Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 44 - Rahasia Di balik Pernikahan Marwah


__ADS_3

"Duit?"


"Aku dikasih duit oleh orang, selama ada kamu." Sahut Norman, suaranya lebih pelan tapi ekspresinya tetap senang. Selama setahun dia bersembunyi, dan menyembunyikan ini dari Marwah. "Kamu tidak tahu kenapa bisa aku dapat duit dari orang lain, lewat kamu?"


"Tidak." Marwah menggeleng dan menggosok mata. Seakan-akan tindakan itu sanggup memperjelas penglihatannya pada sosok Norman. "Maksud kamu apa Pak? Orang lain beri kamu uang dengan menyakiti aku?"


Ketika Marwah kembali bangkit dan memandang Norman lagi, Marwah berani bersumpah bahwa bahkan untuk sesaat, mata suaminya itu memancarkan isyarat aneh dan menyala-nyala seperti yang dilihatnya seperti dulu. Tapi kemudian pancaran tatapan itu menghilang dan kembali gelap, sulit untuk diterka.


"Kenapa? Kamu merasa cemas?"


"Jelas Pak." Marwah gemetar lagi. "Aku tak memiliki kesalahan apa pun dengan orang lain, tapi kenapa ada yang ingin melihatku menderita. Membuatku tinggal dan hidup di neraka bersama suami kasar seperti kamu. Aku bahkan tidak kenal kamu, tapi kenapa kamu sampai tega merusak hidup orang lain cuma karena uang?"


"Jangankan itu, bunuh orang lain pun aku bisa. Kalau semua dapat duit, apalagi nominalnya besar. Kenapa tidak? Aku ini preman, kamu jangan lupa." Kata Norman. "Karena itu, selama aku tetap dibayar, kamu akan tetap tinggal di sini, di rumah ini."


"Tidak." Air mata kembali membanjiri pipi Marwah seperti gelombang ombak yang begitu besar dan cepat, sehingga ia hampir tak sanggup bernapas. Marwah tak tahu apa yang akan ia lakukan, jika selamanya harus menunduk di rumah ini sampai orang jahat yang menyuruh Norman itu berhenti. Ia tak akan rela selama itu hidup dalam penjara ini, dan Norman yang akan terus menyiksanya sampai M4ti.


"Aku tidak kenal kamu, aku tidak pernah mencintai kamu. Bahkan setelah satu tahun menikah, bahkan jika aku sungguh telah kotor karena perbuatanmu. Aku ingin pisah, aku kembali ke sini hanya untuk bercerai dengan kamu Pak," tambah Marwah. Raut wajahnya tegas, matanya menyipit menjadi segaris. "Aku tidak mau ditipu, aku tidak mau jadi korban, dari orang-orang tidak jelas seperti kamu atau orang yang menyuruh kamu itu. Jika aku tahu bahwa kau ternyata sengaja melakukan semua ini.... Menyiksaku karena suruhan orang lain... "


Marwah mengangkat dagu dan memandang Norman tajam. "Tak akan, aku tak akan pernah mau dinikahi oleh pria seperti kamu. Walaupun aku harus mengandung anak sendirian. Lebih baik hidup begitu... "


"Kamu pikir aku peduli?" Kata Norman sambil mendengus, kemudian mengangkat rokok dari saku belakang celananya. "Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi, apalagi cerai. Sudah ku katakan kalau kamu itu ladang duit, mana ada orang mau melepas begitu saja?"

__ADS_1


"Tidak bisa!!!!!" Marwah berteriak sambil menarik kaus Norman mendekat. Matanya tajam meski berderai air mata. "Aku bukan boneka yang bisa dihancurkan semau kalian. Aku ini manusia, aku punya harkat dan martabat! Aku juga punya hak untuk hidup!"


Untuk pertama kalinya keberanian Marwah untuk melawan telah kembali, nadanya tinggi, bahkan tangannya berani untuk menarik dan meregangkan kaus Norman, hingga badan suaminya itu berulang kali terhempas ke depan dan belakang.


"Cukup woi!" Norman kembali kehilangan sisi sabarnya, tangannya yang ringan begitu mudah melayangkan satu tamparan di pipi Marwah. "Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, selagi aku masih mendapatkan uang dari orang itu. Kamu akan tetap tinggal di sini! Dan akan ku lakukan apa yang diperintahkan dia padamu!"


Namun Marwah tak berhenti, meski sudah mendapatkan kekerasan lagi. Dia kembali menatap Norman, "Kalau begitu katakan siapa orang yang suruh kamu?!"


Nada tinggi tak gentar itu, memberikan Marwah ketegasan, menunjukkan sisi lelahnya selama ini. Marwah terus memberontak, berteriak di depan wajah Norman, suaminya.


"Dengar ya," Kata Norman dengan wajah santai tanpa rasa bersalah. "Kamu mau berteriak seperti apa pun tak akan pernah membuatku takut. Kamu mau tahu siapa dalangnya? Itu urusan kamu, cari tahulah sendiri. Aku tidak akan bicara, mulutku terkunci." Lanjutnya, bersamaan dengan jempol yang bergerak dari tepi bibir ke ujungnya. Persis seperti resleting pakaian yang ditutup rapat.


Demi Tuhan, dengan semua itu, Marwah menaruh dendam dan sakit hati mendalam pada orang yang sudah memerintah Norman.


"Tapi, tenang saja ada pengecualian," Norman tersenyum dingin seperti seorang psikopat. "Kalau kamu bisa kasih uang yang lebih besar dari orang itu, aku bisa buka mulut."


"Aku tidak akan pernah berikan sepeser uang pun lagi untuk kamu. Aku tetap akan pisah, aku minta pisah!!!"


"Haarrgghh!!" pekik Norman, dia sampai menghempas tangan di depan Marwah. "Kamu seperti lupa siapa suami mu ini!"


Norman kembali menghantam Marwah, lebih keras dan lebih kejam. Marwah ditampar sampai tersungkur di ubin kamar mandi.

__ADS_1


Semua yang ada di dekat situ, di tendang oleh Norman yang kalap emosi. Bahkan badan Marwah sendiri, sampai semua barang yang ada di saku pakaiannya terlempar keluar. Tak ada belas kasih sedikitpun dari Norman yang kejam, Marwah ditendang, dipukul, bahkan diinjak sejenak oleh suaminya sendiri.


"Aku kan sudah bilang! Kamu tetap akan tinggal di sini. Persetan kamu mau ngomong pisah lain-lain, susah sekali mengajari perempuan jalanan seperti kamu! Otaknya dangkal. Jadi istri saja susah sekali diatur."


Kata-kata Norman itu tak sampai di gendang telinga Marwah, semua mendengung dan pandangan Marwah mulai mengabur. Namun tangannya tak berhenti untuk membantunya pergi, melambai-lambai pada benda kecil di depannya. Handphone jadul yang terhempas di dekat ember. Marwah menginginkan benda itu.


Tolong, beri aku kekuatan sedikit saja. Tolong aku, aku ingin menelpon Om gondrong. Om, aku kesakitan, sakit Om. Tolong aku... Beri aku kekuatan sedikit saja, jarak ini dekat tidak sejauh harapan ku dulu sebelum kembali bertemu dengan dia. Karena itu, tolong aku... Gumam Marwah dalam hati.


Namun Norman pun tak gentar, semakin Marwah berusaha bergerak maju dengan tangan, dia semakin senang. Semakin dia merasa menang.


"Sakit kan rasanya?! Kamu kesakitan kan?! Makanya nurut!!! Marwah!!!!" Norman kembali berteriak, memukul-mukul dinding kamar mandi, sementara kakinya menghentak-hentak ubin dengan keras. Dia mulai kehilangan kendali.


Tolong beri aku kekuatan, aku harus telepon Om Gondrong... tolong Om... aku kesakitan. Kata Marwah lagi, di dalam hati.


...****************...


Halo semuanya... author Sanskeh di sini 🙋


Sudah dalam perjalanan menuju bab 50, ga kerasa ya! Terima kasih untuk dukungan kalian!!! author sayang kalian banyak-banyak.. Terima kasih sudah menemani author membesarkan anak-anak di sini, Dari kak anta, sampai Om gondrong, bahkan mungkin yang sudah ada dari anak author yang lain... Terima kasih banyak (´∩`。) mohon dukungannya terus!


Sukses selalu ya sayang, semoga kalian selalu diberikan kesehatan, dan kemudahan. Tetap sama kami ya! author sayang kalian (*´︶`*)ฅ♡

__ADS_1


__ADS_2