
"Dia cuma orang biasa, tapi memang kebanyakan orang di sekitar tempat tinggal kami sangat menghormatinya. Dia tertutup, aku sendiri banyak tak tahu tentangnya, satu tahun menikah kebanyakan pergi sampai berbulan-bulan. Kalau pulang, pasti kumpul-kumpul dengan teman-temannya."
"Tidak kenal baik, tapi kenapa mau menikahinya?" Tanya Rambo, masih memandang Marwah seakan-akan wanita itu jatuh dari surga dan mungkin seperti itulah yang tampak di mata Rambo.
"Kehidupan di jalan itu keras, om. Aku bahkan hampir mati, suatu waktu. Kalau bukan karena bantuannya, aku mungkin tidak akan berdiri di sini, di hadapan kamu, masak untuk kamu." Kata Erin lalu mulai membenarkan rambut-rambut kecil yang keluar dari simpul rambutnya di belakang.
Gerakan semacam itu, saat Rambo mendapati garis leher jenjang dan kulit halus di hiasi rambut-rambut yang juga sama halusnya, membuat jantung Rambo kembali berdebar hebat. Hasrat besar dalam hatinya membuncah setelah sekian lama tak tertarik pada perhatian wanita. Rambo kembali menelan ludah.
"Pertolongan semacam apa yang bisa membuat kamu mau menikah dengannya? Kamu mencintai dia? Katakan padaku biar aku bisa lakukan yang sama?!" Tuntut Rambo tiba-tiba, kekuatan suaranya mengalahkan amukan badai. Sepertinya ia pria yang sudah tak sanggup lagi berpura-pura dan berdiri terus untuk menuruti kehendak wanita.
Tidak untuk kali ini.
Rambo sulit menahan diri.
Marwah tidak bisa menjawab apa pun, mulutnya terkunci begitu Rambo mengunci tubuhnya kali ini. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rambo. Dan untuk sesaat, Marwah kembali terguncang. Perasaan yang sama telah kembali setelah susah payah ditahan, Marwah tak bisa menolak sentuhan, tatapan, dan wajah Rambo dalam jiwa dan raganya.
Pertemuan mereka begitu nyata. Hidup. Lebih hidup dari hubungan mereka sebelumnya, kini Marwah tak mati penasaran, karena lelaki pertama dan mungkin terakhir yang menempati hatinya itu telah mengungkapkan rasa cinta padanya. Namun, sayangnya di masa ini, mereka telah menjadi tulang untuk orang lain. Rambo tulang punggung Erin, dan Marwah tulang rusuk suaminya... Suami dalam status.... atau sekedar tulang rusuk untuk dihantam.
"Kamu benar-benar mencintai dia? meski telah dipukul, disakiti, dan ditinggal?" Mata cokelat Rambo menyipit saat memandang Marwah. "Jangan diam, coba katakan padaku kalau kamu mencintainya!"
Dan kesadaran tentang status mereka itu memenuhi diri Marwah dengan perasaan kosong yang mengancam akan menelan mereka suatu waktu nanti, sepasti jika dia membalas perasaan Rambo. Tapi kini hasrat cinta dalam dirinya telah berusaha menelan kapal masa lalu tersebut, ia tetap ingin berkibar untuk mencintai Rambo, meski rasa itu terlarang.
__ADS_1
"Aku tak bisa menuruti keinginanmu Marwah, aku tak bisa berpura-pura dan berhenti mencintai kamu. Aku tak bisa hanya melihat dan menganggap kamu sebagai pembantu, aku ingin memiliki kamu dan aku ingin hatimu!" Rambo makin kacau... setelah berusaha mengutarakan isi hati dan pikirannya dengan jelas dan terang.
"Om, tidak bisa begini. Tolong lepas dulu... "
"Kamu mencintaiku?" Kini pertanyaan Rambo berganti.
Hati Marwah melayang dihempas dan digulung ombak, menyipratkan air sedingin es, sedingin tatapan Rambo kali ini.
"Om tolong. Hentikan... " Jawabnya sambil berpaling.
"Ini karena kamu tak percaya bahwa aku mencintai kamu karena aku telah menikah dan kamu pun begitu, tapi aku tetap cinta dan mencintai kamu, Marwah." Rambo berhenti sesaat.
Adegan macam apa yang dihadapi Marwah saat ini, terlalu sentimentil dan dramatis untuknya yang sudah banyak masalah hidup. Rasa cinta adalah anugerah dari Tuhan, tapi kali ini apakah Tuhan telah salah menganugerahkan karunia itu? Marwah terlalu mencintai Rambo, bahkan setelah sekian lama. Begitu cinta, sampai selalu mengalah agar Rambo bahagia, tapi bila melihat sekarang, benarkah hanya ia kebahagiaan Rambo?
Marwah tenggelam dalam lautan tak berdasar, rasa cinta membuatnya kiamat sebelum menjemput ajal.
"Kamu harus memberitahu ku kalau kamu tidak mencintaiku, katakan padaku bahwa aku memang harus menerima takdir ini, sehingga aku sungguh tak memiliki harapan apa pun untuk memiliki kamu." Ucap Rambo.
Dengan napas terengah-engah, Marwah mulai frustasi. "Aku seperti orang gila sekarang! kamu bisa sebut aku sebagai orang yang punya penyakit mental. Aku sekarang dalam bahaya, pikiranku kacau, di surup dunia yang berbeda, semua bertabrakan dan aku tak tahu harus berdiri di mana."
"Kamu mencintaiku?" Tanya Rambo kembali, masih dengan ekspresi yang sama.
__ADS_1
"Aku tak tahu harus berdiri di mana! Aku sungguh gila---" Jawab Marwah.
"Marwah! aku akan menemani dan melindungi kamu di manapun, akan ku beritahu kamu harus berdiri di mana, katakan padaku; kamu mencintaiku?"
"Aku mencintai kamu, Om!" Jawab Marwah. "Aku mencintai kamu dari awal bertemu, dari awal kamu membantuku. Begitu cintanya, kamu sudah seperti udara yang ku hirup, saat memutuskan pergi dari hidupmu dan kita terpisah, aku sudah mati suri bertahun-tahun, sementara hatiku terus panggil namamu. Dan saat ku lihat kembali sorot mata cokelat ini, aku terharu seakan jiwaku kembali hidup... aku mencintai kamu, Om!"
Aneh dan mengejutkan. Sama mengejutkannya begitu ia teringat kembali pada kesadaran tentang pasangan mereka masing-masing. Air mata kembali hadir, menemani ketegangan di antara mereka saat ini.
"Tapi apa arti semua ini sekarang, kita sudah kehabisan momentum. Aku sudah menjalani pernikahan, begitu juga kamu Om." Marwah dapat merasakan kegembiraan sekaligus rasa bersalah saat menghadapi situasi sekarang.
Namun kepercayaan diri yang luar biasa dari mulut Rambo hadir, memberikan secercah cahaya untuk perasaan melankolis dihatinya.
"Aku dan Erin tidak saling cinta. Kami menikah terpaksa, aku terpaksa mengikuti keinginan terakhir almarhum bapak yang ingin lihat aku menikah sebelum beliau meninggal, ibu juga begitu karena dulu ibu sudah sakit-sakitan. Sementara Erin, dia memang anak yang manja dan penurut, dia akan menuruti apa pun yang diperintahkan orang tuanya. Persis seperti peliharaan yang jinak, bakal nurut apa yang diperintah majikannya. Aku sungguh tak tahan dengan pernikahan ini, aku setres, frustasi, gila. Aku seperti pengasuh untuk bayi sebesar Erin. Sementara aku terjebak, aku tak bisa sembarang bercerai tanpa ada alasan yang benar-benar salah dari salah satu pihak. Kamu tahu sendiri aku bukan warga sipil. Perceraian bagi anggota itu bakal dipersulit." Jelas Rambo agak panjang.
"Karena itu, aku berusaha agar Erin benci padaku, menunggu dia jenuh dan cari lelaki lain untuk pelarian, sampai dia yang menceraikan aku."
Mata cokelat Rambo kini berubah, nampak lebih tenang dan temaram. Mereka pun kembali bernapas dengan baik, berdiri lebih tenang di bawah pijar lampu dapur yang mulai kalah dari sinar matahari.
"Sedangkan kamu, coba katakan lebih jelas mengapa bisa menikah. Aku tahu kamu telah berbohong soal suami mu. Kamu takut aku bakal kejar dia kalau tahu yang sebenarnya kan? jangan coba bohong padaku Marwah, aku sudah banyak menghadapi penjahat dan saksi untuk di interogasi, aku tahu mana yang berkata jujur dan bohong. Dan tadi kamu sudah bohong padaku... "
Oh, demi Tuhan... Rambo bukanlah lelaki biasa yang mudah dikibuli dengan seribu kata manis, terlalu berpengalaman untuk ditipu...
__ADS_1