
"Selamat datang, bu..." Seru Marwah di pintu depan.
Malam yang dingin, Erin pulang dengan kondisi tak baik. Tas langsung dibanting ke depan, wajahnya kusut, sekusut suasana hatinya kali ini.
"Laki-laki pengecut," Erin mendengus sambil melepas mantelnya ke sofa. "Melarikan diri dari ku. Apa aku ini sudah tidak memiliki kehormatan lagi sebagai istrinya?"
"Laki-laki pengecut?" Marwah berbisik, bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan majikannya itu.
Erin memutar badan, lalu menuruti firasatnya ia menarik tangan kanannya sambil membungkuk sementara mantel hitam yang tadi ditanggalkan sudah lemas di sofa. Ia mengumpat, menyipitkan mata, dan menatap langsung ke mata Marwah sebagaimana yang pernah dilakukannya tadi pagi di meja makan.
Sungguh mengejutkan, tapi Erin lagi-lagi seperti langsung menatapnya.
"Kau?" Kali ini Erin kembali bicara. Sambil bangkit perlahan, Erin tetap mengepal erat jemarinya dan mengambil satu langkah mendekati Marwah. "Siapa kamu sebenarnya? Dari mana kamu bisa datang ke sini?"
Ini tidak mungkin terjadi, Erin marah-marah lalu bertanya hal demikian. Tentu mengejutkan Marwah seketika. Mungkinkah Erin langsung menaruh curiga padanya?
"Ma-maksudnya bu?"
"Jawab kamu siapa?!!! datang dari mana?"
"Saya Marwah bu, saya datang dari kampung kecil ujung kota. Kerja di sini karena suami lagi menganggur, kebetulan dapat info dari sanak keluarga kalau ada orang yang butuh Asisten Rumah Tangga."
Seketika Erin menjatuhkan tubuhnya di ujung sofa, dan berakhir pula lah emosinya yang menyala-nyala. Sedetik kemudian, ia mendapati dirinya kembali dalam frustasi. Ia mulai menangis sambil menggaruk kepalanya yang sudah kacau.
Marwah mendekat, dan Erin mendongak ke arahnya yang tidak tampak baik-baik saja.
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja? butuh sesuatu?"
Erin menghembuskan napas dan berusaha mengontrol gejolak emosi dalam jiwanya. Ia mulai mengatur pusat perhatian pada Marwah. Keluar dari masalah yang telah dialaminya sebelum masuk ke rumah, dan kali ini ia merasa seakan-akan memiliki orang yang perduli padanya di rumah.
"Kamu sudah bersuami, pasti bukan kamu orangnya." Jawab Erin sambil menyeka air mata. "Bapak tadi pagi, pergi kerja jam berapa Marwah?"
"Sekitar jam 9, bu."
"Ada gerak-gerik mencurigakan darinya setelah aku pergi? misal telponan dengan orang lain mungkin, atau ada wanita yang mampir ke sini?" Tanya Erin kedua kali.
Marwah menggeleng, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Cemas menyelimuti, tapi ia juga tak mampu berkata apa pun untuk situasi yang sekarang. Apakah telah terjadi sesuatu di luar sana antara Om gondrong dan bu Erin? sampai bu Erin frustasi begini saat sampai di rumah. Mungkinkah Om gondrong sudah pernah berselingkuh di belakang istrinya, sebelum aku? Ku rasa tidak, tapi Om sepertinya sudah menampakkan tak memiliki rasa apa pun pada bu Erin. Marwah menduga-duga dalam hati.
"Aku sudah seperti orang gila Marwah. Akhir-akhir ini suamiku sudah seperti iblis emosian. Dia berubah total, mudah marah bahkan hanya masalah kecil. Bahkan barusan, saat aku telepon dia cuma diam, setelah itu langsung dimatikan. Aku seperti orang yang mengemis hati padanya." Erin menjelaskan dengan emosi yang bisa dipahami Marwah dengan sangat baik sebagai seorang perempuan.
"Aku benar-benar bisa gila kalau kami terus begini. Dia sering marah, karena urusan rumah tangga kami, baginya aku tak becus urus dia dan rumah. Fine! sekarang toh sudah ada kamu yang urus itu semua, tapi dia masih sama, bahkan lebih parah buktinya barusan waktu aku di jalan pulang. Aku minta jemput, tapi dia tidak bicara sedikit pun, langsung matikan telepon. Aku tunggu dia sampai dua jam Marwah!" Ungkap Erin kembali, masih dengan emosi yang sama, masih dengan air mata yang sama.
"Bu," Marwah membungkuk. Menyamai posisinya pada Erin di sofa. "Aku tidak bermaksud ikut campur.Tapi ibu bisa coba untuk bicara baik-baik dulu dengan bapak soal masalah ini. Bukankah masalah bisa selesai kalau saling dibicarakan? mungkin bapak punya alasan sampai dua jam belum jemput ibu. Kalau sudah bicara dengan kepala dingin, pasti dapat jalan keluarnya nanti." Marwah berusaha meyakinkannya.
Tapi Erin enggan mendengar, ia masih yakin pada prasangka kalau Rambo memang telah memiliki wanita simpanan, karena perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Rambo sampai 360 derajat.
"Lihat saja! kalau firasatku ini benar, ku habisi mereka berdua sekaligus. Ku buat mereka hancur, sehancur hati dan perasaanku ini." Ucap Erin.
Marwah membisu, tak pernah dia bergetar sehebat ini. Baru kali ini ia ketakutan dengan pilihan hidupnya sendiri. Sebersit empatinya atas apa yang terjadi pada Erin, istri Rambo barusan. Seakan ia sedang menikmati kebahagiaan bersatu dengan cinta lamanya besama Rambo, sementara Erin mengalami frustasi dan gila dengan dugaan-dugaan buruk atas sikap Rambo.
Marwah menggumam, dia telah jahat sebagai wanita. Tetapi di satu sisi, apakah salah untuknya bersatu dengan Rambo. Mereka saling mencintai, hanya keadaan sedikit berbeda sampai mereka belum bisa bersama secara terang-terangan, mereka perlu menunggu waktu untuk bisa sama-sama lepas dari pernikahan yang sekarang. Lagi pula, Rambo tak mungkin berpaling jika Erin memperlakukannya dengan baik. Marwah berani bersaksi untuk itu, Rambo tak pernah hidup bahagia bersama Erin.
__ADS_1
"Marwah... "
Begitu mendengar suara itu, sadarlah Marwah dari lamunannya. Tatapannya membeku, begitu mendapati tangan Erin yang memegang lembut jemarinya penuh harap.
"Ya, bu?"
"Aku tahu kita baru kenal dan aku malah beberkan masalah rumah tangga kami denganmu, karena aku benar-benar tidak tahu harus apa, sebagai sesama perempuan aku yakin kamu paham betul seperti apa rasa khawatir dan kecurigaan ku. Karena itu aku sangat butuh bantuan kamu, tolong aku untuk mengawasi bapak. Beritahu aku kalau ada hal mencurigakan selagi aku di luar, bantu aku cari info tentang selingkuhan bapak. Aku janji bakal bayar kamu Ekstra!"
"Baik bu... akan ku usahakan." Jawab Marwah.
Marwah kembali menggumam; Apakah Erin memang istri yang seburuk itu? Atau apakah Om gondrong tak cukup sabar menghadapi keburukan dan kemanjaan istrinya? atau justru Om gondrong terlalu lemah menghadapi tuntutan kedua orang tuanya, sehingga terpaksa mengikuti alur dan kami terjebak dalam hubungan yang rumit ini?
Hubungan macam apa ini? mereka memang saling cinta, tapi menjalin hubungan di atas hubungan lain, apakah tidak merusak kemurnian cinta itu sendiri?
Lalu bagaimana dengan Marwah sendiri, bila ia harus mundur dan mengembalikan Rambo pada Erin, istrinya? Ah, malang benar ia mencintai dan dicintai oleh suami orang lain. Suami milik perempuan yang segalanya jauh melebihi keberuntungan Marwah sendiri. Atau barangkali, justru kesederhanaan Marwah lah yang dikehendaki oleh Rambo? Bisa jadi.
Yang jelas kini, mereka telah berkutat dengan dunia yang kelewat rumit dan abstrak, sehingga melupakan kehidupan sehari-hari yang lebih alamiah dan sederhana.
...****************...
Halo ini author 🙋
Kalau sudah begini, kalian di pihak siapa besttie? satu sisi memang hubungan mereka ga bener, tapi lihat latar belakang masing-masing, author juga taruh simpati untuk mereka. Siapa yang akan berlabuh bersama Rambo di akhir? siapa suami Marwah? dan bagaimana kalau Erin tahu, orang yang dipercayai nya adalah selingkuhan suaminya sendiri?
Nah, masih penasaran kan? nanti kita tahu.... dukung terus ya?! author sayang kalian ❤
__ADS_1