Belenggu Hati Pak Polisi

Belenggu Hati Pak Polisi
BAB 84 - Semua Kenangan Kembali


__ADS_3

Kamu adalah hidup Mama, Rambo berbisik dari kaca ruangan. Hadiah cinta mamamu adalah berkah terindah yang pernah ku dapat.


Dia, pria gondrong yang bertindak semaunya itu, tidak pulang dari kemarin, dia dengan setia menunggu istrinya sadar dan Terkadang dia pergi ke ruang bayi, melihat malaikat kecilnya di ruang inkubator.


Dia terlihat lusuh, dan sangat berantakan. Satu hari menjadi ayah, Rambo berdiri pasrah di depan ruang bayi, mata gelapnya tak jemu hanya menatap sedih di satu titik; inkubator.


Ibu Amy yang baru datang kembali setelah mendonorkan darah kemarin; berjalan mendekat, dan mendaratkan satu usapan selembut mimpi di punggung Rambo. Secara kasat mata, ia turut sedih melihat kesuraman hidup anak lelakinya ini.


Sayup-sayup terdengar suara lemah Rambo mengajak putra kecilnya bicara, percakapan menyedihkan itu benar-benar membangkitkan sisi kemanusiaan sang ibu.


"Sayang, mama masih belum sadar, kamu harus cepat sembuh ya, supaya saat mama bangun dia bisa gendong kamu." katanya.


Ibu Amy tersenyum dan semua kehidupan dan cahaya di dunia terpantul dalam senyuman yang kembali tergores sejak beberapa tahun terakhir. Rambo merengkuh ibunya, tak sanggup menahan diri untuk tidak merasakan perasaan harus ini.


"Bu... "


"Kamu baik baik saja?" Bu Amy bertanya selagi menepuk bahunya. Sementara Rambo kemudian merespon lemas.


"Yah, aku hanya berusaha baik baik saja."


"Ya, begitu memang lebih baik," Ibu Amy menjawab singkat seraya memutar badan ke arah kaca ruangan menatap cucunya di inkubator. "Kalau melihat anakmu di situ, jadi teringat kamu waktu lahir dulu. Kejadiannya sama, cuma tidak separah Marwah."


"Terima kasih ibu mau membantu Marwah kemarin," Rambo menyela sambil mendesah lelah. "Berkat Ibu Marwah bisa mendapat pertolongan segera pasca operasi."


"Dia pantas mendapatkannya." Kata Bu Amy mendengus.


Keadaan sempat hening sejenak, tapi tidak menjadi canggung. Hanya Ibu Amy berusaha mencari keyakinan untuk berkata, sesuatu yang nampaknya amat berat.

__ADS_1


"Setelah Marwah sadar dan sehat, Ibu mau bicara dengannya."


"Bicara apa?" Rambo menoleh ke samping sambil mengernyit. "Ibu tidak bermaksud lain kan dengan bantuan kemarin? Maaf Bu, biarpun ibu adalah ibu kandungku tapi aku tidak akan biarkan keluarga kami direcok lagi, tidak akan ku biarkan ibu menyentuh Marwah atau anak ku. Masalahku sudah terlalu banyak bu, apa masih tidak cukup untuk ibu?"


"Bukan itu, ibu tak ada maksud apa pun selain untuk menyelamatkan menantu ibu."


"Katakan padaku kalau begitu," tuntut Rambo. "Apa yang ingin ibu katakan pada istriku?"


"Kemarin, saat mendonorkan darah; Rani sudah menceritakan semua pada ibu kalau istrimu sebelum operasi menitipkan pesan. Dia, sudah tahu semuanya, dia sudah tahu kalau Erwin yang menyuruh Preman itu. Tapi dia... mengatakan; sudah memaafkan semuanya. Dia ingin kita semua kembali rukun dan bersama-sama merawat anak kalian." Ibu Amy terdiam seakan berusaha memusatkan pikiran.


Rambo mematung seketika. Darahnya membeku, melambatkan kerja jantungnya. Andrea Amyta adalah ibunya, ibu kandung yang telah menyakiti istrinya. Wanita yang paling menentang tegas hubungan mereka dan bahkan berani menyusun rencana paling jahat yang tak pernah terbayangkan oleh Rambo.


Namun, Marwah; istri yang teramat ia cintai, telah mengetahui semua hal yang dirahasiakan Rambo itu tanpa terduga. Bahkan tanpa ia sadari, istrinya masih tetap bersikap yang sama. Seakan-akan tak pernah ada kesalahan yang berarti, seolah-olah semua kejahatan yang ia terima bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan.


"Ibu tidak tahu, hati macam apa yang dimiliki istrimu itu. Sekarang ibu paham, mengapa kamu bersikeras untuk menikahi dia." Ibu Amy meneruskan dengan lembut, "Karena itu, izinkan Ibu untuk bicara dan meminta maaf dengannya langsung, setelah itu Ibu akan menebus semuanya, Ibu akan menebus dosa itu di penjara."


"Kenapa Mbak Rani tidak mengatakannya langsung padaku?" Tukas Rambo seketika. "Istriku bukan orang pendendam bu, itu lah mengapa aku mencintainya... Soal ini, hanya Marwah yang bisa mengambil keputusan."


"Di balik kejadian ini, sekarang ibu sudah menyadari seperti apa perempuan yang paling ibu tentang dulu. Dia itu jauh lebih sempurna dari tipe perempuan yang ibu harapkan. Cantika Marwah, semoga Tuhan memberinya kesehatan segera."


"Saat pertama kali menemui dia dulu, Ibu tidak menyangka dia bisa mengambil perhatian ibu dengan satu kata dan satu sikap. Saat itu dia berkata; 'Aku senang bertemu dengan ibu' setelah apa yang ibu katakan padanya."


Menemui dia. Kata itu menimbulkan kegaduhan di otak Rambo. Sambil berusaha menjaga wajahnya tetap intens berhadapan dengan sang ibu.


"Benarkah? Kapan ibu bertemu dia?"


"Waktu kamu meminta izin menikah, Ibu langsung menemui dia saat kamu berangkat kerja. Ibu minta dia meninggalkan kamu, menyogoknya dengan berlian dan uang tapi ditolak." Jawab bu Amy sambil tertawa pendek.

__ADS_1


"Lalu apa yang dia katakan?" tanya Rambo.


"Dia menolak mentah-mentah, bahkan di saat ibu telah menghinanya ke dalam-dalam. Dia masih tersenyum untuk ibu."


"Sekarang bagaimana penilaian Ibu terhadap perempuan yang sudah ibu nistakan?"


"Ibu akan menebusnya di penjara." Suara bu Amy pelan namun sangat menggema di kepala Rambo. "Walau itu tidak cukup untuk menebus kesalahan yang Ibu lakukan."


Rambo menggeleng. Sebaliknya ia merasa itu seperti tugas yang luar biasa besarnya.


"Sekali lagi terima kasih bu, sudah membantu Marwah. Mendonorkan darah di usia ibu yang sekarang," Rambo memeluk ibunya erat. Sentuhan yang sempat hilang beberapa waktu, dan kehangatan itu kembali hadir.


Ibu Amy memejamkan mata, meresap kata-kata anak lelakinya itu dalam-dalam, dan semakin mempererat pelukannya. Ia merindukan kekuatan dan kehangatan Rambo, lebih dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.


"Ibu minta maaf untuk semuanya."


Deru langkah ribut datang mendekat, mencuri perhatian Rambo dan ibunya. Mang Abu menyusuri koridor rumah sakit yang panjang, sampai akhirnya bertemu dengan Rambo. "Tuan, nyonya..." suara Mang Abu bergetar, di balik napasnya yang tersengal.


Saraf kepala Rambo langsung menegang, melihat wajah Mang Abu. Sehingga tanpa kata, Ia berlari meninggalkan semua, menyusuri koridor menuju ruangan Istrinya.


"Marwah.... "


"Aku datang, aku ke sana... "


"Kamu baik-baik saja kan, Marwah?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2