Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 47 - Lelaki Yang Kelam


__ADS_3

Marwah gemetar menunggu di kursi kayu ruang depan, dagunya ditopang di lutut sambil menunggu Norman datang. Ketika Norman akhirnya muncul dari ruang tengah, Marwah sama sekali tak merasa tenang, terutama ketika melihat Norman datang dengan baskom kecil entah berisi apa, tapi yang ditakutkan Marwah adalah jika benda itu dipakai untuk memukulnya lagi.


"Duduk yang benar," kata Norman sambil berdiri di hadapan Marwah.


Ketika Norman menatapnya, Marwah merasakan kekuatan tatapan tersebut menghujam tulang. Untuk beberapa detik, Marwah berharap ia dapat berteriak memohon pertolongan orang lain saat itu juga. Ia ingin mencobanya sebelum Norman kembali menghantam, tapi mulutnya sungguh terasa kelu, tak bisa bicara jelas, mungkin karena ia terlalu takut.


"Apa yang terjadi dengan telingamu?" Norman berkata tegas. "Apa kamu tidak bisa mendengar? Aku katakan duduk yang benar! kakimu itu turunkan, jangan duduk bertopang lutut begitu."


Tapi jawaban atas kehendak Norman tersebut tidak semudah itu akan dituruti Marwah. Marwah hanya membalas dengan tatapan tajam dan berkaca-kaca. Dalam pikirannya, Marwah berjanji untuk tak selalu menuruti kehendak suaminya itu, terutama bila ia merasa terancam.


Norman menghela napas, menahan kesal yang meluap-luap. Lalu dia menunduk dan duduk berlutut di hadapan Marwah.


Mata Marwah yang tadi tajam langsung terpejam begitu tangan Norman datang mendekat ke arahnya.


"Ma-af!!! Tolong jangan pukul aku lagi!"


Marwah memekik, sementara ia ketakutan itu, kulit wajahnya malah terasa dingin. Ia yakin kalau benda yang menyentuh permukaan kulitnya itu, bukanlah tangan Norman yang kasar, melainkan handuk berair dan basah.


Ia kemudian membuka matanya kembali, lalu si cokelat berlinang itu membulat pada sosok Norman yang menatapnya heran. Marwah baru menyadari bahwa Norman memang menyentuh wajahnya, tapi bukan untuk memukul melainkan mengompres bekas luka dan memar di wajahnya.

__ADS_1


"A-apa yang kamu lakukan?" Marwah berkata pelan.


Norman mengerutkan dahi, "Bod0h! memangnya kamu tidak lihat aku sedang apa? Aku mencoba mengobati luka di badan kamu."


"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri." Kata Marwah segera menutupi pipinya sehingga tangan Norman dan handuknya tersingkir.


"Sudah, kamu mau membantah ku lagi?! Kamu tidak jera juga melawan dengan suami?!" Norman berbicara dengan lantang, tapi tidak sampai membentak seperti biasanya. "Kemari, buka pipimu biar bisa ku kompres."


Tangan Norman kembali mendekat pada pipi Marwah dan tangan kecil istrinya itu perlahan menyingkir tidak lagi menutupi pipinya.


Untuk sejenak, dan kesekian kalinya. Marwah ingin sekali membenci Norman seumur hidup, tetapi mengapa tatapan suaminya itu seperti dua orang yang berbeda. Dia selalu menyakiti, tapi dia juga yang berusaha untuk mengobati. Kenapa wajah Norman bisa berbeda untuk beberapa waktu, saat memukul bisa kejam seperti bara api yang menyala-nyala, tapi bila saat emosi nya tenang dan stabil, bisa teduh seperti embun di waktu pagi.


"Kenapa?" Kata Marwah.


Norman langsung mendongak, menatapnya heran. "Hah? Apa?"


"Kenapa kamu selalu begini?! Kamu yang buat luka ini, kamu yang buat wajah dan badanku memar. Lalu kenapa kamu juga yang mengobatinya? Kenapa, apa kamu merasa bersalah?" Kata Marwah, matanya kembali merah bersiap untuk menangis lagi, kesekian kalinya.


"Tapi itu semua bukan cuma luka luar yang bisa dengan mudah kamu obati seperti sekarang. Hatiku, perasaanku dan batinku yang jauh lebih terluka, dan itu sampai kapan pun tidak akan pernah bisa kamu obati dengan kompres dan bersikap baik seperti saat ini."

__ADS_1


Norman diam sejenak, kemudian tertawa kecil sebelum akhirnya mencondongkan wajahnya ke wajah Marwah.


"Kamu terlalu percaya diri," Katanya cengengesan. "Memangnya siapa yang merasa bersalah? Aku mengobati luka kamu itu biar kamu tidak cepat m4ti. Lihat, kamu dipukul begini saja sudah linglung. Bagaimana kalau aku marah lagi, bisa sekarat kamu. Jadi, mau tidak mau harus ku jaga, karena kamu itu sumber duit untukku. Kalau kamu m4ti, aku kehilangan penghasilan. Ya kan?"


Marwah tertegun, seharusnya dia tidak terkejut dengan jawaban Norman barusan. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang menyakiti dasar hatinya, hingga dadanya terasa sesak dan berdebar kuat. Mungkinkah karena dia telah dijadikan boneka? Dan terpaksa menjadi samsak untuk seorang pria tanpa belas kasihan ini. Sungguh tidak adil.


"Kenapa kamu sejahat ini padaku? Apakah tidak ada sedikitpun rasa kasih untuk seorang wanita yang sudah menemani kamu selama satu tahun? Bagaimana kalau yang aku rasakan ini terjadi pada ibu atau adik perempuanmu? Apakah kamu tetap akan tega menyakitinya cuma karena uang?" Kata Marwah sambil terisak.


"Tidak." Jawab Norman singkat. Tangannya mengepal keras sambil membuang muka ke lantai semen di bawah. "Aku malah senang kalau ibu ku tersiksa. Sebelum aku menyakiti orang lain, ibuku lebih dulu menyiksa ku dari kecil. Dari aku lahir, tidak pernah dipedulikan, dipukul, dibuang seperti sampah. Kamu tahu kenapa? Karena aku bukan anak yang dia inginkan! Ibuku hamil di luar nikah, dan aku ini anak dari hasil lelaki yang memperkosanya. Ini bukan kesalahanku kan?" Kata Norman, dia bicara sambil meninggikan nada bicaranya.


"Itu bukan kesalahanku karena lahir, ibuku diperkosa orang lain, bukan keinginanku untuk terlahir dengan cara seperti itu! Tapi kenapa ibu malah membenciku, tiap hari selalu menyiksaku! bahkan menyusuiku pun dia enggan! Lalu kamu bertanya bagaimana perasaanku, jika ibuku tersiksa seperti kamu? Aku senang, jawabannya adalah aku senang."


Marwah langsung membeku, badannya gemetar, atau lebih tepatnya hatinya bergetar. Norman, lelaki itu menangis untuk pertama kalinya di depannya, meski Norman sendiri langsung memalingkan muka setelah menyadari air bening itu keluar dari pelupuk matanya. Inikah penyebabnya? Norman memiliki trauma masa lalu sehingga tumbuh menjadi pria tempramental tanpa perasaan, atau berpura-pura tanpa perasaan?


"Kamu tahu bagaimana rasanya lahir sebagai hasil dari pemerkosaan. Kamu tahu bagaimana rasanya jadi anak yang dibenci oleh seorang ibu, lalu kenapa kamu melakukan hal yang sama? Melakukan perbuatan kotor itu padaku, bagaimana jika aku sungguh memiliki anak hasil perbuatanmu, dan aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ibumu dengan anak itu nanti? Kamu tidak berpikir sampai sejauh itu kan?! Kamu tidak memikirkan nasib anak yang mungkin lahir karena perbuatanmu!"


Setelah menyeka habis air matanya tadi, Norman bangkit berdiri sambil membelakangi Marwah. Lalu menjawab dengan suara pelan, selembut hembusan angin di ruang depan...


"Itu semua tidak mungkin terjadi----" Kata Norman, kemudian pergi ke dapur dengan membawa baskom dan handuk kompres tadi.

__ADS_1


__ADS_2