
Sudah genap satu minggu Ibu Amy mengurung diri di rumah semenjak putusan sidang perceraian antara Rambo dan Erin dibacakan. Sepanjang tujuh hari itu tidak ada segores senyum-pun di wajah tuanya yang mulai keriput.
Makanan yang dimasak hampir tak disentuhnya, kecuali barang satu dua suapan saja, itupun karena paksaan dari dokter Rani, anak pertamanya. Beberapa teman dan rekan kerja menghubungi menanyakan kabarnya dan dari balik pintu kamarnya baik siapa pun di rumah itu, termasuk Rambo sendiri bisa mendengar suara jawaban Ibu Amy, sedang kurang enak badan.
"Bu..tadi Tante Maya telepon, menanyakan apakah Ibu sudah sehat dan apakah besok Ibu jadi ikut acara rapat bulanan di kantor." Kata Rambo perlahan sambil merapikan pakaian dalam koper kepada Ibunya yang sedang duduk di sofa, memandang kosong pada halaman luar.
Tapi Ibu Amy diam saja. Siapapun termasuk Rambo sendiri yakin suaranya lebih keras daripada suara riang-riang di halaman luar itu dan semua orang juga tahu Ibu Amy sebetulnya mendengar, hanya memilih untuk mengabaikan Rambo.
"Bu… " Kata Rambo sekali lagi.
"Tidak. Ibu tidak mau ikut. Ibu malu. Mau ditaruh di mana muka Ibu Rambo?" jawab Ibu Amy ketus meski dengan nada penuh keputusasaan.
Rambo terdiam. Rambo tahu betul apa yang dimaksudkan oleh ibunya, sudah berulang kali Ibu Amy mengatakan hal yang sama kepada Rambo dan Dokter Rani, malu. Semenjak perceraian yang terjadi antara Rambo dan mantan istrinya, Ibu Amy mulai menunjukkan sikap kekesalan, sampai dokter Rani mengabarkan dan meminta Rambo datang ke rumah mereka untuk menginap beberapa saat, tidak pernah sekalipun Ibu tidak mengatakan kata itu.
Ia merasa malu karena pernikahan anaknya kandas dan berakhir perceraian, bagi ibu Amy pernikahan itu adalah sesuatu yang mutlak untuk dijaga, sayangnya Rambo berkeras tidak mau menuruti kata-katanya untuk kembali kepada Erin. Ia malu akan dibicarakan oleh teman-teman, rekan kerja dan keluarganya tentang rumah tangga sang anak yang gagal, yang akan dianggap sebagai kegagalannya juga sebagai orang tua.
"Kamu dengar tidak Ibu ngomong apa?" tiba-tiba suara Ibu Amy meninggi. Membuat Rambo terkejut dan sadar dari lamunannya. "Malu, ibu ini malu tahu tidak. Nama mendiang Bapakmu akan tercoreng di keluarga! dan orang-orang dekat!"
"Bu, perceraianku sudah terjadi dan aku tidak menyesal! Erin itu tidak pintar urus rumah tangga, pikirannya cuma karir saja. Bahkan setelah pernikahan pun aku tak dibolehkan menyentuh dia sama sekali, jadi wajar saja dia ku ceraikan. Bu! Apalagi yang aku harapkan dari orang macam itu? Dia tidak pantas menjadi istri siapapun kalau masih ingin bermanja begitu!" kata Rambo frustasi, sama seperti ibunya, ia sudah menjelaskan hal ini berkali-kali.
"Istrimu begitu pasti ada sebabnya, Rambo! Kamu itu harusnya introspeksi diri kamu dulu. Kamu sudah melakukan yang terbaik belum sebagai suami? Mungkin gaji mu itu kurang makanya Erin masih kejar karir! Makanya ibu bilang kamu teruskan perusahaan bapakmu, biar makin sukses. Ini malah jadi polisi, waktu habis uang tipis. Istrimu jadi kurang perhatian."
"Bu!"
"Nah, dengan Ibu kandungmu sendiri saja kamu berani suara tinggi begitu, apalagi dengan istri kamu? Tidak heran kalau Erin sering nangis-nangis!"
__ADS_1
Rambo tidak sanggup menahan geram dan tangis yang berlomba ingin keluar dan segera kembali ke rumahnya sendiri. Jelas sakit sekali rasanya diperlakukan seperti seorang penjahat sementara orang yang seharusnya menjadi pembela dan mendukungnya di saat seperti ini, malah menuding bahwa semua yang terjadi adalah salah Rambo sendiri.
"Bu, anak Tante Maya kan juga bercerai sama suaminya."
"Iya tapi itu pantas karena suaminya kurang ajar, sudah berapa kali selingkuh, kalau ketahuan malah main pukul. Wajar kalau dia minta cerai. Dan lagi, dimana-mana seharusnya istri yang mengajukan cerai secara sukarela, kan istri itu adalah korban, dia diambil tanggung jawab oleh seorang pria, tapi kalau pria itu tidak bisa bertanggung jawab? Masa suami yang minta cerai. Aneh! Yang pelaku berasa korban, yang korban dijadikan pelaku."
"Bu, aku ini anak ibu. Kenapa tidak bisa paham rasanya jadi aku?"
"Orang tua itu tidak mandang mana anak mana bukan, kalau anaknya salah, ya harus diberi tahu. Mau jadi apa laki-laki kalau dikit-dikit dibela? Atasanmu juga tidak punya akal, main gampang saja kasih surat mengajukan perceraian. Mentang-mentang sahabatan, sahabat apa yang merusak keluarga seperti itu." Suara Ibu Amy cukup keras, sehingga membuat kondisi sekitar mereka jadi memanas.
"Tidak ada hubungannya dengan Anta Reza, Bu. Ini keinginanku sendiri. Justru dia begitu sangat menolong keadaanku."
"Menolong kamu? Memangnya kamu diapakan Erin? Kalau cuma tidak dilayani saja kan tidak apa-apa, biar kamu juga belajar jadi laki-laki yang baik! Erin begitu ya wajar, kamu jangan lupa kalau dia itu anak orang kaya, kamu lihat saja Mbak mu itu, dia juga tidak pintar masak dan beres-beres, toh suaminya ngerti. Karena Mbak mu itu dokter spesialis, pendidikan tinggi, lahir dari keluarga baik-baik, ekonomi juga kelas atas. Seharusnya kamu juga bisa mengerti seperti itu. Pakai pembantu makanya!" Ucap Ibu Amy lagi-lagi dengan nada super tinggi. "Kenapa? jadi polisi gajinya kecil kan? tidak mampu kamu bayar pembantu."
Rambo mengatur napas, mengatur kesabarannya sebelum menjawab lagi. "Memangnya Ibu mau kalau anak Ibu sendiri diinjak-injak istri dan tidak dihormati seumur hidupnya?"
Benci sekali Rambo mendengar ini, bahkan ibunya sendiri lebih mementingkan status sosialnya dibanding kebahagiaan anaknya sendiri. Rambi tidak sanggup menjawab lagi, keputusasaan terhadap Ibunya jauh melebihi daripada kepada Erin. Ibunya itu lalu seakan melunak dan memegang bahu Rambo.
"Coba kamu berhenti jadi polisi, lanjutkan saja perusahaan keluarga. Ibu yakin kalau kamu punya harta dan jabatan tinggi, pasti Erin tak akan kerepotan." Kata Ibu Amy.
"Bu, aku kan sudah mengatakan, aku dan Erin itu sudah bercerai. Aku bisa mengejar kebahagiaanku sendiri, dan di kepolisian aku punya jabatan kok, gajiku juga lebih dari cukup."
"Kamu ini ngomong apa sih? Apa sih yang sebenarnya ada di kepalamu, hah!?" Jawab Ibu Amy sambil memukul kepala Rambo, tapi yang sakit justru bagian kecil di dalam dadanya. "Kamu sudah tidak mau dengarkan kata-kata Ibumu lagi? Kamu sudah durhaka dua kali, kepada istrimu dan kepada ibumu.
"Bu.. " bujuk Rambo lagi, kali ini dengan nada lebih baik.
__ADS_1
"Apa kamu sudah sadar? Ibu susah-susah cari perempuan yang setara dengan keluarga kita agar pantas, kamu mau kan kembali rujuk dengan Erin?" tanya Ibu Amy.
"Tidak, Bu. Beribu maaf tapi aku sudah tak mau kembali dengannya." jawab Rambo.
"Kalau begitu untuk apa kamu datang ke rumah ini dan berbicara pada Ibu? Kamu anak durhaka, menyenangkan orangtuamu saja tidak mau. Ini Ibumu sendiri yang memohon kepadamu untuk kembali kepada Erin. Ibu susah payah mencari pasangan yang sempurna untukmu, ibu jauh lebih pintar cari mantu, bukan seperti kamu malah cari perempuan jalanan, miskin tidak punya pendidikan, asal usul tidak jelas." Suara Ibu Amy mulai terdengar tidak sabar. Rambo pun sepertinya sudah mencapai titik kesabarannya yang terujung.
"Cukup bu! jangan pernah merendahkan orang lain. Justru kalau aku boleh jujur, perempuan itu jauh lebih baik daripada Erin yang ibu pilih."
"Kurang ajar!" Ibu Amy semakin meninggi. Ia bangkit dari sofa dan menghardik Rambo bahkan sampai mengacungkan telunjuk, menunjuk muka. Rambo. "Kamu durhaka sama Ibumu karena kamu tidak mau balas budi sama Ibumu sendiri! Kamu masuk neraka! Ibu tidak minta apa-apa sama kamu, tidak minta uang atau apa, Ibu hanya mau kamu balik sama istrimu dan perbaiki rumah tangga kalian! Tunjukkan bahwa anak-anak Ibu sukses semuanya! Cuma itu yang Ibu minta Rambo!"
"Aku tidak berhutang apapun pada Ibu!" Kata Rambo. "Ibu lebih suka lihat anaknya direndahkan daripada nama Ibu tercoreng?"
"Kalau cuma itu pilihannya, Ibu memilih tidak lahirkan anak, setidaknya itu lebih terhormat! dibanding membesarkannya malah jadi pembangkang."
Tidak tahan, Rambo akhirnya langsung pergi ke kamar, sementara Ibu Amy menjerit-jerit menyumpahinya dan memukul-mukul pintu kamar Rambo membabi buta seperti orang gila. Rambo segera mengumpulkan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper. Tidak lama ia membuka pintu, Ibunya masih dengan mata penuh amarah dan air mata siap untuk memarahinya lagi.
"Jika aku harus masuk neraka karena durhaka, silahkan, aku pun sudah hidup di neraka selama ini, tapi setidaknya setelah ini aku masih punya sisa hidup untuk aku perjuangkan. Kalau Ibu mau menyumpahiku sekarang juga silahkan," kata Rambo dingin kepada Ibunya sambil menunggu reaksi Ibunya itu.
Beberapa menit berlalu tanpa ada reaksi apa pun, Rambo pun menyeret kopernya dan keluar dari rumah. Dengan pandangan buram dan sakit hati yang tidak terkira, aku menghidupkan mobil. Rambo meyakini ini adalah terakhir kali ia akan menginjakkan kaki di rumah Ibunya sendiri.
Setelah ini ia akan menghadapi semua dengan berani dan tidak akan mundur untuk memperjuangkan kebebasan dari takdir pilihan yang jahat dan orang tua yang tega menjadikan anaknya sekadar bahan pameran belaka. Apa pun yang terjadi, ia tak akan putus asa pada harapannya, Marwah.
...****************...
Assalamu'alaikum author sanskeh di sini 🙋
__ADS_1
Sampai di BAB 40, author ucapkan Terima kasih untuk semua dukungan kakak-kakak sekalian. Semoga bisa menghibur ya Kak! xixi... Jangan lupa kasih like untuk om gondrong yak terutama di bab 39 dan 40 ╥﹏╥, dukungan dari kalian adalah penyemangat terbesar bagi author dan Om gondrong di tengah-tengah r3tensi yang meresahkan ini. Terima kasih zeyeng, LOVE KALIAN BANYAK-BANYAK ಥ_ಥ