
Rambo mengecap liurnya, tatapannya mematung sesaat begitu mendengar kata tentang 'mendiang bapaknya'. Masih sangat sakral bagi Rambo untuk mengingat sesuatu persoalan wasiat dari orang yang telah meninggal dunia.
Rambo mengangkat bahu, gerakan lamban bahunya membuat otot-otot dada pria gondrong itu bergerak sedemikian rupa hingga membuat bibir Erin mengering.
"Ya, memang harus ada yang diluruskan sebelum ini." Kata Rambo, kini dengan ekspresi dingin yang menekan. "Tapi bukan aku lagi yang harus menjelaskan, sebab kalian tak akan ada yang percaya bila aku yang menyampaikan. Seharusnya Erin lah yang menceritakan permasalahan ini pada kalian semua."
Tatapan dingin dan tajam itu, membuat Erin terpaku seakan membuatnya hilang kesadaran.
"Kamu tahu letak salahmu kan rin, karena itu kamu meminta maaf padaku. Kamu mengatakan akan berubah dan memperbaiki kesalahan, kan? Kalau begitu katakan kesalahan apa yang akan kamu perbaiki, jika memang kamu menyadarinya." Kata Rambo kembali.
Wibawa Rambo itu, tak jemu membuat Erin menganga. Sungguh, bahkan ketika Erin sedang ketakutan dengan kata dan ekspresi rambo, pria itu bisa terlihat begitu mempesona, mungkin sejak Erin menyadari bahwa ia telah jatuh cinta.
Sejenak Erin berpikir, mungkinkah maksud pertanyaan suaminya itu adalah sebagai pintu kesempatan kedua baginya.
"Kalau ku katakan, kamu akan memaafkan aku?" Jawabnya dengan pertanyaan balik.
"Tentu saja." Jawab Rambo.
Senyum Erin langsung merekah, seperti yang ia duga Rambo masih ingin hidup bersama dengannya. Ia tahu suaminya itu memang marah, tapi Erin juga yakin, Rambo tak mungkin mau kehilangan perempuan sepertinya, dekat dengan kata perempuan ideal.
"Maaf Mas, ini semua memang kesalahanku." Ucap Erin berkaca-kaca. "Ma, Pa, dan Ibu, sebenarnya yang dikatakan Mas Rambo itu benar. Aku lah yang salah sampai membuatnya tak nyaman. Mas Rambo sering memintaku untuk melayaninya, seperti buat kopi atau panaskan air untuknya mandi, Tapi aku menolak. Malah aku yang sering suruh dia yang melakukan itu untukku. saat Mas Rambo pulang kerja, aku tak pernah menyambutnya pulang, aku pilih tidur karena besok harus berangkat kerja. Sebelum berangkat kerja, Mas juga selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti masak, cuci piring, menyapu, mengepel. Semua itu, karena aku malas untuk melakukannya. Aku tidak terbiasa melakukan pekerjaan semacam itu----"
Sebelum melanjutkan penjelasannya, ditatapnya dulu wajah orang-orang yang ada didekatnya. Mama, Papa, Ibu Amy, juga Rambo suaminya.
"Setiap pagi Mas dan aku buat sarapan masing-masing, aku cuma buat sarapan untuk diriku sendiri, sedangkan Mas minum susu kaleng dingin di kulkas. Aku juga selalu suruh Mas untuk bereskan tempat tidur. Mas Rambo bukan tak pernah membimbingku Pa, Ma. Tapi, aku selalu melawan jika Mas mengajari aku. Dan terakhir... Kesalahanku yang membuat Mas marah lagi karena kemarin lusa waktu ada rekan Mas Rambo menginap, aku suruh-suruh dia di depan teman-temannya. Aku suruh Mas panaskan air untuk aku cuci muka, aku suruh Mas bereskan kamar untuk tamu, aku suruh Mas beres-beres rumah. Karena semua itu, Mas merasa rendah dan malu, merasa tak ku hargai----Dan----"
__ADS_1
"Cukup Rin!" Sela Papa Hendro dengan nada tegas. Auranya tajam ala-ala bapak-bapak kumisan. "Tidak usah kamu jelaskan, kita pulang sekarang."
"Tidak mau Pa! Belum selesai."
"Sudah cukup! Papa malu dengarnya!"
Erin menghela napas, mengembusnya, dan melontarkan kata di telinga Papa Hendro, "Papa akan lebih malu kalau anaknya menjadi janda." Erin berbisik, sangat mengusik.
Sementara Rambo masih berdiri sambil mengernyitkan dahi dan berjalan ke depan mendekati Erin. Langkah pria itu panjang, dan gerakannya sangat tenang. Rambo memancarkan aura berbahaya. Aura tersebut berdenyut di sekeliling bagaikan sinyal peringatan, namun, itu tidak menjadikan Erin merasa takut terhadapnya.
Rambo berhenti di depan Erin dan mengulurkan tangan. Dan tanpa ragu-ragu Erin membalas dengan menjabat tangan suaminya.
"Mas---"
Tatapan Erin menjadi beku, "Maksud kamu apa Mas?" Tanyanya pada Rambo terbata-bata.
Rambo tersenyum tipis, kemudian menjawab. "Aku juga minta maaf untuk semua kesalahanku padamu, Rin. Aku minta maaf harus melepaskan kamu sekarang. Di ujung waktu nanti, mari bertemu lagi di kebahagiaan kita masing-masing."
"Maksudnya kamu masih mau ceraikan aku?"
"Iya." Jawab Rambo singkat.
Hancur hati Erin, pecah bersama dengan air matanya. Suara rendah Rambo yang bak gemuruh menari-nari di ujung saraf Erin bagaikan jalinan kawat yang hidup menyala-nyala. Harapan yang tadi ada dalam bayangannya, hilang dan sirna sudah. Namun Erin masih belum ingin menyerah, masih ingin mencoba dan berusaha sebelum status janda itu disandangnya.
Dia kembali memohon dengan berusaha menggapai Rambo, jabatan tangan mereka tadi dengan keras ditahan oleh Erin agar jangan lepas.
__ADS_1
"Aku sudah menuruti semua yang kamu inginkan Mas, kamu tadi janji akan maafkan aku, kalau menceritakan semuanya. Tapi kenapa masih mau tinggalkan aku?!"
"Aku mengatakan akan memaafkan bukan membatalkan perceraian Rin."
Erin menggeleng, isyarat bahwa ia tak setuju dengan yang dikatakan Rambo barusan. "Tapi aku tidak mau cerai Mas----"
Rambo hanya diam tak menjawab apa pun lagi.
Karena sudah mendengar pernyataan dan penjelasan dari anak dan mantunya itu, Papa Hendro juga Mama Santi, memutuskan untuk segera membawa Erin pergi dari rumah. Menjaga harga diri putri semata wayang mereka, bukanlah hal yang sulit. Baik Papa atau Mama Erin itu, mereka teramat menyayangi Erin, kesalahan apa pun yang diperbuat seharusnya masih ada pintu maaf dan perpisahan bukanlah solusi.
Sebagai pasangan yang telah lebih dulu mengarungi bahtera rumah tangga, bagi mereka, Rambo terlalu dini mengambil keputusan. Hingga suatu saat, masih terdapat kemungkinan akan adanya penyesalan kedepannya. Namun, jika saat itu nanti tiba, semua telah terlambat; Papa Hendro telah murka. Rambo bukan hanya menyakitkan hati anaknya, tapi juga telah menghancurkan asa nya sekeluarga.
"Kita pulang, nak. Jangan jatuhkan harga dirimu untuk memohon pada lelaki tak tahu diri." Ujar Santi, mama Erin.
"Lepaskan tanganmu pada lelaki ini Rin! Putri Papa terlalu berharga untuk rendah seperti ini."
Mereka terus menarik, ikatan yang digenggam Erin kuat-kuat saat ia dan Rambo saling menjabat tangan tadi. Dia menjerit, menangis berharap agar tak ada yang mampu memisahkan ia dari Rambo. Namun, hanya dia yang berjuang untuk itu....
Ibu Amy yang dari tadi kacau dan hanya diam terpaku, akhirnya kembali bersuara dengan mengatakan, "Hendro---tunggu dulu, aku sudah mengatakan kita sebagai orang tua jangan dulu ikut emosi, kita bantu tenangkan anak-anak---"
"Cukup Mbak!" Timpal Papa Hendro. "Putri saya masih punya harga diri, dan sudah jadi tugas saya sebagai ayahnya untuk melindungi dia. Kalau suaminya sudah mencampakkannya, untuk apa lagi saya diam?"
Semua hening, hanya Erin yang tetap menangis.
Papa Hendro melirik pada lelaki gondrong yang bakal jadi mantan menantunya itu. "Apa pun yang terjadi di antara kalian. Suatu saat kamu pasti akan menyesali keputusanmu sekarang... "
__ADS_1