
Begitu sampai di rumah, Rambo memarkir mobilnya dan mengangkat tubuh Marwah dengan mudah, dan duduk di kursi samb memangku istrinya itu. Marwah meringkuk pada kehangatan dan kekuatan Rambo yang mantap, seakan ia sedang bersandar pada dinding batu bata. Tubuh suaminya itu, begitu liat dan kuat, Marwah mengenal dengan baik tiap sentimeter tubuh itu sebagaimana ia mengenali tubuhnya sendiri.
Sambil meletakkan kepalanya di dada Rambo, Marwah memejamkan mata dan m3ndesah, merasa aman di balik pelukan suaminya saat itu. Dunia di luar tampa Rambo, begitu menakutkan. Ada banyak orang yang menginginkan dia menderita.
Tapi di dalam pelukan Rambo, Marwah menemukan harapan. Ia merasa aman. Saat berduaan dengan Rambo, Marwah berbisik, "Tidak disangka Pak Norman bisa tobat. Padahal dia sudah pernah masuk penjara, masa yang ini beda, langsung berubah."
"Ada hal besar yang memotivasinya berubah," Rambo menjawab kurang senang. "Kamu pasti tahu apa hal itu."
Marwah mengangkat kepala agar bisa melihat mata Rambo lagi. "Tidak, Mas. Memangnya apa?"
"Sudahlah, itu juga urusan Norman. Cuma dia yang tahu."
Marwah mengerut seketika saat ekspresi wajah Rambo nampak tak senang. Matanya memandang dalam-dalam berusaha menginterogasi apa yang ada dalam pikiran Rambo saat ini.
"Ada apa?" tanya Rambo sambil mengelus rahang Marwah dengan ujung jarinya.
Bukannya menjawab, Marwah masih terus memandang Rambo dengan tatapan tajam. Pikiran Rambo sangat jelas merasa terganggu dengan obrolan ini, raut wajahnya sangat terang menggambarkan itu. "Kamu kenapa seperti tak senang Mas?"
"Apa?"
Rambo mematung. Selagi menatap mata cokelat bening yang dikenalnya sebaik ia mengenal dirinya sendiri, Rambo melihat mata tersebut berpijar dan sadar bahwa ia telah menunjukkan rasa cemburunya. Bahkan sewaktu diam-diam mengutuki diri sendiri karena telah menunjukkan perasaan cemburunya, Rambo sadar bahwa Marwah pasti telah mengetahuinya.
Ditariknya sang istri lebih dekat, lalu dirangkulnya erat-erat di dada. Tubuh mereka menyatu, pikiran mereka saling meraih. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya dari Marwah. Rambo menyandarkan pipi di kepala Marwah sambil menghela napas dan berbisik, "Ya, aku cemburu."
"Baguslah kalau jujur begini," ujar Marwah, kata-katanya sedikit teredam di dada Rambo, "Tapi cemburu untuk apa?"
__ADS_1
Untuk sejenak Rambo terdiam. Selama bertahun-tahun ia tak pernah merasakan perasaan ini.
"Mas?" Marwah bergerak dalam pelukan Rambo dan mendongak untuk menatapnya. "Kenapa diam saja?"
"Sayang, ayo tidur, aku sudah ngantuk." Jawab Rambo padanya, ia hanyut dalam lamunan dan pelukan tanpa sadar masih di kursi ruang tamu.
"Iya," jawab Marwah, dia perlahan merenggangkan tangannya dan dengan hati-hati bangkit berdiri. Rambo tiba-tiba merasa dingin dan kesepian.
Marwah bergerak menjauh, merapikan roknya dan melangkah menuju tangga. Sambil memandang anak tangga, ia berkata pelan, "Ehm... itu Mas, aku lupa mau bicara sesuatu." Sambungnya kembali
Rambo berdiri, merapikan pakaiannya sendiri dan menjaga tatapannya tetap terfokus pada Marwah. Ia mengawasi istrinya, lekuk tubuhnya, untaian rambut panjangnya yang hitam tebal, berkilau terang oleh cahaya lampu. Firasat Rambo menyuruhnya untuk mendekati istrinya, memeluk dan merangkul Marwah erat-erat agar ia tak bisa melarikan diri darinya.
"Mau bicara apa sayang?" Suara Rambo lembut, namun tegas.
"Sebenarnya tadi aku ke kantor polisi, mau kasih tau sesuatu sama Mas, tapi karna hal itu, jadi nya tidak jadi, malah hampir lupa."
"Mas, sebenarnya ada yang ingin menyapa kamu, dia bilang 'Papa'." Kata Marwah membuat Rambo jadi kembali kebingungan. Maksudnya siapa?
"Sayang, kamu kurang nyaman panggil aku 'Mas' ya, sering main dengan Kania sepertinya kamu jadi terinspirasi. Tapi justru bagus, aku juga senang kalau kamu mau memanggilku 'Papa' haha aku juga bisa kok panggil kamu 'Mama'." Rambo tertawa kecil, ya ampun Istrinya sejak kapan jadi romantis begini.
"Bukan Mas, bukan aku. Yang mau ngomong itu ada disini, di dalam perutku." Marwah menunjuk perutnya.
Rambo mengernyitkan dahi, "Sayang maksud kamu apa?"
"Mas sebenarnya aku sedang hamil, ehm aku juga baru tahu tadi, waktu diperiksa sama Mbak Rani." ucap Marwah, dia tertawa kecil dan memalingkan mukanya dari Rambo.
__ADS_1
"Kamu hamil?" Rambo bengong, seketika tubuhnya mematung saat nina bilang begitu.
"Iya Mas, maaf ya aku tidak tahu apakah kamu akan senang atau tidak karena berkah ini datang sangat cepat, mungkin kamu belum siap atau--tapi aku..."
Belum selesai Marwah bicara, Rambo langsung berjalan ke arahnya dan mengangkat tubuhnya. menggendongnya penuh cinta dan sukacita seperti tengah menggendong anak kecil, Rambo bahkan memutar-mutarkan tubuh Marwah dalam gendongannya, ia begitu senang seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan nina barusan.
"Aaahhh!!!! hahahaha siapa yang ngomong aku tidak senang? Anakku, kamu mengandungnya Marwah, tentu saja aku senang sekali, sungguh-sungguh senang." ucap Rambo berteriak penuh kegagahan.
"Mas, berhenti aku pusing jangan putar-putar, turunkan aku sekarang Mas," jawab Marwah agak merintih.
Tapi Rambo mengacuhkannya, Ia tidak bisa, tidak mau menurunkan Marwah karena terlalu senang, tidak terkira.
"Marwah, aku benar-benar tidak tahu mau bicara apa padamu, kamu tahu aku sangat senang saat ini, jantungku seperti mau meledak." Dia mengangkat tubuh Marwah, tapi akhirnya berhenti memutar-mutar tubuhnya.
"Mas, turunkan aku. Memangnya kamu tidak pegal angkat aku terus? Kamu juga jangan teriak-teriak, ini udah malam."
"Jangankan angkat badan kamu seharian, kerja siang malam pun aku bisa. Karena aku mencintai kamu, laki-laki bisa lebih kuat untuk orang yang tersayang, tidak pernah ada kata lelah bagiku untuk kamu, keluarga kita." Ucap Rambo kembali, dia menangkup tubuh Marwah, sampai tidak tahan untuk tidak menciumnya, mencium bibir manis istrinya. Dan perlahan menurunkan tubuh kecil Marwah dari pegangan lengannya yang kekar.
"Mas.. ayo tidur. Aku juga sudah ngantuk." Marwah berbisik di telinga Rambo selagi menggosok matanya kasar.
"Ah, benar. Maaf ya, aku terlampau senang sampai lupa, sayang kamu harus jaga kesehatan ya, aku siap masak buat kamu, sungguh. Dan Marwah terima kasih, kamu sudah menjadi cahaya di kehidupanku yang suram." Rambo kembali mengangkat tubuh Marwah dan menidurkannya di kasur.
Tidak lama Marwah pun terlelap, sementara Rambo tidak bisa tidur, tidak bisa, perasaannya tidak karuan, dadanya berdebar kencang karena sangat bahagia mendengar kabar ini. Dia tidur di samping Marwah sambil mengelus elus perutnya.
"Nak, terima kasih kamu sudah hadir di sini, papa senang sekali, kamu tahu papa dan mama sangat menantikan kamu, kamu jangan nakal di perut mama ya, jaga mama baik baik ya sayang. Papa dengar kalian kalau sudah besar dalam kandungan suka tendang-tendang? tapi kamu jangan tendang perut mama ya, nanti mama kesakitan. Kalau sudah lahir dan besar nanti, kamu jangan pernah buat mama marah ya, mama galak kalau lagi marah. Tapi biarpun Mama begitu papa sayang sekali sama mama, kamu juga kan? papa sudah ngantuk, kamu juga tidur oke, anak papa selamat tidur, sayang." kataku dalam hati.
__ADS_1
Si gondrong menyeramkan itu, kini terlihat seperti anak kecil. Rambo mengobrol dengan buah hatinya di perut Marwah, sampai matanya mulai merasa berat, aku mencium kening Marwah, kemudian berbisik.
"Selamat tidur sayang, aku mencintai kalian semua melebihi hidupku sendiri."