
"Ay Norman yang bodoh, seharusnya aku tidak boleh beritahu ini ke kamu. Cuma kamu sudah keterlaluan, jadinya aku kepancing emosi." Kata Norman, dia kembali memusatkan pandangan pada Marwah di lantai. "Sudah, oke. Aku cuma jalankan perintah. Lagi pula kalau kamu nurut, aku tidak akan kejam-kejam kok. Ayo bangun, aku mau makan. Buatkan aku makanan!"
Marwah tak menjawab apa pun, di pikirannya hanya satu, menggapai ponsel kecil di dekat ember itu. Meski badannya sudah terlalu lemah, bahkan untuk sekedar bangkit mendekat sampai jarak kira-kira 7 kilan itu. Marwah, yang sudah mendapatkan kekerasan fisik, hanya mampu mengandalkan kekuatan pada jemari kanannya saja.
"Di mana kamu kerja? Aku tidak mengizinkan kamu pergi, kamu cuma boleh kerja di perkampungan ini saja." Kata Norman lagi, namun masih tak ada jawaban.
Dia mengernyit begitu menyadari sesuatu, saat ia menyadari gerakan aneh dan tatapan Marwah yang membulat pada suatu tempat.
"Kamu dengar tidak sih?"
Tatapan Norman langsung berubah, meniru arah pandangan Marwah. Kini ia menyadari bahwa Marwah tengah berusaha untuk mencapai sesuatu, dan saat mengetahui itu. Norman kembali Murka.
Dia bergerak maju dan memungut ponsel itu lebih dulu.
"Ja-ngan!" Kata Marwah terbata dan pelan.
"Kamu mau telpon siapa? Kamu mau ngadu ke orang?" Norman kembali menaikkan nada bicaranya, matanya melotot sebagai tanda kekesalannya pada sang istri. "Oh, atau mungkin kamu minggat dari rumah bukan kerja, tapi sudah pacaran sana sini. Terus sekarang apa? Mau telepon orang lain, biar bantu kamu? Jangan berharap, tidak akan pernah ku biarkan.
Norman mengangkat telpon itu tinggi-tinggi lalu membantingnya ke lantai sekeras mungkin. Tepat di hadapan Marwah ponsel itu hancur, terpisah-pisah, bersamaan dengan itu hilanglah pula harapannya pada pertolongan Rambo.
__ADS_1
"Selesai," Kata Norman penuh kelegaan. "Dan setelah ini, jangan lagi mencoba main-main, atau melawan kehendak ku. Sebelum aku kehabisan sabar, sudah bangkitlah. Ganti pakaian dan buatkan aku makan."
Marwah meringis, sementara air mata kembali hadir dan mengalir di pipinya yang merah banyak bekas tampar. Bayangan telepon yang terbanting dan hancur bagaikan tubuh-tubuh yang menggeliat kesakitan. Terasa seakan-akan, ia dan Norman hanya berdua saja di dunia ini. Norman yang akan terus menyakiti dan dia yang akan terus tersiksa.
"Kamu benar-benar buat aku kesal. Cepat keluar! aku mau mandi. Kamu jangan lupa buatkan makanan untukku, sudah aku mandi sudah harus ada juga makan."
Marwah dipaksa bangkit, badannya terhuyung-huyung mengikuti arah dinding. Rambutnya yang tadi rapi, jadi berantakan tidak karuan. Tatapannya mengabur, namun ia mencoba untuk terus berjalan.
Sekitar setengah jam setelah itu, setelah semua yang diinginkan oleh Norman itu dituruti. Hanya itu yang bisa dilakukan Marwah, sebab jika melawan lagi, sama saja menghabiskan nyawa sebelum perang.
Sementara Norman makan, Marwah duduk meringkuk di kasur kamar dan melingkarkan tangan di kakinya. "Jahat! siapa yang tega melakukan ini semua padaku?! punya dendam apa? Aku salah apa? Aku sudah tersiksa sejak kematian kedua orang tua, hidup setengah mati dari mengamen di jalan. Kenapa masih ada yang ingin jahat padaku?"
"Woi!! Besok aku tidak mau cuma makan sayur telur dadar. Cuih!! Telur kecap terus, Lama-lama aku bisul. Istri b0doh, tidak tahu masak kamu kah? Sekarang masih ku maafkan karena aku lapar, tapi kalau besok masih masak makanan sampah begini, lihat saja ku hantam lagi kamu."
Marwah berharap saat itu dibuat tuli sejenak oleh Tuhan, mau menangis pun sudah terlalu sakit untuk matanya. Haruskah ia kembali mengutuk takdir, andai ada Rambo... Itu yang dia harapkan. Andai ponsel itu tak keluar dari saku roknya...
Dia menengadah, menatap langit-langit kamar dari anyaman bambu itu. Penuh sarang Laba-laba setelah beberapa bulan ia tinggalkan.
"Om, bagaimana caranya agar kamu tahu? Om aku takut hidup dengan lelaki monster ini. Aku sakit... Om, kamu tahu ada orang lain yang mendalangi semua ini... dia jahat sekali kan Om?! Padahal aku sudah menderita selama ini, tapi dia tak puas." Kata Marwah pelan, suaranya jauh lebih kecil dibanding hembusan napasnya sendiri. "Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan Om?"
__ADS_1
Jangan panik Marwah, teruslah lihat ke depan. Pegangan hidupmu akan runtuh kalau kamu lemah. Ingat! aku menyukai dan menaruh simpati padamu, bukan karena kamu gadis lemah yang tak memiliki daya upaya apa pun. Tapi, karena kamu adalah perempuan super kuat yang tak pernah gagal mengarungi hidup. Kamu adalah perempuan cerdas yang mampu melawan arus zaman. Kamu besar di jalanan, tentu mentalmu jauh lebih kuat di banding wanita rumahan manja. Jangan pernah lupakan itu.
Dan pada saat melamunkan itu juga tiba-tiba ingatan tentang Rambo memenuhi memori Marwah, Kata-kata yang selalu dikatakan Rambo memenuhi bagian terdalam memorial otaknya. Suara lelaki gondrong itu menggema, seperti berkitaran menyatu dengan udara di sekitarnya.
Ingatan tentang Rambo itu seakan memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. Hingga dalam detik ini, Marwah menyadari satu hal. Entah karena cinta mereka terlalu kuat, atau karena Marwah yang selalu memikirkan Rambo; Kehadiran Rambo memang memberikannya kekuatan dahsyat, bahkan saat mereka telah terpisahkan jarak. Rambo masih mampu memberikan dukungan moril dan itu sangat membantu saat ini.
"Om, aku pasti akan berusaha, akan ku cari cara agar bisa menghubungi kamu, dan memberi tahu semua ini. Bahkan jika aku telah kesakitan begini. Akan ku cari tahu siapa orang itu, dan akan secepatnya lepas dari belenggu suami tempramental ini. Tolong bantu aku Om... "
Dan di tengah ketenangannya itu... Marwah kembali mendengar sayup-sayup suara Norman marah-marah di dapur. Tapi ini lain, Norman terdengar marah dan berteriak bukan padanya. Melainkan di telepon...
"Iya! aku sudah balik, dia juga sudah balik. Kamu tenang saja, bakal ku kurung di sini lama-lama. Sudah kamu santai, asal duit lancar. Pasti tuh anak tidak akan kemana-mana!----" Kata Norman dari dapur sana,
"Iya, maaf. Aku terpaksa pergi waktu itu, kamu tahu sendiri, lapak judi ku disergap polisi beberapa bulan lalu. Ya aku harus kabur lah, kamu jangan lupa, selain bayaran kamu, aku juga bandar judi besar. Polisi ngincar aku! Sampai sekarang juga. Makanya aku harus aman, kamu mikir saja kalau aku ditangkap malam itu, selesai. Tuh perempuan yang jadi istri aku juga bakal hidup bebas--- memang kamu mau?"
...****************...
Permisi... Seperti biasa author minta likenya yak ಥ_ಥ ini maksa banget beneran...
NB : JANGAN LUPA KOMEN... BERIKAN PRADUGA KALIAN SEMUA ZEYENG... SIAPAKAH DALANG DARI SEMUA INI? 🤔
__ADS_1