apakah semua akan baik-baik saja jika aku tinggal di rumah ini Om? dan Apakah tak masalah jika kita berduaan di kamar---"


"Maaf," jawab Rambo, sambil mengertakkan gigi. Ia merasa sangat kesal ketika menyadari bahwa ia masih sangat berjarak dengan Marwah. "Suatu saat nanti akan baik-baik saja."


"Kenapa begitu?"


Rambo tersenyum. "Setelah kamu resmi bercerai dari Norman, apakah kamu bersedia jadi milikku seutuhnya Marwah?"


"Milikmu?"


"Bayangkan itu seperti aku adalah lelaki yang akan terus memelukmu saat rapuh, melindungi mu saat bahaya, dan kamu adalah wanita tempatku berlabuh, kamu tak punya tempat pulang lain selain padaku. Setelah saat itu tiba nanti, tak satupun orang bisa mendekati atau menyentuhmu tanpa persetujuanku."


Marwah mengedip. "Apakah bisa begitu? Maksudku bagaimana caranya bercerai kalau semua berkasnya sudah tidak ada?"


"Tidak, Marwah," ujar Rambo tersenyum tipis. "Berkas itu masih ada, aku yakin. Dia hanya berbohong, dan kamu sudah banyak dibohongi olehnya, aku pasti akan mendapatkannya."


"Kamu mau interogasi dia, Om? Tolong paksa dia bicara soal 'orang jahat' itu, aku harus segera tahu Om. Aku ingin tahu, dan hanya pak Norman yang bisa memberikan kita pengetahuan itu."


Rambo mengangkat bahu tak acuh, berusaha mengingkari ketegangan dalam hatinya. "Aku pasti lakukan, kamu jangan risau. Kalau semua sudah selesai, mari kita menikah! Aku janji, demi kebahagiaan kamu, apa pun akan ku lakukan----"


"Aku mau! Tapi kenapa kamu selalu memasang wajah sedih begitu Om?"


Rambo diam sejenak sambil mengelus pipi Marwah yang kemerahan, sesekali pula menjelajahi jejak biru bekal pukulan Norman padanya. "Aku adalah laki-laki yang selalu berkata akan melindungi kamu, aku selalu bertingkah seakan memang mampu memenuhinya. Tapi aku malah kecolongan, dan membuatmu terluka. Makanya aku begitu murka saat ini. Aku merasa seharusnya aku menyadari lebih awal, bergerak lebih cepat dan menemukan kamu lebih dulu."

__ADS_1


"Ini bukan salahmu," sahut Marwah lembut.


"Entahlah," jawab Rambo ambigu. "Tapi aku merasa bahwa ini adalah kesalahanku."


Marwah menggeleng tapi Rambo mengabaikannya dan terus bicara. "Kamu sudah ada di sini sekarang. Di rumahku. Di bawah perlindunganku. 'Orang itu' tak akan pernah lagi menyakitimu, dan itu tak akan pernah lagi terjadi. Karena itu beri aku kesempatan, walau aku pernah kecolongan, aku ingin kamu tahu.... dan yakin bahwa kamu aman bersamaku."


"Aku yakin." Marwah menarik napas panjang, menghembuskannya dan berkata, "Akulah yang sudah memilihmu dari awal Om, aku yakin kamu bisa memberikanku kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan selama ini. Aku percaya kamu adalah obat dari segala sakit dan penderitaan yang ku alami."


Dengan seketika, Rambo menjadi kaku. Bagaimana jika kamu tahu kalau yang menyebabkan penderitaanmu itu adalah keluargaku sendiri. Apakah kamu akan tetap berkata demikian? Gumam Rambo. Kurasa tidak.


Tapi tidak, ia tak akan membatalkan niatnya menikah dengan Marwah hanya karena kesalahan keluarga. Ia sudah menunggu kebahagiaan mereka selama 5 tahun, dan saat ini Marwah sudah ada di hadapannya, di rumahnya, di pelukannya. Mengapa... ia harus dipaksa mundur dan memutuskan asanya pada Marwah sebatas ini saja? Rambo tak rela.


Paling tidak, berikan aku kesempatan untuk meyakinkan kamu Marwah. Bahwa cintaku tak pernah main-main untukmu, walau dunia menentang ku sekalipun, akan ku hadapi. Semoga kelak kamu akan mengerti, rahasia ini akan ku simpan sampai paling tidak aku menikahi kamu dan kamu yakin dengan perjuangan cintaku. Pikirnya.


Rambo berangkat dari kamar, meninggalkan Marwah yang sudah nyenyak kembali di ranjang. Dia membiarkan dirinya terjaga, menikmati langit malam dari luar. Menantikan fajar datang dan segera mempercepat proses cerai.... ternyata itu lah prioritas saat ini.


"Bagaimana keadaanmu Norman?" katanya berusaha hangat dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.


"Ku rasa tugasku di sini telah selesai kan?" Norman menaikkan kepalanya dan memandang tepat pada Rambo yang baru datang. "Kalau begitu bawalah aku ke penjara sekarang, aku tak tahan di sini. Anak buahmu pelit sekali berikan aku kesempatan buang air."


"Anak buahku memang kasar. Mereka memang setegas aku, karena itu aku sarankan kamu jangan bohongi mereka. Kami ini bukan orang sembarangan."


"Cih!" Norman mendengus sambil membuang muka. "Apa lagi yang kamu mau?"

__ADS_1


"Aku mau kamu jujur. Katakan di mana surat nikahnya?" Ekspresi Rambo langsung berubah seketika itu. Dia memandang Norman tajam dan datar, seakan sudah siap menerkam.


"Soal orang itu kemarin, bagaimana? Sudah ketemu?" Norman melakukan perubahan ekspresi yang sama.


Nampaknya dua orang pria yang terikat pada Marwah itu telah sama-sama serius untuk menghadapi ini.


"Itu sudah bukan lagi urusan kamu!" Jawab Rambo.


"Tentu saja urusanku! Marwah itu masih sah menjadi istriku, jadi apa pun yang menyangkut tentang dia, aku juga berhak tahu."


Rambo tersenyum sinis, "Oh, ya? sejak kapan kamu peduli? Masih memiliki muka untuk menanyakannya setelah menyakiti Marwah, nyalimu besar sekali."


"Kamu bisa memberikan dia kebahagiaan, kamu bisa melindungi dia, kamu bisa menjaga dia, kamu adalah kebahagiaan dia?" Norman bicara dengan gairah yang tak bisa ditebak apa maksudnya. Tapi Rambo meyakini ada sesuatu yang aneh pada sorot mata Norman ketika mengatakan itu. Ia tulus.... "Kalau kamu bisa menjanjikan itu... aku siap membantumu, ku ceraikan dia dengan talak 3 langsung. Aku tak akan menghalangi kalian, asalkan kamu bisa menjamin itu sebelum aku mengatakannya."


Rambo menghilangkan tatapan tajam itu, badannya langsung berdiri tegak tapi masih memandang Norman dengan wajah dingin. "Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah?" Kata Rambo.


"Aku hanya ingin dia bahagia setelah penderitaan panjang yang ku buat."


Seketika Rambo tertegun begitu Norman mengatakan itu, Rambo tahu yang mana orang berbohong dan jujur. Dan saat ini, Norman tak menunjukkan gelagat bohong yang munafik itu. Norman berkata apa adanya, tulus dari dasar hatinya.


Ini menyenangkan untuk Rambo, tapi ada yang mengganjal di balik tulang rusuknya. Ia merasa cemburu berat, entah karena telah menyadari rasa cinta Norman pada Marwah, atau entahlah.... Ia tahu saat ini, Norman---laki-laki psikopat itu, telah jatuh cinta pada Marwah.


"Aku jamin semua itu, aku tak akan biarkan dia menderita lagi." Kata Rambo, tegas dan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tahu kamu adalah harapannya." Jawab Norman. "Berkas itu tidak hilang, tidak juga ku bakar. Semua dokumen tentang pernikahanku dan Marwah, ada pada orang yang menyuruhku. Laki-laki itu memintanya dan mengambilnya dari ku saat awal aku dan Marwah menikah dulu."


Sial! Rambo mengumpat.


__ADS_2