Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 34 - Ancaman Balik


__ADS_3

"Aku sudah mengusir dia dari sini, aku pikir dari situ kita akan kembali baik-baik saja. Membuatnya jauh dari kamu, dan kamu kembali ke sini. Aku pikir ini adalah awal baru untuk kita berdua. Tapi, rupanya sampai sekarang masih ku dengar juga kata cerai itu" Mata bening dengan tatapan kosong Erin itu bersinar dengan cahaya aneh di bawah cahaya lampu, dan salah satu tangannya yang lentik masih sibuk mengepal di permukaan dadanya. "Katakan padaku Mas, apa kelebihan pembantu itu dibanding aku?"


"Percuma aku menjelaskan tentang semut di seberang sungai jika gajah di depan pelupuk matamu pun tak bisa kau lihat, Rin." Jawab Rambo.


"Mass!!" Erin mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengayunkan satu tamparan setinggi kepalanya, dan nyaris mendarat sempurna di pipi Rambo. Tapi, diurungkannya tamparan itu. "Begitu tergoda dan cintanya kamu dengan perempuan itu sampai kamu tega menjandakan istri demi menjalin hubungan dengan istri orang lain."


"Dia sudah menikah, kan?" Erin melanjutkan kata-katanya.


"Untuk apa sih bahas dia terus?" Rambo menegakkan pandangannya, tersenyum pada lawan bicaranya saat ini. Dan merasakan kesiapan bertengkar yang sudah tidak asing lagi menyusup ke dirinya. "Kamu selalu bawa-bawa tentang dia saat aku mengatakan pisah atau marah padamu. Kenapa? Kamu buta dengan kesalahanmu sendiri?"


Amarah langsung membayangi kepala Erin dan membuat darahnya mendidih. Ia menjerit, pekikan melengking seakan bisa meretakkan kaca-kaca di sekeliling tempat perdebatan mereka. "Karena kamu selingkuh Mas! kamu sudah bermain hati di belakangku! Dan kamu masih tanya kenapa aku selalu bawa-bawa tentang perempuan itu terus kalau ribut denganmu?! Kamu masih waras kan, kamu itu pengkhianat! Kamu mengkhianati pernikahan kita."


Tapi Rambo tak peduli. Ia tidak khawatir dengan keributan ini, dilihat dari semua kenyataan yang disampaikan istrinya, Rambo tidak menyangkal. Memang semua benar, tapi Erin juga bersalah. Ada cukup banyak alasan yang menjadi sebab keyakinan Rambo untuk kembali pada cinta masa lalunya.


"Kau juga salah Rin! Aku seperti tak ada harga diri sebagai suami di matamu." Rambo menaikkan nada bicaranya, satu jari telunjuk mengacung di wajah istrinya. "Kau tak pernah segan memerintah ku, membantah kehendak ku, menolak permintaanku. Bahkan di depan rekan ku kau tak segan bersikap begitu padaku, lalu apalagi artinya aku ini di hidupmu? atau paling tidak ku tanya sekarang, di dalam pikiranmu itu sekali saja pernah tidak kau ingat dengan janji untuk berubah? Lalu kau tanya kenapa aku begini?"

__ADS_1


Rambo tersenyum lagi sambil menyipitkan mata, sosoknya tenang dan pasti. "Jangan pernah berharap orang lain untuk berubah sesuai kehendak mu kalau kamu sendiri sangat sulit untuk melakukan hal yang sama."


Sekali lagi, kedua mata itu bersinggungan dan geram amarah membelah udara malam. Rambo fokus pada reaksi istrinya dan Erin sendiri memusatkan kemarahan untuk si gondrong yang telah menyakitinya berkali-kali lipat.


"Sudahlah, aku mau istirahat. Jangan lupa besok, pertemuan keluarga, izin dulu kerja. Masalah kita lebih penting untuk diselesaikan secepatnya." Ucap Rambo mendahului Erin, badannya memutar membelakangi Erin. Nampaknya ia telah siap untuk kembali ke kamar.


Namun, sebelum Rambo benar-benar jauh. Erin berkata sekali lagi, "Baiklah kalau memang itu keputusanmu, tapi jangan lupa kalau rahasiamu ada di tanganku. Tentang perselingkuhan, aku tak main-main soal ancaman yang ku sampaikan waktu itu." Erin bernapas tak karuan, dadanya cepat sekali naik dan turun seiring dengan pernapasannya. Nampak sekali bagaimana perasaannya membuncah.


"Kau kira dengan mengancam kau bisa menghentikan langkahku, Rin?" Tanya Rambo. Kecaman di suara pria gondrong itu sudah membuat Erin mengerutkan dahi.


"Maaf saja Mas, aku tak punya pilihan lagi selain itu untuk mempertahankan pernikahan kita."


Bibir Rambo menyungging, kemudian menjawab, "Ya sudah lakukanlah. Sebarkan saja, aku tak masalah. Lagi pula, aku sudah mengatakan tak apa jika harus kehilangan segalanya, asalkan tidak merasakan penyesalan lagi untuk kesekian kalinya. Itu jauh lebih menyiksa dari pada kehilangan jabatan Rin. Aku benar, kan?"


Erin mendengus dengan suara yang bisa didengar dengan sangat jelas. "Hmph! omong kosong. Kamu berpura-pura tak peduli begitu, padahal dalam hati sedang gelisah gila-gilaan." Tiba-tiba dia tertawa, "Aku tak pernah bosan mengatakan ini padamu Mas, coba bayangkan bagaimana jika semua orang tahu, anak buahmu, rekan polisi mu, tetangga, teman dekat, keluarga, semuanya tahu kalau seorang polisi yang berlagak paling baik ini ternyata tukang selingkuh?"

__ADS_1


Rambo mengusap wajahnya kasar, menyembunyikan senyumnya yang merekah. "Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, Rin? coba bayangkan bagaimana jika semua orang tahu, atasan mu, rekan kerja mu, tetangga, teman dekat, keluarga tahu seorang penyiar yang berlagak seperti malaikat ini ternyata pelaku kekerasan?" Rambo berkata dengan suara lebih rendah dari sebelumnya. "Coba bayangkan kehidupanmu akan bagaimana saat kamu tinggal di penjara?"


Tatapan Rambo bertemu dengan tatapan Erin selagi istrinya itu masih berdiri tepat di hadapannya. Rambo dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah keheranan Erin saat itu.


"Maksud kamu apa, Mas?"


Rambo tak memberikan jawaban kata, hanya tangannya bergerak mengarahkan Erin untuk melihat sesuatu benda di pojok tersembunyi ruangan.


Mata Erin terbelalak saat menangkap benda pengintai yang dipasang Rambo waktu itu. Dan benak Erin saat itu merupakan campuran berbagai pikiran, bayangan, ketakutan, serta kecemasan semuanya dalam intensitas yang sama kuatnya.


"Kamera pengintai? Sejak kapan ada di situ?" Tanya Erin sedikit melotot. Tapi Rambo tak merasa tertekan sedikitpun oleh kekuatan mata istrinya itu, dan ancaman itu untuk saat ini, sudah cukup.


"Sebelum kau memukuli pembantu, kejadian itu terekam jelas loh. Bagaimana Rin? menyebarkannya pasti buruk sekali dampaknya untukmu kan?"


Dengan dada naik turun dan terengah-engah, Erin meneguk ludah dengan kasar, kemudian menyimak ancaman balik Rambo.

__ADS_1


"Kita sama-sama memegang rahasia yang kurang sedap. Jadi aku peringatkan kamu, jangan bermain ancaman. Ada baiknya koreksi kesalahan diri dulu." Ucap Rambo.


__ADS_2