
"Mau apa lagi kamu ke sini?" Ujar Norman ketika Marwah datang dari pintu kamarnya.
Setelah kejadian semalam, saat Marwah ada di dekatnya, Norman tetap berusaha menepikan perasaan berdebar itu. Sungguh suatu kesialan yang menyusahkan, mengapa tiba-tiba ada perasaan aneh semacam itu dalam hidupnya.
"Aku bawakan bubur, juga air minum hangat kuku." Kata Marwah sambil berjalan pelan ke arah Norman. "Bagaimana keadaanmu, Pak?"
"Tidak usah berpura-pura baik, kamu seharusnya senang kan dengan keadaanku sekarang? Tapi asal kamu tahu ya, demam kecil begini tidak akan menghalangiku untuk menjalankan tugas dari orang berduit itu!" Jawab Norman ketus, dia memalingkan muka dengan sombongnya.
Marwah menatap manusia buas yang sedang sakit itu dengan dingin. "Aku memang senang, tapi aku juga tidak berpura-pura baik. Mau bagaimanapun juga, aku hanya menjalankan tugasku sebagai istri. Dan itu manusiawi."
Suaranya bergetar dengan kebencian mendalam pada Norman. Tetapi, meski dengan susah payah, ia tetap berusaha untuk menekan perasaan benci itu demi kemanusiaan.
Demikian pula halnya dengan Norman, dia pun tengah berusaha keras untuk menekan perasaan berdebar berlebihan yang baru dia dapatkan semalam, dan sekarang ia merasakannya kembali, saat kembali dekat dengan Marwah dan saat mendengar kata-kata Marwah barusan.
"Apa sih, pergi sana! Tidak usah sok perhatian. Jangan pikir dengan baik padaku, aku akan segan padamu! Maaf saja, uang jauh lebih berharga dan segala-galanya di banding kamu." Lanjut Norman dengan nada meninggi, seakan saat ini, hanya ialah satu-satunya manusia di muka bumi.
Marwah tetap menatap makhluk jahat bernama Norman itu tajam, lebih santai dari yang tadi. "Bicaralah," tuntutnya. "Bicaralah terus apa pun yang ada dalam pikiranmu, aku akan dengarkan. Tapi ingat saja, aku belum akan pergi sebelum memastikan kamu makan dengan baik dan minum obat teratur."
__ADS_1
Secepat kilat, Norman menghadapkan wajahnya ke arah Marwah yang sudah duduk di sampingnya, kemudian menatap perempuan itu dengan mata membulat, apakah ini artinya Marwah telah mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengannya? Tapi bukankah ini terlalu mendadak? Sebelumnya Marwah sibuk minta cerai dan selalu takut melihatnya, seakan-akan ikatan di antara mereka telah dirusak olehnya.
"Buka mulutmu," Kata Marwah, sambil menyuapkan satu sendok bubur. Tapi tak ada jawaban. "Kalau tidak mau buka mulut, aku tidak akan pernah pergi dari sini."
"Kamu mau melawan ku, sementara aku sudah berkali-kali beri kamu pelajaran. Kamu masih tidak takut juga? Dasar perempuan bod0h!"
Marwah menoleh sekilas, kemudian lanjut mengaduk-aduk bubur lagi di dalam mangkok. "Ayo buka mulut, kalau kamu cuma menyia-nyiakan waktu dengan bicara berulang, buburnya bakal dingin." tuntutnya lagi.
Norman mengedikkan tubuh, dan tanpa sengaja menunjukkan gejala salah tingkah saat melihat senyuman tipis di bibir Marwah, rasa berdebar itu lebih parah lagi, dan pasti sangat mengerikan, tapi dia tak akan mundur dari tugasnya hanya karena senyuman dan perbuatan baik ini. Ia sadar dan meyakini bahwa bisa saja ini semua bukan kehendak murni dari istrinya, melainkan bagian dari rencana jahat agar bisa bercerai dengannya. Tapi apakah memang benar demikian?
Kata-kata manis atau apa pun itu, Norman bersumpah, kiamat kedua tak akan pernah lagi terjadi padanya hanya karena perempuan.
"Sudah ku katakan, tidak usah berpura-pura baik denganku. Kalau aku mengobati kamu, itu ada alasannya, aku tidak bisa biarkan kamu mati demi uang. Tapi kamu, apa alasanmu untuk mengobati ku ha? Tidak ada!!" Lanjutnya marah-marah. "Jadi jangan pernah berpikir aku ini bod0h, aku tahu kamu itu sudah mulai bersiasat. Pergi sana! Keluar kamu dari kamarku."
Sambil mengepal tangannya, Marwah dengan jarinya yang kecil dan sedikit berisi, dia berkali-kali mengatur napas, sambil menatap dengan penuh kejengkelan. "Kamu memang keterlaluan. Aku juga sudah katakan dari tadi, aku memang benci melihatmu, aku marah, aku sakit hati. Tapi, saat ini aku masih sah menjadi istrimu, jadi ini adalah bagian dari kewajibanku. Lain halnya kalau kamu tidak mau diurus, maka ceraikan aku dari sekarang!"
Norman langsung tertegun, terutama ketika Marwah mulai beranjak pergi meninggalkannya. Pikiran Norman mencoba untuk menggapai Marwah, lagi dan lagi, menuntut untuk tak menaruh simpati dan perhatian pada perempuan manapun di muka bumi ini. Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa tak rela jika istrinya itu pergi menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
Ingin sekali ia memanggil nama Marwah hanya sekedar untuk mengucapkan kata 'Maaf', tapi hatinya terlalu enggan, ia takut jika mengatakan itu, berarti ia sungguh terlihat membutuhkan Marwah berada di sampingnya.
Dan untuk pertama kalinya pula, setelah berpuluh-puluh tahun, Norman akhirnya merasa tak berdaya.
Lalu selang beberapa menit kemudian, saat ia masih sibuk meratapi tumpahan bubur. Sebuah panggilan telepon datang, membangunkannya dari lamunan. Dengan cepat Norman bergerak, meraih ponsel di dekat bantal.
"Halo!" Katanya tegas, setelah panggilan itu diangkat.
Lalu dia yang berada di tempat misterius, menjawab; "Bagaimana kabar dia? Masih aman kan?"
Oh, ini bukan hal yang tak biasa. Dilihat dari caranya bicara, ini adalah orang jahat yang menyuruh Norman untuk menghancurkan Marwah.
"Aman," Jawab Norman singkat. Tidak seperti biasanya.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus kurung perempuan itu, bila perlu aku ingin kamu sakiti dia lagi lebih parah! Mertuaku benar-benar gila saat ini, emosi nya makin tidak karuan, karena rumah tangga anaknya hancur berantakan. Kamu ngomong kalau istrimu itu pergi, dan baru kembali setelah 3 hari kamu pulang. Mertuaku marah besar, dia yakin perempuan itu adalah salah satu sebabnya. Kamu harus tanggung jawab b4jingan! Aku tidak mau tahu, kamu harus hancurkan perempuan itu, sakiti dia lebih parah, beri dia pelajaran, bila perlu pasung agar mertuaku bisa tenang! Dasar orang-orang miskin tukang buat masalah!"
Norman hanya diam tak menjawab apa pun. Apa maksud bos nya itu? bahkan setelah satu tahun bekerja untuk menjaga Marwah, ia sama sekali tak tahu tujuan bosnya yang sebenarnya. Hatinya entah mengapa tiba-tiba memiliki rasa iba, entah keputusan apa yang akan dia ambil. Norman mencoba tenang.
__ADS_1
"Ku tunggu satu jam dari sekarang, dokumentasi apa pun aku butuh itu sebagai bukti agar mertuaku tenang. Benar-benar menyusahkan! kalian berdua itu sama-sama cocok, orang miskin yang menyusahkan. Hidup seperti benalu, sampah! Lain kali jaga istrimu, kamu kehilangan dia beberapa bulan saja, rencana masa depan ibu mertuaku langsung hancur berantakan! Bereskan semua ini, aku tunggu."
Kepala Norman berdenyut dan pandangannya mengabur, warna-warni bercampur jadi satu. Suara bos nya itu memenuhi udara, menggelegar, dan melengking di rumah siput telinganya. Bayangan Marwah dan suara lembutnya tiba-tiba hadir membaur menjadi satu raungan keras yang semakin besar tiap detiknya saat Norman menghantam tiap sudut tubuhnya. Membuncah, meluap, keadaan di sekeliling Norman tiba-tiba menjadi perjalanan yang penuh penyesalan dan amarah.