Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 56 - Komitmen Pada Marwah


__ADS_3

"Aku akan menyelesaikan ini secara terbuka denganmu Mas, tidak perduli siapa pun kamu, mau kakak ipar, mau keluarga, ini sudah keterlaluan aku akan mengurus mu!" Rambo berjanji. Dan dengan janji tersebut, janji lain muncul di benaknya. Janji ini ia ucapkan tanpa suara, dan ia bersumpah untuk memenuhinya demi semua kesucian dan yang dianggapnya patut. Ia akan menemukan semua pihak yang bertanggungjawab pada kemalangan yang menimpa Marwah. Dan setelah menemukan mereka, Rambo tak akan pernah mundur dari rencana.


Bagi Rambo, satu-satunya tekad hidup yang bisa ia terima dari sang ayah, yaitu menjadi laki-laki yang bisa dipegang janjinya, yang bisa dijaga komitmennya bukan cuma dipegang badannya. Sehingga bagi Rambo, siapa pun itu, tak akan pernah menjadi penghalang yang membuatnya berhenti untuk mencintai Marwah. Dia sudah berkomitmen untuk itu.


Rambo menaiki mobilnya kembali, dan memacu kuda besi hitamnya itu dengan cepat, seirama dengan denyut amarahnya yang dahsyat.


Begitu sampai di rumah Ibu Amy, Ibu kandungnya. Dia langsung menaiki dua anak tangga sekaligus dari teras rumah. Bunyi langkah kakinya begitu masuk ke dalam rumah bergaung bagaikan jantung yang berdetak tak menentu. Rambo melangkah ke ruang makan keluarga di dekat kolam renang dan mendapati semua penghuni rumah berada di sana untuk makan malam.


Mata Rambo yang sudah panas makin memerah saat melihat wajah Mas Erwin makan tanpa beban, seakan tak ada dosa sedikitpun atas apa yang telah ia lakukan pada Marwah. Sehingga tanpa basa-basi Rambo melangkah cepat ke meja makan, dan memberikan satu pukulan kasar pada kakak iparnya.


"Rambo?!" Ibu Amy memekik seraya berdiri dari kursi.


Semua orang terkejut dan semua mata mengarah pada Rambo saat Mas Erwin tersungkur setelah mendapat hadiah sadis dari adik iparnya sendiri.


"Rambo! Apa yang kamu lakukan? Kamu gila ya? Datang-datang langsung tinju orang, ini Mas kamu!" Kata dokter Rani, kemudian menunduk dan menggaet tangan suaminya untuk membantu laki-laki itu berdiri. "Kamu tidak apa-apa Mas? Ayo aku bantu kamu berdiri."


Suara Dokter Rani yang lembut dan heran membangunkan Mas Erwin, ketika Mas Erwin berdiri sempurna dia memandang Rambo datar, "Kamu kenapa tiba-tiba pukul Mas begini?" ujarnya.


Tatapan Rambo tajam seketika, dia langsung meraih kerah kaus Kakak Iparnya erat-erat, tangannya yang satu mulai bersiap ambil ancang-ancang untuk kembali memukul dengan kuat dan kasar.

__ADS_1


"Kamu bertanya kenapa?" Kata Rambo mengamuk. "Aku sangat menghormati kamu, karena kamu adalah suami kakak kandungku. Tapi, bila menyangkut Marwah, jangankan kamu Mas, nenek moyang ku pun bakal ku lawan habis-habisan!!"


Dan seketika itu pula, bersamaan dengan kata-katanya itu, satu tamparan panas melayang dari ibu Amy untuk pipi Rambo. "Jaga mulutmu, anak durhaka!"


"Menyangkut Marwah? Apa maksudnya Rambo?!" Sela dokter Rani. Kemudian menoleh, beralih pandangan pada suaminya sendiri. "Mas?"


Namun Mas Erwin, suaminya itu masih memasang raut bingung seakan semua ini terlalu mendadak terjadi atau memang seharusnya ini tak pernah terjadi.


Rambo tak ingin kehilangan tempo, emosinya semakin meluap bagai guncangan lava gunung merapi yang siap meletus. Dengan cepat dan tak teraih, Rambo meraih kembali baju Mas Erwin sehingga mereka bertatapan dalam jarak paling dekat.


"Kenapa Mas? Kenapa kamu bisa sekeji itu pada Marwah, salah apa dia padamu?! Jangan pernah berpikir aku bisa menerima dan memaklumi perbuatanmu ke Marwah. Kenapa kamu menawan perempuan tak berdaya itu dengan laki-laki psikopat?! Jawab Mas Jawab!"


"Rama Bobby Suhendra." Nama Rambo terdengar seperti seruan peringatan dari ibu kandungnya di sebelah. "Datang ke rumah ini membawa keributan dan bicara tidak jelas. Gila kamu ya? Stop bertingkah bodoh seperti ini! Apakah di tempatmu bekerja kamu diajari jadi preman?"


Rambo menutup mata. "Kenapa ibu selalu bawa-bawa pekerjaanku?" Katanya, kemudian membuka mata. "Kalau bicara soal preman, seharusnya Mas Erwin lah yang patut ditanyakan soal itu. Aku butuh banyak penjelasan darimu Mas, kenapa kamu minta preman untuk perkosa Marwah agar bisa menikahinya? Suruh preman itu untuk menjaga Marwah tidak keluar dari kampung sempit itu? Biar apa Mas? Biar dia tidak bisa bertemu aku, atau aku tidak bisa menemukan dia? Begitukah tujuanmu Mas?!"


Bayangan-bayangan merayapi ruangan terbuka tersebut, disinari cahaya rembulan yang keperakan dan pucat. Rambut hitam gelap Rambo berkilau pekat, mempertegas pandangan matanya yang tajam.


Dokter Rani seketika tertegun, melihat pertanyaan Rambo yang mengejutkan. Kulit lembutnya yang sehalus porselen memantul indah di air kolam, matanya yang bulat bening memancarkan luka dan kebingungan.

__ADS_1


Dan ia menyentuh lengan suaminya, dengan gemetar. "Yang dikatakan Rambo itu, apa maksudnya Mas?" tanyanya. "Kamu pakai preman untuk mendekam Marwah? Kamu kenal Marwah? Kamu tahu Marwah itu yang mana?"


"Sa-sayang Mas tidak tahu, Mas tidak mengerti apa yang dikatakan Rambo."


Rambo menaikkan kepalan tangannya, dan melayangkan lagi satu pukulan di wajah Mas Erwin selagi menuntut kakak iparnya itu.


"Mas! Sampai kapan kamu mau pura-pura bodoh! Kalau memang kamu lupa ingatan, biar ku bawa preman kampung yang kamu suruh itu ke sini! Biar dia sendiri yang tunjuk dan jelaskan siapa orang yang menyuruhnya."


"Rambo!" Pekik Ibu Amy dengan nada meninggi. "Kamu memang sudah gila! Mengganggu ketentraman di rumah. Apa masalahmu dengan perempuan bernama Marwah?! kalaupun dia hidup dengan preman, itu bukan salah Mas mu. Dia hidup di jalanan, miskin. Wajar kalau menikah dengan preman kampung, mereka sederajat. Apa urusan kamu dengan istri orang? urus dirimu sendiri dulu, toh kemarin dikasih pasangan sempurna malah koar-koar bilang tidak diurusi dengan benar. Tapi rupanya kamu yang sibuk mengurusi rumah tangga orang lain."


Ibu Amy mendongak, tatapannya menghujam tatapan Rambo, dan perempuan tua itu merasakan hasrat emosi yang begitu murni, begitu kuat, sehingga dadanya panas untuk menuntut Rambo. "Oh, atau jangan-jangan kamu cerai dari Erin itu bukan karena masalah dari Erin. Tapi kamu sudah berselingkuh dengan perempuan jalanan itu?"


"Bu! tidak usah bawa-bawa masa lalu. Lagi pula berhenti sebut Marwah perempuan jalanan!" Sela Rambo, membela diri.


"Masa mu dengan perempuan jalanan itu sudah berakhir, Ibu sudah kasih 5 tahun untuk kamu tunggu dia. Dan sekarang masih tidak cukup?! Berhenti bahas perempuan miskin itu di sini, tidak pantas dia berharap jadi bagian keluarga kita yang terhormat."


"Aku tidak bahas ataupun menyinggung tentang bagian keluarga bu, tapi kenapa ibu bahas Marwah jadi menantu?" Rambo menyeringai seakan ia telah menemukan celah yang seharusnya belum, atau bahkan tidak ia cari. "Atau jangan-jangan ini alasan kenapa Mas Erwin minta Norman untuk menikahi dan menyekap Marwah? Biar dia tidak bertemu denganku lalu kami menjalin hubungan? Menghalangi pertemuan kami, agar aku tidak menikah dengannya?"


Rambo menundukkan kepala sambil tertawa pendek. "Sepertinya aku tahu siapa orang yang dimaksud Norman, orang yang mendalangi ini semua----Ibu kan?" Kata Rambo sambil melirik ibunya dingin.

__ADS_1


__ADS_2