Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 26 - Malam Bersama Kekasih


__ADS_3

"Tak apa, sisanya biar aku sendiri saja yang kompres."


"Sudah beres. Banyak sekali bekas merah, hampir seluruh badan, maafkan aku." Jawab Rambo seraya sedikit menurunkan badannya.


Pada saat ia melepaskan kompres itu, sebuah jempol muncul di depan matanya.


"Kamu sudah minta maaf berkali-kali Om. Ingat ya luka begini tidak seberapa, aku sudah sering dapat yang lebih, hihi. Jadi ini tidak masalah, aku kan perempuan kuat seperti yang kamu katakan." Ucap Marwah.


Momen ini membuat hati kecil Rambo terenyuh, akhirnya ia teringat pada kekerasan yang sudah sering didapatkan Marwah dari suaminya selama satu tahun ini. Ini semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar, tapi pada saat yang sama pula, ia seperti menemukan lagi sosok Marwah yang ia temui 5 tahun dulu. Anak gadis tengil, penuh keceriaan walau dia diterpa banyak cobaan.


Rambo lantas meraih tubuh Marwah, merengkuhnya dengan lembut di atas sofa dan Marwah tenggelam dalam dadanya yang bidang.


"Benar. Kamu itu adalah perempuan kuat---" Bisiknya di telinga Marwah.


Lalu Marwah membalas pelukan Rambo, dan berkata pelan, "Terima kasih, Om. Kamu mau mencintai aku."


Ini sudah cukup membuktikan pada semua orang betapa besar kekuatan cinta tercipta di antara mereka, bagaimana waktu memisahkan bertahun lamanya hingga saat mereka dipertemukan kembali. Kekuatan cinta itu tak pernah hilang ataupun memudar.


"Sampai mati pun, memang cuma kamu. Cintaku sudah habis untuk satu orang. Yaitu pada wanita yang ku temui di Rumah Sakit 5 tahun yang lalu." Jawab Rambo, senyumnya tipis namun sangat manis dan bermakna, begitu bermakna hingga mampu menyentuh dasar hati Marwah yang terdalam.

__ADS_1


"Om, perjalanan kita sangat panjang. Bahkan sekedar untuk bersama pun, ada banyak sekali halangan dan rintangan, banyak pengorbanan. Andai saja dulu, aku memiliki keberanian seperti ini mungkin kita masih bisa berjuang dengan hambatan yang berbeda." Kata Marwah, dia menggenggam tangan besar Rambo untuk kesekian kalinya. "Aku juga mencintai kamu Om. Lelaki yang kutemui 5 tahun lalu di Rumah Sakit."


Mengetahui hal itu memberi Rambo keberanian untuk lebih luwes seperti dulu, walau mungkin sudah sedikit sulit, Rambo telah kehilangan karakter itu bertahun-tahun yang lalu.


"Aku tahu, kamu memang mencintai aku. Kamu tergila-gila denganku, memang wanita manapun tak mampu mengacuhkan pesona seorang pria sepertiku," ujar Rambo sambil mengangkat dagu, pura-pura untuk menantang Marwah, bertingkah tengil seperti dulu. Rambo merindukan momen penuh keramaian dibumbui sedikit keributan saat ia dan Marwah bertemu.


Perkataan Rambo itu membuat Marwah sedikit terkejut dengan tak hanya sedingin dan seserius saat ini, tapi juga Rambo kembali tengil menyombongkan kelebihannya.


"Dan Om sendiri?" Balas Marwah. "Pertama kali kehilangan aku, kamu langsung pergi ke sana sini. Mencari sampai bertahun-tahun. Dan pertama kali saat kita kembali dipertemukan, kamu masih setia untukku."


"Aku tahu---" timpal Rambo.


"Ya, benar----" Rambo tersenyum, kembali pada ekspresi serius yang berkarisma. "Setiap kalinya, kamu muncul dalam pikiranku, entah dari mana, dan menghilang lagi di udara dalam sekejap. Aku sudah sangat mengagumimu bahkan walau hanya sekedar bayangan."


"Itu merupakan efek dari pesonaku." Jawab Marwah.


Rambo melipat tangan di depan dadanya yang lebar dan menunduk ke arah Marwah dengan sorot mata penuh gelora, gelora yang membawa arus cintanya.


Seketika jantung Marwah berdebar kencang, ia tak sanggup bernapas tenang saat duduk berhadapan terlalu dekat dengan Rambo, jadi ia mulai mengalihkan wajah. Dan itu membuat Rambo kembali menyunggingkan senyum, permainan psikologis semacam ini cuma Rambo yang mampu melakukannya.

__ADS_1


"Aku punya pesona yang membuatmu langsung kikuk, seperti tauge kecil melihat batang kelapa. Bisa ku sebut, aku punya 'bakat' khusus, yaitu membuat wanita hilang pandangan. Setidaknya begitu, ya kan?"


"Tidak juga."


Marwah bahkan tidak melihat ke arah Rambo. Ia masih bertahan untuk menatap ubin, dibanding menatap pria yang akrab disapanya dengan panggilan 'Om Gondrong' itu.


"Kamu pembohong yang payah," ujar Rambo dengan senyuman nakal. "Tapi itu bagus sekali. Itu menunjukkan bahwa kau tidak terbiasa berbohong."


"Om!!!!" Seru Marwah. "Aku memang tidak terbiasa berbohong. Jangan menatapku begitu, aku mudah gugup."


"Haha, ah aku ingin sekali rasanya menikmati waktu begini lebih lama. Menghabiskan waktu bersamamu walau hanya sekedar untuk menyaksikan wajahmu merah, aku ingin sekali secepatnya merasakan moment itu. Tanpa merasakan beban apa pun. Begitu ingin---" Rambo diam sejenak, kelopak matanya sedikit menurun. Kemudian melanjutkan, "Karena itu, tak apa kan bila aku pergi lagi ke rumah bersama Erin? beri aku waktu paling lama 1 minggu. Aku ingin secepatnya menyelesaikan ini, aku ingin secepatnya bersama denganmu. Menikmati hariku bersamamu."


Belum ada jawaban apa pun dari Marwah, namun begitu wanita itu menatapnya lagi, Rambo baru menyadari Marwah pun merasakan hal yang sama, dia tersenyum seakan merestui apa yang akan dilakukan Rambo.


Marwah mengambil tangan besar Rambo lagi. Menciumnya tepat di pertengahan jari jemari. Begitu bibir itu menyentuh kulit Rambo, seakan getaran datang di sekujur tubuh Rambo.


"Aku selalu mendukungmu Om, aku percaya apa pun yang kamu lakukan."


Rambo membalas genggaman itu, dia menatap Marwah dengan sorot mata yang penuh. Dan Rambo mulai bersiap untuk mengakhiri obrolan hari ini, dengan berkata; "Sudah malam, tidurlah. Kamu tidurlah di kamar pertama ruang tengah. Istirahatlah yang baik. Rumah ini akan menjadi tempat tinggal sementara untuk kita."

__ADS_1


__ADS_2