Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 72 - Kabar Baik dan Kabar Buruk


__ADS_3

Dua bulan kemudian, ada banyak hal yang patut disyukuri Marwah. Usahanya untuk dekat dengan keluarga Rambo agaknya telaah membuahkan hasil. Dokter Rani selalu membaur padanya sekarang, makan roti bersama bahkan membuatnya sama-sama dengan Karunia di toko kuenya.


Hari ini, ada pula kabar baik yang datang, Marwah begitu bahagia, setelah diperiksa iparnya, dokter Rani tadi siang. Hatinya berdebar menunggu Rambo sampai malam, tapi suaminya belum pulang.


"Aku benar-benar penasaran, seperti apa reaksi Mas Rambo setelah tau kabar ini? Menunggunya pulang benar-benar sangat membosankan. Tapi aku yakin, Mas pasti senang." Katanya pelan di sofa depan rumah.


Namun, dia begitu tidak sabaran untuk menunggu Rambo pulang, jadi Marwah berpikir untuk menemuinya di kantor polisi. dia memang sering pulang malam, karna tugas di kantor yang begitu banyak, Patroli misalnya.


Dalam perjalanan ke kantor polisi, senyumnya terus mengambang, menghiasi malam dari dalam taksi. Tadi siang itu, saat ia buat roti dengan dokter Rani dan Kania... akhirnya Marwah kembali mengingat rangkaian kejadian yang menyenangkan hati itu...


"Mbak Rani mana? Kania? kenapa kita di sini?" tanya Marwah, matanya berdecak sangat terkejut saat tiba-tiba ada di sebuah kamar yang asing untuknya. Kamar untuk Angkasa dan Samudera dulu saat menunggu Kania kerja.


"Marwah bagaimana keadaanmu? maaf ini di kamar bermain anak-anakku, tadi kamu tak sadarkan diri saat ambil susu di kulkas." Jawab Kania, sahabatnya.


"Pingsan? Aku? Ya ampun, aku pasti sangat merepotkan kamu dan Mbak Rani. Aku juga tak paham, akhir-akhir ini badanku tak enak, sering demam dan pegal."


"Loh, sudah sadar Marwah? syukurlah." Satu suara tiba-tiba datang menyahut, dokter Rani muncul dari balik pintu kamar tempat Marwah beristirahat. "Kamu tadi pingsan depan kulkas, kami mendengar suara botol pecah, aku dan Kania langsung menyusul, benar saja kamu sudah tersungkur di lantai. Aku ingin mengabari Rambo, tapi dia tidak angkat telepon. Untungnya aku ingat bawa alat periksa, awalnya ku pikir tidak masalah karna kamu sepertinya hanya kelelahan, makanya pingsan."


Ah, iya benar. Marwah akhirnya mengingat memorial itu, saat mengambil susu, penglihatannya kabur, kepala serasa sangat ringan, setelah itu ia terjatuh dan tidak ingat apa apa.


"Jadi, dokter Rani, apa vitaminnya ada? Marwah sepertinya perlu istirahat. Kamu tuh 5 hari habis untuk kuliah, begadang menunggu Kak Rambo pulang, beres-beres rumah. Oh, kalau libur juga...." ucap Kania, dia kembali menyambar seperti biasa.

__ADS_1


"Ah, Kania mengenai ini, adik iparku, bukan hanya kelelahan biasa, saat ini dia tengah mengandung seorang bayi." jawab dokter Rani, sambil mengambil posisi duduk di samping Marwah.


"Hah??" timpal Kania dan Marwah, berdua serempak.


"Iya betul, aku sudah menduganya dari awal." Dokter Rani tersenyum lebar. Tapi kemudian, goresan melengkung pada bibirnya itu memudar. "Hanya saja, kandungan kamu sangat lemah, Marwah. Ada beberapa faktor yang aku duga sementara ini, tapi lebih baik kita tunggu pastinya di klinik ya." Tambah dokter Rani.


Kania mengelus dadanya kasar, kemudian menyahut, "Marwah hamil? dokter tidak bercanda kan? Kak Rambo pasti senangnya bukan main, hebat Marwah. Aku terharu sekali dapat kabar ini."


"Betul. Aku tidak bercanda, Kania. Marwah sedang hamil, usia kehamilannya baru 3 minggu jadi harus di jaga baik-baik. Pola makan, istirahat yang cukup, dan jangan stress."


"Bagus, ini kabar yang baik Marwah, aku harus telpon Kak Anta sekarang biar izinkan Kak Rambo pulang lebih awal." Ucap Kania.


"Tidak Kania, biar aku tunggu Mas Rambo pulang di jam normal saja, biar ini jadi kejutan juga untuknya."


...****************...


Setengah jam berlalu, akhirnya taksi berhenti di depan kantor polisi tempat Rambo bekerja. Niat hati ingin segera bertemu sambil membawa makan malam untuk suaminya, Marwah malah melihat pemandangan yang tak lazim dalam pikirannya.


"Mas? Pak Norman? mereka sedang apa?"


Terakhir mereka bertemu sebagai musuh.

__ADS_1


Hanya itu yang ia ketahui.


Satu-satunya yang ia tahu.


Tapi kali ini, mengapa Norman dan Rambo bicara empat mata, serius dan terlihat akrab. Norman adalah tahanan, tapi bisa bicara dengan Rambo di ruang kerjanya, meski terborgol. Marwah ingin mengingkari penglihatannya, tidak mau percaya dengan apa yang ia lihat. Namun hatinya berkata lain, sepertinya memang ada pembicaraan penting di antara mereka.


Sambil mengelus rahang, Marwah mengalihkan perhatian pada bagian perutnya dan berusaha tidak mengacuhkan Rambo dan Norman di depan. "Sayang, sekarang papa lagi sibuk. Kita tunggu urusan Papa selesai dulu ya." katanya dalam hati.


Sekarang Marwah menunggu, berusaha juga untuk mendengar pembicaraan di balik ruangan. Ia tidak bisa menerka apa pun, tapi Marwah masih menduga mungkinkah ini pembicaraan tentang bosnya Norman waktu itu? memang, sampai detik ini belum ada kejelasan apa pun dari Rambo.


Marwah memiringkan kepalanya dan menekan telinga ke pintu, tapi yang bisa dia dengar hanya gumaman lembut. Tidak ada yang bisa ia anggap pasti, tidak ada yang dapat memberi jawaban atas apa yang dia pikirkan.


Kejengkelan bergejolak di dalam perutnya. Ia bukan anak kecil yang bisa disisihkan dan tidak diikutsertakan dalam pembahasan masalah, lagi pula apalagi yang dibicarakan Rambo dan Norman selain masalah tentangnya? Faktanya tidak ada. Marwah menggerutu, ia bukan wanita yang bisa dihibur dengan perlindungan semata.


Dengan pemikiran tersebut, Marwah akhirnya memutuskan untuk meraih gagang pintu yang dingin itu, memutar dan mendorongnya hingga terbuka. Ia berdiri di bibir pintu, memandang kedua pria besar itu untuk sesaat. Mereka sama-sama berotot dan kuat, mereka seperti dua gelombang yang saling berlawanan, satu kuat sebagai polisi, dan satu kuat sebagai preman besar. Mereka sama-sama memancarkan kekuatan, dan mereka sama-sama memandang Marwah dengan pandangan menistakan yang terpampang jelas pada wajah mereka.


Tapi Marwah tak gentar. Ia mengangkat dagu, dan berkata. "Jika kalian sedang membicarakan orang jahat itu, maka aku harus menjadi bagian dari percakapannya. Aku juga ingin tahu siapa pelakunya."


Norman mengernyit. "Jangan merasa sok penting. Tidak ada yang membicarakan kamu di sini."


"Bohong! lalu apalagi yang kalian bicarakan selain tentang orang itu? Lagi pula Mas, ini sudah hampir satu tahun sejak perpisahanku dengan laki-laki ini, tapi kenapa sampai sekarang tidak ada kabar berita apa pun?!" Tukas Marwah. Ia menoleh ke Rambo, dan berbicara langsung setelah menutup pintu ruang kerja Rambo.

__ADS_1


"Sayang," jawab Rambo tetap tenang. "Kamu jangan salah paham, apalagi berpikir kejauhan lagi."


"Aku paham Mas, tapi," Marwah menggeleng. "Aku hampir melupakannya karena terlalu lama padahal ini sangat penting untukku. Aku harus tahu tentang orang itu."


__ADS_2