Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 70 - 'Mas', Sebut Begitu Marwah


__ADS_3

"Sudah pagi,---"


Suara Marwah yang lembut dan mend3sah membangunkan Rambo dari tidurnya. Terjaga seketika, Rambo meraih Marwah yang berada di sisinya di atas tempat tidur lebar.


"Kamu mau kemana? Ini masih jam 4 pagi."


"Aku sudah tidak mengantuk." Marwah menarik napas panjang, menghembuskannya dan berkata, "Semalam aku tidur lebih cepat, Om. Jadi biar aku bangun dan beres-beres."


Dengan seketika, Rambo menjadi kaku. "Kamu tidak boleh memanggilku begitu terus! Aku ingin kamu memanggilku 'Mas' atau 'sayang'."


"Tumben sekali, memangnya tidak suka ya dipanggil 'Om'?" jawab Marwah, menghembuskan napas. Disisirnya rambutnya dengan tangan dan ditariknya ke belakang, menjauhi wajahnya.


Rambo mendes4h. "Bukan begitu, aku suka dipanggil Om, tapi setelah menikah aku mau dipanggil lebih dekat, contohnya seperti tadi. Aku sudah jadi suami, maunya dipanggil 'Mas'."


"Biar mirip bu Erin?"


Rambo tersenyum dan mencubit lembut pipi Marwah yang bulat. "Tidak ada kaitannya dengan dia!" katanya. "Cepat panggil aku Mas."


Marwah menoleh menghadap pada sentuhan pria gondrong itu dan memejamkan mata sambil berkata pelan. "Mas," ulang Marwah dengan lembut sambil menggenggam tangan Rambo, dan membawa tangan tersebut ke wajahnya. Kemudian ia mendongak dan memaku tatapannya pada Rambo.


Perlahan, Rambo mulai tergoda pada tatapan Marwah yang indah, ia menarik Marwah mendekat dan mendekat, hingga mulut mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Dan ketika ia tak bisa lagi menahan ketegangan itu lebih lama, Rambo mencium Marwah. Berg4irah terhadap pesona istrinya itu, Rambo merengkuh apa yang ia yakini sebagai miliknya, merengkuh wanita yang dapat memahami dirinya dan menemukan hati yang ia kira telah membeku saat ditinggal 5 tahun yang lalu.


Dan dalam satu gerakan, Rambo bergeser dan menempatkan Marwah kembali di kasur. Rambo mulai menyusup masuk dan menguasai, mengambil semua yang dimiliki Marwah untuk dirinya sendiri, seakan-akan Marwah memang telah diciptakan untuknya semata. Setiap lekuk tubuh Marwah yang indah menyatu pada Rambo, seolah dia merupakan kepingan yang hilang dari puzzle perjalanan hidup lelaki gondrong itu.


Rambo menyentuhnya dan menemukan hasrat. Rambo menyesap Marwah dan menemukan kehidupan.


"Mas... "

__ADS_1


Rambo langsung tersenyum, dan segera menjawab Marwah ketika dia berbicara. "Aku akan menjalankan semua kewajibanku, Marwah. Norman tidak berbohong, rasakanlah bagaimana ketika kamu menyerahkan hatimu pada pria, lihatlah aku dalam pikiranmu."


Isi kepala Rambo terbuka pada bayangan-bayangan perkenalan dan perjuangannya bersama Marwah. Ingatan tentang mereka berdua, bersama-sama, terkunci dalam pelukan satu sama lain. Terlalu banyak yang menjadi perjalanan hidup mereka untuk bisa sampai di titik ini.


Rambo merasakan semua perasaan sentimentil itu. Dalam satu detik yang mengentakkan jantung, Rambo memahami wanita itu lebih baik dibanding siapa pun.


"Aku pun akan menjalankan semua kewajibanku padamu," kata Marwah pelan.


Rambo memperdalam sentuhannya, memberikan semua yang ia miliki, segala hal pada dirinya. Dan ada sebuah perasaan yang menyenangkan hatinya, yaitu Norman dengan kejujurannya. Mereka sama-sama memiliki status mantan orang, tapi uniknya mereka pun masih sama-sama tersegel kuat.


Rahasia tentang kejahatan keluarganya, ingin sekali Rambo mengatakan itu pada Marwah, tapi seandainya bisa, ia yakin wanita pertama yang dapat menyentuhnya sedalam itu, akan marah besar bahkan membencinya dan keluarga.


Rambo melepas mulutnya dan menatap ke dalam bulu mata lentik yang menghiasi kelopaknya itu, kemudian melihat keterkejutan yang ia rasakan tercermin di hadapannya.


"Bukalah matamu, sayang." ujar Rambo, suaranya berupa belaian lembut dan dalam, sepenuh sentuhannya. "Bukalah matamu dan lihatlah aku sekarang."


Semua yang dikatakan Rambo menyusup ke dalam benak Marwah, tiba-tiba ia merasa tubuhnya meleleh menjadi cairan panas saat mendengar hal sensitif yang dibisikkan Rambo. Dan memang ia merasa seakan sensasi ini adalah yang pertama kali, tersesat sepenuhnya di dalam diri seorang pria, dan ia menikmatinya. Ia mendambakan tersesat di dalam diri Rambo, sampai tak pernah lagi menemukan jalan keluar.


Marwah mengangkat kepalanya dari bantal dan mencivm Rambo. Suaminya itu tak bergerak selama beberapa detik, selagi Marwah mengecapnya, menggodanya. Setelah itu, tali yang mengikat Marwah seakan mendadak putus.


Rambo pun berkobar, bergemuruh, dan berguncang. Dunia kembali goyah sebagaimana beberapa menit yang lalu, hanya saja kali ini Marwah menyambutnya. Tangan Rambo bermain lebih cekat, membelai permukaan kulit Marwah, menimbulkan percik api seiring tiap sentuhannya. Napas Marwah kembali tersengal saat ia meliukkan tubuh untuk Rambo.


Secara naluriah, Marwah merintih memanggil Rambo. "Mas... "


Rambo tersenyum dan menyambutnya dengan sentuhan maut. "Panggil aku begitu terus ya, aku menyukainya."


Marwah bisa merasakan senyum Rambo saat mencivmnya kembali, hanyut dalam badai sensasi yang membanjiri mereka.

__ADS_1


Rambo menatapnya, dan Marwah pun merasa terbakar saat Rambo menyentuhnya, tubuhnya seakan meledak. Rambo mencivmnya, dan Marwah menyerah pada segala yang tak terhindarkan.


Mata Marwah kemudian menyipit saat melihat garis panjang yang samar menggores perut kotak Rambo. "Bekas jahitan?"


Rambo menunduk, kemudian memandang Marwah dan tersenyum. "Ulah orang-orang yang kutangkap. Beginilah nasib jika kamu menikahi alat negara, harus siap segalanya."


"Kalian sungguh hebat,"


Rambo menggeleng, rambut hitamnya yang panjang tergerai di sekeliling wajah bagaikan tirai sutra yang tebal. "Tidak sayang, kamulah yang hebat."


Marwah menghela napas dan membiarkan tatapannya menjelajahi tiap inci tubuh Rambo. Tindakan yang sah ia lakukan, setelah 19 jam lalu menjadi istri lelaki itu. Sepertinya Rambo sudah siap kembali, dan Marwah gemetar penuh harap. Ia menginginkan Rambo melebihi apa pun. Marwah mengangkat lengannya ke arah Rambo, meliukkan punggungnya untuk meraih pria itu. Menuntut tanpa bersuara agar Rambo mendekat, meredakan hasrat dalam dirinya.


Sontak, mata gelap Rambo berkilau dan ia menjadi luar biasa tersiksa kala menatap Marwah, seakan Marwah adalah sarapan sekaligus santapan terakhirnya. Darah Marwah mengalir deras dan jantungnya berdetak dalam ritme yang begitu kencang dan kuat, sampai ia tak sanggup bernapas.


Lagi dan lagi, tangan Rambo menelusuri tubuh Marwah, membuat istrinya tersengal kala belaian Rambo semakin liar. Dia menguasai tubuh Marwah yang peka dan istrinya itu pun memekik, gemetar dalam pelukan Rambo ketika sensasi membanjiri tubuhnya dengan arus panas tanpa akhir.


Ketika Marwah mengira ia akan mati terbenam luapan sensasi Rambo, Rambo meluncurkan langkah terakhir, serangan terakhir untuk pagi itu. Dan Marwah langsung gemetar, saat percik api Rambo berada dalam dirinya.


Intensitas perasaan yang diciptakan Rambo begitu mengagumkan. Ketika tubuh Marwah melemas, bersinar dalam ledakan yang mengguncang bumi, ia meneriakkan panggilan Rambo dalam nada memabukkan. 'Mas.' Membuat Rambo semakin bergelora.


Mereka terkunci dalam ritme yang seakan meniru laju detak jantung masing-masing. Rambo ada di mana-mana. Di pikiran Marwah, di tubuhnya dan ia tak merasa cukup mereguk suaminya.


"Nanti siang, aku mau menemui Mbak Rani dan Ibu untuk makan bersama. Doa kan semoga usahaku untuk membaur lancar, Mas. Aku ingin menjadi bagian hidupmu, tapi aku juga tak mau hadirku malah jadi boomerang yang menghancurkan keluargamu."


Dengan pemikiran itu; kata-kata yang bernyanyian di dalam pikirannya semalaman akhirnya terlepaskan saat ini pada suaminya. Rambo mencivm Marwah dan memeluknya erat-erat selagi tubuh mereka meledak dalam lepasan guncangan baru. Kali ini, Marwah merasakan sorak kepuasan hening Rambo tatkala suaminya itu meraih puncak kenikmatan bersamanya.


Mereka adalah sepasang merpati yang tersesat...

__ADS_1


__ADS_2